Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

22 April 2015

TIGA KIAT BAHAGIA DARI NABI ‘ISA ‘ALAIHIS SALAM

Jika ditanyakan “Apakah cara yang harus ditempuh untuk menggapai bahagia?”, tentu akan muncul banyak jawaban. Perbedaan jawaban berasal dari perbedaan sudut pandang masing-masing, sesuai dengan kecenderungan dan gaya hidupnya.
Menurut Nabi ‘Isa ‘Alaihis Salam, seseorang dikatakan harus merasakan bahagia jika dia sudah melakukan tiga hal ini.

14 September 2014

METODE HIKMAH, MAU’IZHAH HASANAH DAN JIDALAH SEBAGAI METODE PENDIDIKAN (Analisisis Tafsir Qur’an Surat An-Nahl Ayat 125)

Oleh :
Indra Kurniawan
Imas Kania Rahman


Abstrak
Dalam sebuah sya’ir dikatakan “al-thariqatu ahammu min al-mâddah,” maksudnya adalah metode itu “dianggap” lebih penting dari pada penguasaan materi. Rasionalisasi dari pernyataan tersebut adalah apabila seorang pendidik menguasai banyak materi namun tidak memahami bagaimana materi tersebut bisa disampaikan dengan baik kepada peserta didik (tidak menguasai metode), maka proses transformasi pengetahuan sulit tercapai. Sebaliknya apabila seorang pendidik hanya menguasai sejumlah atau sedikit materi, tetapi menguasai berbagai macam metode pendidikan, maka dimungkinkan peserta didik akan mampu memahami materi yang ingin disampaikan dalam proses pendidikan.

21 Maret 2013

Problematika Remaja


Bagaimana Islam Memandang Remaja

ü  Remaja itu Kuat
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ
Dialah Allah SWT yang menciptakan kamu dari Keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah Keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.” (QS Ar-ruum 54)

9 November 2012

KETIKA VIRUS SUNYI MENYAPA



Hati-hati dengan kesepian. Inilah salah satu penyakit yang mampu menggerogoti semangat berkarya, beramal dan berdakwah. Dulu banyak kaum berilmu yang menyepikan diri dengan pergaulan bersama umat karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah SWT. Mereka berkonsentrasi menjual dirinya pada Allah semata. Tidak mau disibukkan dengan aktivitas lain yang akan mengganggu konsentrasi ibadahnya.

30 Oktober 2012

Hidup Bukan Sekedar Identitas



Seberapapun hebatnya seseorang bila ia lupa pada dirinya (fitrahnya) dia tidak akan menjadi siapa-siapa. Ibarat ketika ujian sekolah, walaupun isinya benar semua dan yakin 100% benar semua jika tidak dituliskan identitas diri seperti nomor identitas dan nama karena lupa atau disengaja oleh peserta ujian maka tetap panitia menganggapnya tidak ada dan tidak pernah mengikuti ujian.

9 September 2012

Shuna’ul Hadhoroh, Para Pencipta Peradaban



Ada perbedaan yang mencolok antara masa kepemimpinan Abu Bakar dan Umar dengan penerus kekhalifahan setelahnya. Bersama Sang Rasul, kedua manusia sejarah itu membangun fondasi negara Islam yang kokoh. Teritori yang luas dan utuh, ideologi dan sistem kenegaraan yang komprehensif dan integral, militer yang kuat, berwibawa dan ekspansif, etika sosial yang luhur, kultur kekuasaan yang zuhud di tengah kemelimpahan. Adapun setelahnya hanya memenuhi beberapa atau salah satu dari keunggulan-keunggulan tadi.

26 Agustus 2012

Manusia Pagi


Istilah ini menarik: Rijaalul Fajri, lelaki pagi, lelaki yang menghidupkan waktu pagi. Meskipun menggunakan kata ‘Rijaal’, ini tidak menunjukan hanya untuk laki-laki, tapi juga perempuan. Sebagaimana ayat-ayat dalam Quran, banyak yang menggunakan bahasa mudzakkar (laki-laki), tapi ditujukan secara umum untuk laki-laki dan perempuan. Jadi, rijaalul fajri menjadi lebih tepat diartikan dengan ‘manusia pagi’.

24 Agustus 2012

Mengagendakan Kemajuan Pendidikan Nasional


Pernahkah mendengar bahwa “pendidikan bermutu itu mahal”? Ya, banyak orang yang terjebak pada persepsi yang demikian. Padahal selayaknya dana pemerintah melalui APBN yang mencapai ratusan triliun rupiah, Indonesia harusnya cukup mampu mengadakan pendidikan yang berkualitas dan merata. Karena pada dasarnya pemerintah lah yang berkewajiban menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan yang berkualitas.

14 Agustus 2012

Kokohkan Pondasimu, Mahasiswa Baru!


“Barangsiapa ingin membuat bangunan yang tinggi menjulang maka dia harus mengokohkan pondasinya, membuat dengan tepat serta memperhatikan betul-betul kekuatannya. Karena sesungguhnya bangunan yang tinggi butuh pondasi kuat dan kokoh. Amal perbuatan serta derajat kemuliaan manusia adalah sebuah bangunan sedangkan pondasinya adalah iman.”. (kitab Al Fawaid, Tahqiq Syaikh Salim bin ‘Id Al Hilaly, cetakan Maktabah Ar Rusyd, hal 229)

4 Agustus 2012

Ramadhan di Negeri Hitler… Sebuah Dialog yang Berkesan



Seperti biasa, hari ini (24/07) aku bekerja di laboratorium pada sebuah Universitas ternama di Jerman untuk menyelesaikan riset PhD ku. Hal yang sedikit berbeda adalah cuaca hari ini cukup panas dan terik di musim summer dan aku dalam keadaan berpuasa di bulan suci Ramadhan. Tanpa sengaja aku mencurigai seorang teman asal Jerman yang sehari-hari bekerja bersama di laboratorium itu seperti mengamati gerak-gerikku sejak tadi. Seolah melihat orang asing, dia mengamatiku yang sedang bekerja seperti layaknya anggota inteligen atau anggota telik sandi yang sedang bertugas memata-mataiku. Karena sedang asyik dengan pekerjaanku, hal itu aku biarkan saja. Akhirnya si bule Jerman ini pun datang menghampiriku dan terjadilah dialog yang berkesan itu;
Jerman: Ichsan, saya dengar kamu sedang Ramadhan ya?
Aku: Iya, sahutku sambil terus bekerja
Jerman: Dan kamu berpuasa hari ini?
Aku: Iya tentu saja, jawabku
Jerman: Tidak boleh makan dan tidak boleh minum di musim panas seperti ini?
Aku: Betul, dan kami melakukannya sejak pukul 03.00 malam hingga 21.30 selama sebulan penuh.
Jerman: Oh… tidak, jadi kamu tidak makan dan minum selama 18 jam? Tidak makan oke lah tapi kalau tidak minum selama itu tidaklah mungkin, dalam cuaca panas seperti ini tanpa minum 18 jam?? Ayolah Ichsan, itu tidak masuk akal!
Aku:  Iya aku setuju, bagi kamu tentu tidak masuk akal karena kamu tidak beriman kepada Allah Tuhan kami, kamu tidak meyakininya. Saya yakin kalau kamu yang melakukannya hari ini, dalam cuaca panas seperti ini, mungkin kamu sudah pingsan, hehe. Tapi bagi kami tidak, kami meyakininya. Lebih jauh lagi kami mengimaninya dengan sangat kuat sebagai satu perintah dari Tuhan kami sehingga kami tidak merasa berat untuk melaksanakannya.
Kamu percaya tidak? kami malah merasa senang ketika Ramadhan tiba, bahkan sebagian kami menyambutnya dengan perayaan kecil di rumah masing-masing bersama keluarga mereka.
Jerman: Gembira karena akan lapar dan haus? 18 jam?? Itu tidak masuk akal Ichsan.
Aku: Iya, tidak masuk akal bagi kamu. Tapi bagi kami puasa di bulan Ramadhan itu adalah kebutuhan. Kami merindukan kehadirannya setiap tahun.
Jerman: Kebutuhan?? Kamu jangan bercanda, kebutuhan manusia itu makan dan minum, bukan lapar dan haus, itu tidak terbantahkan.
Aku: Justru di situlah letak kesempurnaan agama kami, Islam tidak hanya mengajarkan pemenuhan kebutuhan fisik seperti makan dan minum saja tapi juga pemenuhan kebutuhan jiwa, kebutuhan spiritual dan semua sepakat bahwa pemenuhan kebutuhan jiwa itu sangatlah penting. Ini yang tidak terbantahkan, bukan begitu??
Jerman: Iya kamu benar, tapi tidak menyiksa diri di musim panas yang siangnya sangat lama seperti ini.
Aku: Allah Tuhan kami tidak hanya memerintahkan puasa tapi juga memerintahkan kami makan dan minum yang cukup. Kamu lihat, dalam setahun ada 12 bulan dan kami hanya diperintahkan berpuasa satu bulan saja sementara yang 11 bulan lagi kami boleh makan dan minum. Kami tidak diperintahkan puasa sepanjang tahun, iya kan? Atau 6 bulan puasa dan 6 bulan tidak puasa. Tidak, hanya satu bulan saja dan itu hanya di siang hari saja. Jadi kamu lihat betapa sayangnya Tuhan kami kepada kami dan lagipula Ramadhan itu adalah sebuah hadiah untuk kami sebagai wujud cinta antara kami dan Tuhan kami.
Jerman: Aku tidak mengerti Ichsan
Aku: Tentu saja, itu karena kamu tidak beriman kepada Tuhan kami, kamu tahu bahwa aku bisa saja diam-diam makan atau minum kapan saja tanpa ada orang yang melihat? Apalagi di Jerman seperti ini di mana orang semua makan dan minum leluasa di depanku saat siang hari. Tapi aku tidak akan pernah melakukannya, kamu tahu kenapa? Karena keimanan dan keyakinanku pada Tuhanku.
Jerman: Bagaimana dengan anak-anak? Apa anak-anakmu juga berpuasa?
Aku: Anak-anak tentu mendapatkan keringanan, anakku yang pertama berumur 7 tahun, dia sudah kami latih untuk berpuasa. Dia tidak kami paksa untuk tidak makan dan minum tapi kami latih dan beri pemahaman bahwa puasa itu adalah perintah dari Tuhan kami dan puasa itu baik dan sehat untuknya. Kami punya waktu untuk melatih dan mengajari mereka untuk berpuasa mulai umur 7 hingga 10 tahun. Dan itu adalah waktu yang cukup bila digunakan dengan baik oleh kedua orang tuannya. Nanti ketika sudah berumur 10 tahun mereka sendiri yang akan meminta untuk berpuasa, shalat ataupun ibadah yang lain. Jadi tidak perlu disuruh lagi.
Jerman: Begitu cara kalian mendidik mereka, apakah itu berhasil?
Aku: Terus terang dalam hal ini tidak semua orang tua berhasil, tapi kami selalu berusaha kearah sana.
Aku: Sebagai contoh, hari ini dalam cuaca yang panas ini aku berpuasa sejak jam 3 malam tadi,  tapi apakah kamu melihat aku seperti orang yang kehausan atau lapar??
Jerman: Itu dia, dari tadi aku mengamati kamu bekerja, tapi aku heran kamu tampak seperti biasa, tidak tampak kehausan, tidak kelihatan lemas atau lesu sedikit pun, makanya tadi aku bertanya apakah kamu berpuasa.
Aku: Iya, itulah arti penjelasanku tadi, saat hari pertama dan kedua Ramadhan memang agak sedikit terasa karena kalau di Indonesia kami hanya berpuasa 13 jam jadi butuh penyesuaian tapi kemudian sudah terbiasa. Inilah yang aku sebut tadi dengan keimanan. Ini sudah jam 4 sore tapi aku tidak merasa haus atau lapar sedikit pun karena setiap malam sebelum berpuasa kami berniat untuk berpuasa karena Allah Tuhan kami, jadi itulah yang membuat kami kuat.
Dan dia pun berlalu melanjutkan kerjanya, entah dia mengerti atau tidak penjelasanku tapi yang jelas aku sudah menyampaikan apa yang aku pahami tentang hal yang ditanyakan itu. Siapa tahu suatu hari nanti Allah SWT memberinya hidayah lalu dia beriman kepada Allah, maka tentu dia akan dengan mudah memahami dan mengerti penjelasanku yang kuberikan tadi.
Wallahu’alam


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/08/22068/ramadhan-di-negeri-hitler-sebuah-dialog-yang-berkesan/#ixzz22WyphaIe

30 Juli 2012

Kehidupan Adalah Guru


SAYA sangat percaya jika Anda pernah mendengar ungkapan ini: Kehidupan adalah guru.Ya, kehidupan ini sesungguhnya guru yang selalu mengajarkan banyak ilmu, hikmah juga pengalaman. Perjalanan hidup seseorang, siapa pun dia, sangat ditentukan oleh pemahaman dan lakonnya dalam kehidupan ini. Itulah gurunya.
Setiap orang tentu memiliki alur hidupnya masing-masing. Apakah terencana atau tidak, semuanya memiliki jalan hidupnya. Itulah kenyataan hidup yang terpampang nyata dalam kehidupan ini. Bagi mereka yang memiliki rencana hidup yang jelas tentu menjalani kehidupannya secara teratur, sedangkan mereka yang hidup asal hidup menjalani kehidupannya begitu adanya saja. Keduanya memperoleh hasil yang tentu saja berbeda.
“Mereka yang memiliki rencana hidup akan memperoleh hasil yang maksimal juga memuaskan, apa pun bentuknya. Mereka siap menerima apa pun hasil dari rencana hidup yang mereka susun. Sebaliknya, mereka yang asal hidup akan frustasi dengan kehidupannya. Apa yang mereka peroleh dirasa seperti hukuman yang kadang membuat mereka bertambah gersang dan bingung menjalani kehidupan.”
 Sebagai awalan, saya ingin berbagi cerita. Sejak SMP hingga kuliah saya tidak hidup bersama orangtua juga keluarga saya. Karenanya tak sedikit tantangan dan kendala hidup yang saya hadapi. Dalam mengarungi kehidupan yang kaya tantangan tersebut, tak sedikit pengalaman yang saya dapatkan. Saya semakin tertantang untuk banyak belajar mandiri. Bahkan saya juga terinspirasi untuk belajar di luar sarana pendidikan formal. Belajar bagaimana melakoni kehidupan, bagaimana menjadi seorang yang tahan banting dan berbagai hal yang bermakna belajar.
Dari pengalaman belasan tahun tersebut, saya terpahamkan bahwa sekolah atau universitas memang tempat menuntut ilmu atau orang mengenalnya sebagai gudang ilmu. Sekolah, universitas atau sarana sejenisnya bisa membentuk kepribadian siapa pun menjadi kuat dan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia. Selain itu, sarana-sarana tersebut juga mampu menaikan derajat seseorang, mengingkatkan keahlian, prestasi dan status sosial.
Namun, itu tak cukup. Saya termasuk yang menyaksikan betapa perkembangan dan perubahan zaman telah mendistorsi beberapa manfaat sarana formal tersebut. Bahkan pada kasus tertentu pendidikan formal tidak memberi apa-apa dan tak bermanfaat apa-apa jika seseorang menjalani kehidupan ini hanya berpegang pada sarana-sarana formal yang sering hanya formalitas.
Ada banyak orang yang sibuk mencari gelar atau titel demi mendapatkan penghargaan dan penghormatan dengan segala cara yang kadang tidak halal. Namun apa yang mereka peroleh adalah kenestapaan. Betul mereka mendapatkan apa yang mereka kejar, tapi tak sedikit di antara mereka yang hanya mendapatkan simbol-simbol yang tak bermanfaat bagi kehidupan mereka. Bahkan kadang mereka menjadi orang yang “bodoh” dan “ngawur” menghadapi kehidupan nyata.
Dari situ, saya tersadarkan bahwa ujian sesungguhnya ada dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan nyata dimana dinamika kehidupan terjadi, bukan sekadar ujian dalam jalur pendidikan formal. Pada situasi zaman yang terus berubah ini, manusia tidak lagi hanya dituntut belajar secara teori melainkan dengan parktik nyata. Terlepas dari apakah sarana-sarana pendidikan itu penting atau tidak, relevansinya dalam kehidupan tidak terlalu mampu mengubah manusia ke arah yang lebih baik, apalagi manusia sudah tak memiliki rencana dan prinsip hidup.
 “Sadarlah bahwa yang mengubah kehidupan ini sesungguhnya adalah kemampuan manusia berkompetesi dalam perjuangan hidup dalam kehidupan nyata. Hidup tidak lagi sekadar mengikuti anjuran, tidak lagi berdasarkan rumusan kaku, tapi mesti diujicoba dalam kehidupan nyata.”
 Sahabat dahsyat! Masa kini lebih fleksibel, lebih berdinamika dan lebih menantang. Ingat bahwa dunia ini telah maju lebih cepat ketimbang 50 tahun sebelumnya. Sekarang seorang anak kecil saja sudah amat akrab dengan internet, HP, laptop dan semacamnya. Perubahan telah mengajak kita ke sebuah dimensi ruang-waktu yang nyaris tanpa batas. Waktu sudah dihitung 24 jam sehari—tujuh hari sepekan.
Waktu berlalu begitu cepat dengan dimensi dunia tanpa batas yang ditunjukkan oleh perkembangan teknologi, terutama internet. Surat dari Indonesia bisa diterima dalam hitungan detik di Eropa, Mesir dan lain-lain. Apa yang terjadi di luar angkasa sana dapat diketahui secara cepat di dunia. Itulah kecepatan, perubahan dan kemajuan. Dunia lama telah ditinggalkan dan diganti dengan perkembangan baru.
Kehidupan nyata adalah ujian sesungguhnya dari proses perubahan menuju kehidupan, sayangnya sarana-sarana pendidikan seperti yang disebutkan di awal tidak selalu mengantisipasinya secara dini. Dengan begitu, tak sedikit orang yang memiliki banyak gelar tapi minus peran alias kosong karya. Alih-alih mendulang kinerja, mereka justru bingung dengan dirinya sendiri.
“Orang yang tak memahami apa yang tidak dia ketahui takkan pernah paham apa yang mesti dia pahami. Dengan begitu, dia pun hanya menjadi onggokan kosong yang tak memberi manfaat apa-apa untuk diri juga lingkungannya.”
Ada satu pengalaman yang sepertinya perlu saya ceritakan kepada Anda. Setelah—bahkan ketika—menuntaskan studi di berbagai jalur atau strata pendidikan, saya mencoba untuk mencari sekaligus membuat pekerjaan untuk kebutuhan hidup saya. Selain mengajar di beberapa tempat, saya juga bekerja sebagai tim redaksi di beberapa penerbitan buku, di samping menyalurkan kesukaan saya menulis berbagai makalah, artikel dan semacamnya untuk berbagai seminar, pelatihan dan workshop di beberapa kota serta media sosial. Dari berbagai aktivitas tersebut saya mendapatkan banyak hikmah dan pelajaran yang tidak pernah saya temukan di bangku pendidikan formal.
Beberapa waktu kemudian, tepatnya pada 4 Oktober 2010, saya memilih untuk menyempurnakan kehidupan saya dengan menikah. Saya menikah dengan Mba Uum Heroyati, seorang aktivis pendidikan sekaligus pengajar di salah satu sekolah di Cirebon-Jawa Barat. Pada momentum ini saya mendapatkan begitu banyak hal yang nyaris tak terlupakan.
Sebelum menikah saya mengabarkan kepada keluarga akan niat saya, mengenai akad dan walimahan nikah saya kelak. Sebagai bagian dari keluarga besar saya tentu sangat membutuhkan dukungan juga bantuan keluarga, termasuk dana untuk membiayai akad dan walimahan nikah kelak.
Namun, apa yang saya dapatkan? Apa yang saya harapkan tak kunjung tiba. Kesabaran saya diuji di sini, ya sebagian nafas kehidupan saya diuji. Walau begitu, setelah mendapatkan konfirmasi, saya sadar bahwa keluarga saya pada waktu itu dalam keadaan sulit. Apalagi Ayah dan Ibu saya masih dalam proses penyembuhan.
Tak putus asa, saya pun tetap melanjutkan rencana saya. Singkat cerita, saya pun menikah tanpa kehadiran kedua orangtua dan keluarga besar saya. Untuk pembiayaan, saya ambil dari sisa uang yang saya gunakan untuk biaya kehidupan sehari-hari sebelumnya. Ya, saya membiayai acara akad dan walimahan nikah saya dari kantong saya sendiri.
Jujur, waktu itu saya sempat bertanya pada diri saya, apakah saya masih punya keluarga? Namun, pertanyaan itu hanya lewat seketika. Mengapa? Karena saya sadar bahwa kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan. Lagi-lagi, saya mesti maklum, paham dan sabar menghadapi semua ini.
Lebih jauh, saya menjadi paham bahwa kehidupan ini adalah tempat belajar sekaligus guru. Dari kehidupan nyata saya belajar mandiri, menata dan melakoni kehidupan berdasarkan rencana yang telah saya susun sejak lama. Tak ada yang perlu dipungkiri bahwa pada episode kehidupan ini selalu dan mesti ada kendala dan tantangan hidup. Ya, saya sadar bahwa hanya mereka yang berani mengarungi tantangan hidup saja yang bisa bertahan dalam hidup, selebihnya hanya akan menjadi pemangsa kehidupannya.
“Manusia hidup bukanlah mereka yang hanya bisa bernafas, tapi mereka yang berani melakukan sesuatu dan mampu mengambil hikmah dari seluruh kejadian, peristiwa dan tantangan hidup yang mereka lalui.”
Selama menjalani kehidupan di Bandung, saya menyaksikan tak sedikit sahabat-sahabat saya yang mandiri dalam hidup. Mereka begitu sukses melakoni kehidupan dengan rencana yang matang. Uniknya, tak sedikit di antara mereka yang sukses dalam karir pendidikannya karena usaha sendiri. Ada yang mendirikan penerbitan, menjadi pedagang buku dan baju kaos, menjual bakso, dan beberapa jenis aktivitas yang sedikit-banyak telah membantu mereka dalam menjalani kehidupan—termasuk membiayai kuliah mereka.
Yang tak kalah dahsyatnya, di antara mereka ada yang menjual pulsa, mengajar, mendirikan lembaga pelatihan, menjaga warnet dan menjadi karyawan rentalan komputer. Uang hasil usaha dan aktivitas ini mereka gunakan untuk kehidupan sehari-hari mereka, untuk biaya kuliah juga untuk berbagai aktivitas sosial seperti membantu yayasan yatim piatu, anak-anak berekonomi lemah dan lain-lain.
Untuk siapa pun Anda, saya ingin berbagi kepada Anda. Baca dan renungi pernyataan berikut ini:
“Mari melakukan penyadaran ulang untuk mengetahui bahwa dunia ini telah berubah dan berkembang. Zaman sekarang semuanya tidak bisa dilihat hanya sebelah mata, tidak bisa dilakoni tanpa tujuan yang jelas. Perubahan zaman dan pola hidup telah membawa manusia berada pada tingkatan hidup yang lebih makmur, tentu dengan berbagai tuntutannya. Perkembangan zaman telah memaksa manusia sehingga mau tidak mau mesti terlibat di dalamnya bahkan harus menjadi pelaku utamanya.”

            Sahabat dahsyat! Berubah adalah bertumbuh. Bertumbuh adalah berkembang. Bertumbuh adalah berjalan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna bagi diri sendiri dan orang lain, lebih memberi makna untuk keberhasilan atau kesuksesan kehidupan. Ruang-ruang itulah yang biasanya kosong dalam kehidupan manusia, sehingga tak sedikit oarng yang tidak melihat dan enggan memahami esensi perubahan dalam kehidupan yang sesungguhnya.
            Persoalan lain adalah, tak sedikit orang yang tidak mengetahui di bagian mana kehidupannya yang harus dirubah, pada sisi mana dia harus tumbuh. Minimnya kesadaran akan perubahan telah menjadi sebuah dilema kehidupan yang mengakar dan membudaya sehingga jangankan mengubah sebuah negara, dirinya sendiri belum bisa.
            Siapa pun Anda, saat ini adalah kesempatan terbaik untuk mengetahui di bagian mana dari kehidupan Anda yang mesti Anda ketahui, dengan demikian kekurangan dan kelemahan diri Anda bisa diketahui. Selanjutnya, akan dengan mudah bagi Anda untuk memperbaikinya, melakukan perubahan yang mendasar bagi kehidupan Anda. Berikutnya akan mudah bagi Anda untuk mendeklarasikan bahwa diri bahwa Anda telah berubah dan bersiap sedia melakoni kehidupan ini secara maksmial.
“Kehidupan ini selalu memberi banyak kenangan yang sulit dilupakan. Ada banyak cerita dan pengalaman yang membuatnya menjadi lebih indah. Mereka yang sukses memahami kehidupan sebagai perjalanan yang mesti dilakoni dengan kesungguhan adalah di antara pemenang. Sebab merekalah yang bersedia menjadi murid atau siswa terbaik bagi kehidupannya. Karena mereka sadar bahwa kehidupan ini adalah guru.”
Akhir kata, tanpa bermaksud menggurui Anda, saya ingin mengingatkan bahwa apa pun profesi Anda, di mana pun Anda bekerja serta apa pun jabatan Anda, percayalah bahwa kehidupan ini adalah guru paling bijak. Tempat belajar yang selalu terbuka dan gratis bagi siapa pun yang ingin belajar sepanjang masa. Mari menjadi murid atau siswa terbaik baginya, semoga dengan begitu kehidupan ini semakin bermakna dan indah untuk dikenang!

29 Juli 2012

Kepompong Ramadhan



"Semua amal anak Adam dapat dicampuri kepentingan hawa nafsu kecuali shaum. Maka sesungguh shaum itu semata-mata untuk-Ku dan Aku sendiri yg akan membalas"
{Hr. Bukhari Muslim}

Pernahkan Anda melihat seekor ulat bulu? Bagi kebanyakan orang ulat burlu memang menjijikkan bahkan menakutkan. Tapi tahukah Anda kalau masa hidup seekor ulat ini ternyata tak lama. Pada saat nanti ia akan mengalami fase dimana ia harus masulk ke dalam kepompong selama beberapa hari. Setelah itu ia pun akan keluar dalam wujud lain : ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu yg sangat indah. Jika sudah berbentuk demikian siapa yg tak menyukai kupu-kupu dgn sayap yg beraneka hiasan indah alami? Sebagian orang bahkan mungkin mencari dan kemudian mengoleksi bagi sebagai hobi ataupun utk keperluan ilmu pengetahuan.

Semua proses itu memperlihatkan tanda-tanda Kemahabesaran Allah. Menandakan betapa teramat mudah bagi Allah Azza wa Jalla mengubah segala sesuatu dari hal yg menjijikkan buruk dan tak disukai menjadi sesuatu yg indah dan membuat orang senang memandangnya. Semua itu berjalan melalui suatu proses perubahan yang sudah diatur dan aturan pun ditentukan oleh Allah baik dalam bentuk aturan atau hukum alam maupun berdasarkan hukum yg disyariatkan kepada manusia yakin Al Qur’an dan Al Hadits.

Jika proses metamorfosa pada ulat ini diterjemahkan ke dalam kehidupan manusia maka saat dimana manusia dapat menjelma menjadi insan yg jauh lbh indah momen yg paling tepat utk terlahir kemabli adl ketika memasuki Ramadhan. Bila kita masuk ke dalam ‘kepompong’ Ramadhan lalu segala aktivitas kita cocok dgn ketentuan-ketentuan “metamorfosa” dari Allah niscaya akan mendapatkan hasil yang mencengangkan yakni manusia yg berderajat muttaqin yg memiliki akhlak yang indah dan mempesona.
Inti dari badah Ramadhan ternyata adl melatih diri agar kita dapat menguasai hawa nafsu. Allah SWT berfirman “Dan adapun orang-orang yg takut kepada kebesaran Tuhan dan menahan diri dari keinginan hawa nafsu maka sesungguh syurgalah tempat tinggalnya.”

Selama ini mungkin kita merasa kesulitan dalam mengendalikan hawa nafsu. Kenapa? Karena selama ini pada diri kita terdapat pelatihan lain yg ikut membina hawa nafsu kita ke arah yang tak disukai Allah. Siapakah pelatih itu? Dialah syetan laknatullah yg sangat aktif mengarahkan hawa nafsu kita. Akan tetapi memang itulah tugas syetan. apalagi seperti hal hawa nafsu syetan pun memiliki dimensi yg sama dengan hawa nafsu yakni kedua-dua sama-sama tak terlihat. 

“Sesungguh syetan itu adl musuh yg nyata bagimu maka anggaplah ia sebagai musuhmu karena syetan itu hanya mengajak golongan supaya menjadi penghuni neraka yg menyala-nyala”
{QS. Al Fathir (25) : 6}

Akan tetapi kita bersyukur krn pada bulan Ramadhan ini Allah mengikat erat syetan terkutuk sehingga kita diberi kesempatan sepenuh utk bisa melatih diri mengendalikan hawa nafsu kita. Karena kesempatan seperti ini tak boleh kita sia-siakan. Ibadah shaum kita harus ditingkatkan. Tidak hanya shaum atau menahan diri dari hawa nafsu perut dan seksual saja akan tetapi juga semua anggota badan kita lain agar mau melaksanakan amalan yg disukai Allah. Jika hawa nafsu sudah bisa kita kendalikan maka ketika syetan dipelas kembali mereka sudah tunduk pada keinginan kita. Dengan demikian hidup kita pun sepenuh dapat dijalani dengan hawa nafsu yg berada dalam keridhaan-Nya. Inilah pangkal kebahagiaan dunia akhirat. Hal lain yg paling utama harus kita jaga juga dalam bulan yg sarat dgn berkah ini adl akhlak. Barang siapa membaguskan akhlak pada bulan Ramadhan Allah akan menyelamatkan dia tatkala melewati shirah di mana banyak kaki tergelincir demikianlah sabda Rasulullah SAW.

Pada bulan Ramadhan ini kita dianggap sebagai tamu Allah. Dan sebagai tuan rumah Allah sangat mengetahui bagaimana cara memperlakukan tamu-tamu dgn baik. Akan tetapi sesungguh Allah hanya akan memperlakukan kita dgn baik jika kita tahu adab dan bagaimana berakhlak sebagai tamu-Nya. Salah satu yakni dgn menjaga shaum kita sesempurna mungkin. Tidak hanya sekedar menahan lapar dan dahaga belaka tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh kita ikut shaum.

Mari kita perbaiki segala kekurangan dan kelalaian akhlak kita sebagai tamu Allah krn tak mustahil Ramadhan tahun ini merupakan Ramadhan terakhir yg dijalani hidup kita jangan sampai disia-siakan.
Semoga Allah Yang Maha Menyaksikan senantiasa melimpahkan inayah-Nya sehingga setelah ‘kepompong’ Ramadhan ini kita masuki kita kembali pada ke-fitri-an bagaikan bayi yg baru lahir. Sebagaimana seekor ulat bulu yg keluar menjadi seekor kupu-kupu yg teramat indah dan mempesona amiin.

Sumber: Rahmat

Seputar Hadits Doa Buka Puasa yang Shahih



Doa puasa yang sering kita dengar bahkan mungkin juga sering kita baca, adalah:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ ، ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Ya Allah, untuk Mu aku puasa, kepada Mu aku beriman, dan dengan rezeki Mu aku berbuka. Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”
Catatan
Doa buka puasa yang masyhur ini adalah gabungan dari dua hadits, yaitu:

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

dan,

 ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Adapun kalimat “ وَبِكَ آمَنْتُ ” adalah tambahan yang sama sekali tidak ada dasarnya, meski maknanya bagus.
Hadits Pertama
Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buka puasa, beliau berdoa,

اللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ

“Ya Allah, untuk Mu aku puasa, dan dengan rezeki Mu aku berbuka.”
Takhrij
Hadits ini diriwayatkan Imam Ath Thabarani dalam Al Ausath (7762) dan Abu Nu’aim dalam Akhbar Ashbahan (1756)  dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu.
Ibnu Abi Syaibah (109/1) dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu.
Abu Dawud (2011), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (3747), Al Baghawi (1761), Adh Dhabbi dalam Ad Du’a` (67), dan Ibnul Mubarak dalam Az Zuhd (1390); dari Mu’adz bin Zuhrah At Tabi’i.
Ibnu Sa’ad dalam Ath Thabaqat Al Kubra pada biografi Abul Ahwash dari Ar Rabi’ bin Khutsaim At Tabi’i.
Derajat Hadits: Dha’if
Al Haitsami berkata,”Diriwayatkan Ath Thabarani dalam Al Ausath. Di dalam sanadnya ada Dawud bin Az Zibriqan. Dia adalah dha’if.”[1]
Imam An Nawawi berkata, “Demikian diriwayatkan secara mursal.”[2]
Al Burhanfuri dalam Kanzu Al ‘Ummal (18056), “Hadits mursal.”
Ar Rafi’i berkata tentang hadits Abu Dawud, “Dia adalah hadits mursal.” Dan tentang hadits Ath Thabarani, “Sanadnya lemah. Di dalamnya terdapat Dawud bin Az Zibriqan, dia itu matruk (ditinggalkan).”[3]
Al Albani mendha’ifkan hadits ini dalam Dha’if Sunan Abi Dawud (2358) dan Dha’if Al Jami’ Ash Shaghir(9831).
Catatan
Ibnul Mulaqqin berkata, “Hadits ini diriwayatkan Abu Dawud dengan sanad hasan (bagus) tetapi mursal. Mu’adz bin Zuhrah adalah seorang tabi’in.”[4]
Al Albani menghasankan hadits ini dalam Misykat Al Mashabih (1994).
Syaikh Abdul Qadir Al Arna`uth berkata, “Mursal, namun ia mempunyai syawahid (beberapa penguat) yang menguatkannya.”[5]
*   *   *
Hadits Kedua
Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma mengatakan, jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam buka puasa, beliau membaca:

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

“Hilanglah rasa dahaga, tenggorokan pun basah, dan sudah pasti berpahala jika Allah menghendaki.”
Takhrij
Hadits ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Al Husain dari Al Husain bin Waqid dari Marwan bin Salim Al Muqaffa’ dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.[6]
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam An Nasa`i dalam As Sunan Al Kubra (3329), Al Baihaqi dalamSyu’ab Al Iman (3748), Ad Daraquthni (2302), Al Hakim (1484), Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al Yaum wa Al Lailah (477), dan Ibnu Abi Ad Dunia (29); juga dari Ibnu Umar.
Derajat Hadits: Hasan
Al Hakim (1484) berkata, “Ini adalah hadits shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim.”
Al Albani menghasankan hadits ini dalam Mukhtashar Irwa` Al Ghalil (920), Misykat Al Mashabih(1993), Shahih Sunan Abi Dawud (2357), dan Shahih Al Jami’ Ash Shaghir (8807).
*   *   *
Kesimpulan
Doa buka puasa pada hadits pertama, meski ada yang mendha’ifkan, namun juga ada yang menghasankan. Artinya, derajat kedha’ifannya tidaklah “terlalu.”
Sebaiknya doa buka puasa yang dibaca cukup hadits yang kedua saja. Selain lebih ringkas, ialah yang paling shahih di antara hadits hadits doa buka puasa yang lain.
Jika hendak menggabungkan doa buka puasa, sebaiknya tidak menyertakan kalimat “ وَبِكَ آمَنْتُ ”, karena ia hanyalah tambahan dan tidak termasuk dalam hadits doa buka puasa ini. Wallahu a’lam bish shawab.
_______________________________
[1] Ma’jma’ Az Zawa`id (4892).
[2] Al Adzkar (545).
[3] At Talkhish Al Habir (912).
[4] Khulashatu Al Badr Al Munir (1126).
[5] Raudhatu Al Muhadditsin (4729).
[6] Sunan Abi Dawud, Kitab Ash Shaum, Bab Al Qaul ‘Inda Al Ifthar, hadits nomor 2010.
Sumber: Fimadani

23 Juli 2012

Bermimpi Dengan Cinta


“Aku bukan pemimpi yang terjamah dalam lakon empuknya kasur di etalase malam atau pun nikmatnya hegemoni bantal berlatar siang. Aku bukan pula pemimpi yang bersenandung dengan kidung-kidung utopis. Aku, cukuplah bagi diriku, seorang pemimpi dengan kontemplasi sebagai perigi di tengah gersang dan menjadi mata air kehidupan.

Yap! Teman-teman semua pastinya sudah sering mendengarkan kata “MIMPI” kan? Apalagi sebagai seorang mahasiswa. Tentunya banyak sekali mimpi-mimpi yang selalu membayang-bayangi untuk segera direalisasikan. Misalnya saja, tamat kuliah dengan IP tertinggi, terus kerja dan punya penghasilan sendiri, nikah sama orang yang cakep dan shalih/ah, punya anak dan seterusnya yang ngga mungkin diselesaikan kelanjutannya.

Semua itu sangat diperbolehkan dan sangat penting untuk dimiliki. Kenapa? Karena kita bermimpi untuk hidup. Bukan hidup untuk bermimpi. Manusia yang bermimpi untuk hidup, selalu berupaya mensinergikan kemampuan yang ada untuk terus bergerak menghasilkan karya dengan apa pun yang ia punya. Ia gunakan akalnya untuk selalu aktif mencari solusi dan beragam inovasi. Ia gunakan tangannya untuk selalu sigap membuahkan prestasi dan melakukan aksi. Kakinya juga tak pernah letih melangkah ke forum-forum yang bermanfaat, mencari sebanyak-banyaknya ilmu dan wawasan. Sedangkan orang yang hidup untuk bermimpi, lebih senang melewatkan waktunya bersama bunga-bunga tidur nan melenakan. Hanya mampu mengkhayal, tak mampu melaksanakan.

Sungguh sebait kata hikmah telah menyorot begitu luar biasanya mimpi dan cita-cita itu. “Cita-cita merupakan rahmat dari Allah. Kalau bukan karena cita-cita, maka seorang ibu tidak akan menyusui anaknya dan seorang petani tidak akan menanam padi.”

Namun, sebenarnya yang kerap terlupakan oleh kita, “Apakah sesungguhnya orientasi dari mimpi-mimpi yang kita miliki?” Apakah mimpi kita hanya tertaut pada gunungan harta, kemilau prestise dan mengulik celah kursi untuk menduduki jabatan yang tinggi? Ataukah kita benar-benar seorang pemimpi sejati yang menggenapkan mimpi dengan orientasi kemanfaatan bagi orang-orang di sekitar kita?

Seringkali kini, atas nama karier, kita sering terjebak dalam keegoisan bermimpi. Kita hanya bermimpi dengan orientasi pribadi. Tujuan untuk diri sendiri. Jadilah akhirnya, jalan yang kita tempuh tanpa melihat kanan kiri. Atau istilahnya, “Asal mimpiku tuntas, semua jalan akan kulibas.” Padahal, akibatnya sangat merugikan kita sendiri.

Orang yang sangat egois dalam bermimpi, kurang bahkan tidak memiliki kepekaan nurani. Mereka tidak peduli dengan hak-hak dan mimpi-mimpi yang dipunyai orang lain. Biasanya, mereka berkata: “Nanti, kalau saya sudah sukses, saya akan melakukan ini, itu, ini, itu..” Dalam artian, mereka baru akan mengerjakan hal yang bermanfaat setelah mereka berhasil memenuhi obsesi-obsesinya. Mereka tidak mengerti, ketika kelak mereka menemui kemandekan dalam berbuat atau kejatuhan dalam pencapaian yang tinggi, mereka akan terduduk dalam posisi yang amat terpuruk. Karena hakikat kesuksesan yang ada dalam benak mereka hanya sebatas tercapainya mimpi dan kepentingan pribadi.

Lain halnya dengan orang yang bermimpi dengan menyertakan orientasi kemanfaatan untuk orang lain. Tercapai, tertunda, atau tidak tercapainya sama sekali mimpi-mimpinya, mereka tetap enggan berhenti untuk berbuat dan tidak ada kata istirahat. Seorang Umar yang perkasa berkata: “Kalau saya tidur di siang hari, berarti saya mengabaikan hak-hak rakyat.”

Subhanallah, adakah kita menemukan diri kita sekuat Umar? Atau mampukah kita seperti Imam Ghazali, Buya Hamka, Pramoedya Ananta Noer yang tak redup aliran ilmunya meski terkungkung dalam bui dan menjalani siksa yang bertubi-tubi?

Sejenak sobat, marilah kita mengenali seperti apakah figure pemimpi sejati itu. Mereka adalah panglima yang memenangkan pertempuran atas nafsu dan kemalasan dan kelalaian. Sikapnya selalu menjadi keteladanan. Seluruh hidupnya adalah pengabdian dan pengabdiannya tulus tanpa harapan. Mereka yang jiwa-jiwanya kukuh meski dirundung badai gagal. Mereka yang nuraninya peka terhadap kesulitan saudaranya, lantas menolong, mencurahkan perhatian, memberikan kepastian rencanaNya, menumbuhkan bibit semangat dan gemar mencarikan solusi terbaik. Mereka yang fisiknya bebal oleh deras hujan, terik panas, dank abut asap meski mengantarkannya pada kematian. Karena mereka meyakini tak akan adalagi kebajikan yang bisa dilakukan setelah kematian.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah bertutur:
Jika manusia tahu bahwa kematian mengehentikannya dalam beraktivitas, maka ia pasti akan melakukan perbuatan dalam hidupnya yang pahalanya terus mengalir setelah mati.

Oleh karena itu saudaraku, jangan pernah lupa untuk bermimpi. Bermimpilah dengan cinta. Sematkanlah orientasi kepedulian kita kepada mereka. Seiring mimpi yang terurai, jangan lupa tautkan obsesi kemanfaatan. Karena “Sebaik-baik insan, adalah yang paling besar manfaatnya untuk orang lain.” (Muttafaq ‘alaih)

Sumber: Fimadani
Oleh: Mahdiah Maimunah, Bengkulu
Mahasiswi Ushuluddin Prodi TH
Facebook – Blog – Twitter


22 Juli 2012

Ketika Cinta Harus Memilih


Cinta..
Tumbuh merekah
Menggetarkan jiwa
Perih dan sakit segera musnah
Lelah akan terasa nikmat
Rintangan menjadi anugerah


Cinta ibarat dua sisi mata pisau yang saling berkebalikan. Di satu sisi, cinta bisa menggugah, mengubah, menghidupkan, menggelorakan, mengerahkan, dan memberikan semangat. Namun di sisi yang lain, cinta juga bisa membutakan bila tidak dipandu dengan cahaya ilmu dan dibingkai dengan iman.

Cinta merupakan ruh kehidupan dan pilar untuk selamat sebagaimana kekuatan gravitasi dapat menahan bumi dan bintang-bintang dari tabrakan dan kehancuran. Maka, cinta sejati dapat mengikat kuat dan menghasilkan energi yang mengikat manusia dari kejahatan.

Nabi SAW menegaskan, 
“Jiwa-jiwa manusia bagai bataliyon pasukan yang dikerahkan. Bisa saling kenal, maka akan terikat kuat. Bila tak saling kenal akan saling bertikai”.

Cinta mengantarkan kita pada pilihan dan jalan kehidupan. Jalan surga dihampari kesulitan yang membuat lelah, gerah, dan susah. Adapun jalan neraka dihiasi dengan keindahan syahwat, kenikmatan pangkat, kemeriahan popularitas yang menyenangkan.

Memilih Surga atau Kesembuhan?

Kisah seorang wanita yang telah memilih surga. Atha’ bin Abi Rabah berkata, Ibnu Abbas r.a. telah berkata kepadanya, “Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang perempuan ahli surga? Atha’ pun bertanya, “Bah, siapa perempuan itu?” Ibnu Abbas berkata, “Dia adalah perempuan hitam itu, ia menemui Rasulullah SAW dan mengadu bahwa ia telah terserang penyakit ayan.”

Rasulullah SAW bersabda kepada perempuan itu, “Jika engkau tahan dan sanggup bersabar maka surga bagimu, sekiranya engkau tidak tahan dan tidak sanggup bersabar aku akan mendoakan engkau supaya engkau sehat dan segar.” Perempuan itu pun menjawab “Saya tahan dan sanggup bersabar, tetapi tolonglah doakan agar tidak terbuka aurat saya”

Perempuan itu pun menang dengan pilihan cintanya. Dia mencintai surga dan mencintai pertemuan dengan Sang Kekasih sejati dan itu adalah pilihan yang paling membahagiakann untuknya.

Memilih Perang atau Malam Pertama?

Khalid bin Walid dikenal sebagai saifullah al maslulpedang Allah yang senantiasa terhunus. Waktu yang paling berkesan baginya adalah di saat berkeliling inspeksi pasukan dan melenyapkan musuh-musuh Allah.

Sesungguhnya, berada di medan jihad di malam yang gelap, dingin dan mencekam lebih aku cintai daripada bermalam pengantin dengan seorang gadis.”

Khalid bin Walid sangat senang berperang dan selalu siap siaga dengan baju perangnya. Walaupun akhirnya Khalid bin Walid wafat di atas tempat tidur dan bukan di medan tempur, namun ruh jihad tetap ada di jiwanya.

“Barangsiapa yang meminta kepada Allah syahadah ‘kesyahidan’ dengan penuh kejujuran, maka Allah akan menyampaikannya pada manzilah ‘predikat’ syuhada, meski ia mati di tempat tidurnya” (H.r. Muslim)

Memilih Roket ‘Apache’

“Kematian itu bisa disebabkan dibunuh atau karena kanker. Jika memilih antara tersiksa oleh penyakit jantung dan tewas oleh serangan helicopter Apache, saya lebih baik tewas oleh Apache” (Abdul Aziz ar-Rantissi).
Abdul Aziz ar-Rantissi adalah seorang dokter yang menggantikan Syaikh Ahmad Yasin dalam memimpin gerakan Hamas. Dia merupakan orang yang menjadi incaran bagi Israel dan sebulan ia memimpin gerakan tersebut, Abdul Aziz ar-Rantissi pun syahid di jalan-Nya.

Begitulah cara Allah memuliakan hamba pilihan-Nya karena mereka telah memilih cinta untuk bertransaksi di jalan-Nya.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Alquran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” 
(Q.S. At-Taubah:111)

Mereka telah memilih cintanya, bagaimana denganmu?

“Katakanlah, jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
(Q.S. Ali Imran:31)

Mencintai Allah dan mengikuti Nabi akan dibalas dengan kecintaan, dihapuskannya dosa dan dijanjikan surga untuk kehidupan di akhirat kelak. Oleh sebab itu, fokuskanlah pilihan untuk mencintai Allah karena hal tersebut merupakan pilihan terbaik dan paling membahagiakan.

Walaupun jalan menuju surga dipenuhi oleh onak dan duri serta berbagai rintangan, tetapi dengan adanya rasa cinta kepada Allah SWT, maka rintangan tersebut akan menjadi penggugah semangat untuk terus bangkit dan bertahan.

Sumber: fimadani 
Oleh : Juli Trisna Aisyah Sinaga, Bandung
Facebook Twitter Blog


Berhati-hati dengan Pikiran Kita



Suatu hal yang menarik sempat menjadi perhatian saya. Ini terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Mungkin sudah banyak yang tahu, atau mungkin ada juga yang kurang menyadari hal ini. “Apa yang kita pikirkan kepada orang lain, hal itu akan kembali kepada kita”. Ya begitu, kadang hal-hal yang kita pikirkan kepada orang lain justru kembali ke kita. Kenapa demikian? Bagaimana cara kita berpikir terhadap mereka adalah refleksi perbuatan kita terhadap mereka.

Kalau kita berpikir buruk tentang mereka, biasanya hal itu akan kembali kepada kita. Begitu pun jika kita berpikir tentang kebaikan. Kita berpikir si Fulan itu payah, dia pelit, dia itu suka membicarakan orang, dia itu suka merebut hak orang. Sedikit banyak kita juga akan seperti itu. Tapi kalau kita suka berbaik sangka, hal tersebut juga akan terefleksi pada diri kita.

Ada satu cerita Tionghoa yang menurut saya agak menggelitik dan mengandung hikmah yang baik untuk pelajaran kehidupan kita. Katakanlah ada 3 orang sahabat, sebut saja namanya Si Fulan, Fulani, dan Bedul. Si Fulan mengadakan suatu acara, dia mengundang Si Fulani dan Bedul. Akhirnya Si Fulani datang, lama si Bedul gak datang. Si Fulan gelisah, sehingga si Fulani berpikir “orang ini dari tadi nanyain Bedul, gelisah terus. Ah saya gak penting nih”, walhasil si Fulani pergi begitu saja. Si Fulan jadi merasa bersalah dan kecewa karena Fulani jadi tersinggung. Datang kemudian si Bedul, Bedul melihat Fulan gelisah memikirkan kejadian itu. Terus dan terus gelisah, sehingga Bedul berpikir “Ah dia cuman menganggap Fulani saja yang penting, aku tidak”. Akhirnya Bedul pun pergi, Fulan tambah menyesali kepergian kawannya itu.

Hal tersebut nampaknya membuat kita geli. Tapi seperti itu juga dalam kehidupan kita, kadang penyesalan itu datang belakangan, karena kita melakukan hal-hal dengan pikiran kita yang terlihat sepele, namun dampaknya bisa jadi gak sepele. Hanya penyesalan yang datang kemudian. Tapi gak jarang yang terjadi jurang perselisihan semakin dalam karena yang namanya “gengsi” datang. Gengsi meminta maaf, entah karena merasa kita paling benar, atau karena merasa malu.

Bukannya saya bermaksud mengajak kita menghilangkan rasa curiga, rasa mawas diri. Tentunya Sang Pencipta, menciptakan perasaan itu “tidak sia-sia”. Perasaan itu ada untuk menjaga diri kita dan keselamatan kita, bisa jadi suatu naluri perlindungan diri. Tidak ada yang sia-sia diciptakanNya. Dalam keyakinan saya mengajarkan “prasangka baik” dulu (sama kayak hukum di Indonesia yah? Azas praduga tak bersalah), sampai kita diarahkan pada bukti atau gejala nyata akan ada suatu buruk yang terjadi. Para pakar psikologi, berkesimpulan, rasa curiga dan kecenderungan manusia “negative thinking” yang membuat spesies manusia ini bertahan sampai sekarang.

Terkadang pemikiran kita, disadari atau tidak dapat menjadi indikator diri kita, seberapa sering kita berbuat kebaikan daripada keburukan. Memang sih, kebaikan dan keburukan itu gak bisa dihitung secara nominal…1, 2, 3, 10 … dst.

Jika kita seringkali berpikir buruk akan seseorang, “ah sini pasti ngomongin gue, si itu pasti mau nyuri sendal gue, si anu pasti nanti mau nyikut gue.” Bisa jadi kita sudah cukup sering melakukan hal itu dan berpikir “orang pasti berbuat apa yang saya perbuat”.

Pemikiran seperti ini jika berlebihan akan kembali kepada kita, kita jadi curiga dengan orang lain, orang lain jadi merasa kurang nyaman dengan kita, sehingga banyak yang menjauhi. Dari sisi individu pun kita jadi pergaulannya dan kehidupan sosial kurang bagus, merasa selalu kurang aman karena berpikir semua orang akan melakukan hal buruk pada kita.

Bagaimana kalau sebaliknya? Jika kita sering berbuat baik, paling tidak berpikir yang baik-baik terhadap orang lain. Hal baik bukannya tidak mungkin akan kembali kepada kita. Kita akan memiliki sifat hangat atau terbuka dengan orang lain mereka akan nyaman berada dekat kita. Hidup kita juga tenang tidak serba ketakutan dan tertekan. Logika-logika yang berlaku di pikiran kita juga akan positif, sehingga mengurangi kecurigaan kita. Namun demikian, tidak berarti kita “tidak menjadi mawas diri”.

Kata orang, hidup ini fana, sementara…. makanya jalani hidup ini dengan tenang saja. Namun yang namanya fana, sementara itu bukan berarti sebentar. Bisa jadi besok, lusa, 60 tahun, 80 tahun bahkan ratusan tahun, ribuan tahun. bagaimana cara kita mengisi waktu kita yang sebentar itu menjadi bermanfaat bagi sesama mahluk-Nya. Tentunya, Dia ciptakan kita, hidup di dunia ini bukan “sia-sia”. Hidup kita akan berakhir dengan “kematian”, tapi bukan berarti kita hidup untuk mati saja. Tapi nilai-nilai kita selama hidup, manfaat yang kita berikan selama hidup ini yang akan bermanfaat bagi kelanjutan hidup generasi-generasi sebelumnya.

Sedikit tips, saya bukan tipe orang yang “senantiasa berpikir positif” dan “tidak terlalu emosional”. Sifat dasar saya sebenarnya emosional. Namun beberapa hal yang saya lakukan untuk mengurangi dampak sifat buruk saya ini Alhamdulillah sering menolong saya. Jika kita kecewa, atau kesal, atau curiga, atau apapun hal buruk yang kita pikirkan. Jangan langsung diungkapkan, menurut saya orang yang “blak-blak”-an itu orang yang egois dan kurang bijak. Kenapa? Egois karena mereka tidak memikirkan sudut pandang orang lain, dan tidak memikirkan perasaan orang. Kurang bijak karenaakan menjadi biang permasalahan jika “blak-blak”-annya itu ternyata salah.

Biasanya yang saya lakukan itu mengumpulkan data dulu, buat catatan, ingat waktu kejadiannya. Kalau kesal, buat draft tulisan. Biarkan draft itu mendekam selama seminggu atau 2-3 x perbuatan sama yang dilakukan. Gak jarang, seseorang melakukan perbuatan buruk, saya siapkan draft laporan beserta kronologis dan bukti. Terkadang, orang itu melakukan perbuatan kebaikan atau melakukan perubahan. Saya hapus draft itu, tidak jadi saya kirim. Atau kalau itu berupa catatan, bisa dibuang.

Manusia itu, kadang melakukan kebaikan dan tidak jarang keburukan. Manusia tempatnya lupa atau kesalahan, makanya Sang Maha Pencipta tau banget sifat kita dan memberikan kita kesempatan yang bernama “taubat”. Mari kita mencoba mengedepankan “berpikir kebaikan” kepada orang lain, agar kebaikan itu nantinya kembali kepada diri kita juga, agar kehidupan ini bisa berjalan lebih baik, lebih harmonis.

Lupakanlah kebaikan diri sendiri, ingatlah kebaikan orang lain agar kita tidak pamrih.

Lupakankah kesalahan orang lain, ingatlah kesalahan diri sendiri, agar kita bisa lebih lapang dada dan memaklumi, agar kita dapat memetik pelajaran bagi kehidupan kita mendatang.

Kita adalah apa yang kita pikirkan ...

Sumber: fimadani