1 Maret 2012

Generasi Muda dan Masa Depan Baru



Sekarang kita tidak lagi berfikir tentang sekadar bagaimana membesarkan generasi muda tetapi bagaimana generasi muda membesarkan bangsa ini dan membangkitkan kaum muslimin di seluruh dunia. Setelah itu kita berfikir ke level lebih tinggi bagaimana bangsa Indonesia punya kontribusi besar ke dunia internasional. Begitu generasi muda punya ide dan narasi yang ditawarkan kepada publik, maka generasi muda sedang menjemput takdir menjadi pemimpin, leader, perubahan.  Begitulah idealnya.
Lalu, bagaimana kenyataannya? Itulah yang perlu kita bicarakan. Yang jelas, jika generasi muda ingin leading, maka perlu memiliki tiga hal besar berupa :  narasi, kapasitas dan sumber daya.

Jika ingin bercampur baur dengan publik, maka generasi muda mesti memiliki kapasitas seorang pemimpin yaitu naratif intelijen. Kemampuan menguasai orang melalui kata atau ide. Itulah yang menjelaskan mengapa Soekarno dan Mohammad Natsir masih bertahan sampai sekarang. Dan itu juga yang menjelaskan mengapa mukjizat Rasulullah Saw. itu adalah al-Qur’an, yang mudah dibaca dan dipahami.
Generasi muda itu, bedanya antara periode yang lalu dan yang sekarang adalah : kalau periode yang lalu cukup dikenal dengan “I can see”, seksi di mata orang. Ada anak-anak muda bersih dan memiliki semangat. Tapi begitu generasi muda itu sekarang  ingin menjadi leader, expectasi orang berubah. Generasi muda tidak lagi dipersepsi sebagai generasi yang “anak-anak”.
Sebelumnya, generasi muda dipersepsi sebagai anak manis. Kumpulan anak-anak manis negeri ini. Berkumpul jadi satu, dinamis dan baik-baik. Tapi untuk jadi pemimpin, tidak cukup dengan sanjungan seperti itu. Karena itu, generasi muda mesti berubah.
Nah, sekarang ketika generasi muda ingin “berkontribusi”, maka persepsi generasi muda juga harus dirubah. Kita berharap agar persepsi publik dan kapasitas generasi muda diisi dengan kompetensi. Di sini, kata kuncinya ada dua, yaitu Kompeten dan Keterbukaan.
Kompeten merupakan integritas generasi muda, di sini menyangkut masalah kapasitas; sedangkan keterbukaan adalah image-nya. Maksudnya, generasi muda diterima di semua basis kehidupan dan oleh semua pihak. Ini namanya (kompeten) what to say-nya bukan how to say-nya. Bagaimana cara mengatakannya itu lain lagi.
Naratif intelijen hanya akan dimiliki oleh mereka yang memiliki narasi yang sistematis dan konsepsional. Selain konseptor, mereka juga mesti orator; yang mampu menyusun konsep strategis dan teknis, serta mampu mengorasikannya ke ruang publik.
Dalam konteks ini, ada buku yang bagus untuk dibaca dari “Kumpulan Pidato-pidato yang paling Berpengaruh Sepanjang Abad ke-20”. Atau mungkin juga dalam buku karya yang lain.
Kalau kita baca sejarah Islam, kita dalam memahami bahwa Khalid bin Walid itu bukan sekadar jago bertarung, tapi juga orator. Contohnya; di perang Yarmuk (dia tadinya ada di Irak). Jumlah pasukan yang sudah masuk di Yarmuk waktu itu sekitar 27 ribu, berhadapan dengan 240 ribu pasukan Romawi, ini berbulan-bulan lamanya pasukan saling berhadap-hadapan tapi tidak saling bertempur. Ini periodenya Abu Bakar.
Ini soal komandan lapangan, mengapa tidak bertempur? Artinya begini, yang 240 ribu
tidak berani menyerang yang 27 ribu. Masing-masing punya alasan, memang (pasukannya) kecil tapi pengalaman menangnya terlalu banyak. Yang satu lagi (pasukan Islam), memang pengalaman menangnya banyak tapi belum pernah bertemu pasukan sebanyak ini.
Khalid datang dan pasukan Khalid dipanggil, dan ditambah lagi pasukan sebanyak 9 ribu orang sehingga menjadi 36 ribu. Waktu Khalid dating wacananya sama seperti Abu Bakar. Cuma dalam sikologi militer itu bahaya, tentara dibiarkan begini, karena lama-lama itu ketakutan mulai merasuk ke dalam. Mau lari tidak bisa. Mau maju juga tidak bisa. Harus ada keputusan.
Begitu Khalid datang, dia konsolidasikan pasukannya. Dan setelah konsolidasi satu bulan lamanya, diputuskan memimpin secara bergantian. Pemimpin pertamanya Khalid. Setelah itu bergantian. Setelah itu dia putuskan hari penyerangan. Waktu hari penyerangan itu dia pidato. Pidatonya tidak terlalu panjang.
Dan kita perhatikan para sahabat itu kalau pidato kenegaraan atau pidato perang hampir tidak ada yang lebih dari 5 menit. Dilihat dari segi teksnya. Dia bilang begini: “Ya ma’syirol muslimin, hadza yaumun min ayyamillah”, Hai kaum muslimin, ini adalah hari di antara hari-hari Allah.
Di sini terdapat kemampuan mengartikulasi sebuah makna yang tervisualisasi begitu kuat ketika langsung terikat dengan Allah Swt., terikat pada statemen pertama “hadza yaumun min ayyamillah, fa akhlisu fiihi jihadakum lillah”. Dia mulai dari pernyataan  yang pertama “Fa akhlisu fiihi jihadakum fillah”. Setelah itu, masuk pada tekhnisnya. Setelah itu takbir Allahu Akbar sambil maju menyerang. Selesai dan menang.
Jadi, seorang pemimpin—sebagaimana komandan perang—mesti memiliki kapasitas naratif intelijen. Selain sebagai konseptor juga orator ulung. Dia memang tidak akan abadi, tapi ini keterampilan mutlak. Itu adalah di antara basic kompeten dari seorang pemimpin.
Kita lihat lagi presiden-presiden Amerika yang berpengaruh dari yang lain. Umumnya begitu. Waktu perang dunia kedua siapa Perdana Menteri Inggris? Itulah kelebihannya. Umumnya orang Inggris itu tinggi-tinggi, tapi dia pendek dan seorang orator. Dari dialah istilah “Saya tidak punya sesuatu di Inggris, kecuali hanya darah, keringat dan air mata” terhembus. Pidato itu abadi. Jadi, begitu kita punya ide, kita jadi tren setter. Yang lain, semuanya jadi follower.
Nah, yang kedua dari kapasitas leadership itu adalah kapasitas eksekusi. Kapasitas eksekusi itu ditentukan oleh orang dan uang. Ada orang yang punya kapasitas dan ada sumber daya. Kita datang dan mau masuk dalam struktur Negara atau kekuasaan tapi tidak ada orang untuk mengeksekusinya, itu tidak bisa.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah generasi muda cukup siap? Tentu saja tidak bakal cukup. Lalu, apakah generasi muda harus menunggu sampai cukup? Tidak juga. Karena manusia berkapasitas juga sudah banyak, tapi mereka belum tersentuh oleh spirit dan prinsip-prinsip perubahan. Itu saja. Tetapi kalau generasi muda punya ide besar, maka generasi muda bisa mendayagunakan semua orang dengan kapasitas yang mereka miliki. Jadi kapasitas eksekusi ini menyangkut orang.
Selanjutnya, sumber daya. Ini juga bukan sekadar uang. Sebenarnya media itu adalah sumber daya. Informasi adalah sumber daya. Uang adalah sumber daya. Tentara juga sumber daya. Jadi kita perlu sosial capital, kita juga perlu financial capital, kita juga perlu political capital.
Pertanyaan besarnya : Bagaimana cara merakit semua potensi-potensi itu sekaligus? Yang tidak boleh tergantikan pada orang adalah narasi; itu yang harus orisinal. Adapun kapasitas dan sumber daya bisa disesuaikan dengan orang. Karena ada banyak orang yang punya kapasitas dan sumber daya tapi tidak menjadi apa-apa.
Jadi, uang itu menyangkut persoalan yang lebih teknis. Dalam hal-hal seperti ini kita tidak bicara masalah hal-hal yang bersifat idealisme dan pragmatisme. Ini persoalannya adalah pemahaman tentang realitas. Kita akan menjadi sangat picik kalau kita menyederhanakan masalah ini dengan persoalan idealis atau pragmatis. Karena tidak ada urusannya ke situ. Sama sekali tidak ada.
Nah, itulah ide tentang strategic partnership. Bagaimana memperbesar aset dengan mangakumulasi aset orang digabung menjadi satu kekuatan. Konsep itu adalah konsep pendayagunaan. Ini bukanlah konsep suatu antitesa yang harus kita pertentangkan dengan konsep konspirasi yang selalu kita pelajari dalam rencana strategi perang, misalnya.
Jadi ide-ide perubahan itu hanya mungkin terjadi kalau ada civil society yang kuat, ada pemerintahan yang efektif. Kalau sekarang, ada civil society yang tidak terlalu kuat tapi ada juga pemerintahan yang tidak efektif. Dan karena itu ada pasar yang tidak dinamis, itu sebabnya setelah kita demokratis kita tidak jadi sejahtera, tidak kunjung sejahtera. Kalau ini kita pahami, dengan demikian sekarang kita bisa memahami kata kunci yang kita sebut sebagai strategic partnership.
Di sini kita berbicara mengenai bagaimana kita mampu menerima orang lain. Pada konteks ini seringkali tak mampu dilalui manusia. Makanya imam Ghazali mengatakan: “Al-Insanu aduwwun ma yajhulu”. Manusia memusuhi apapun yang tidak diketahuinya. Karena kita tidak tahu orang lain kita cenderung memusuhi orang lain. Padahal tidak semua orang yang berbeda itu “memusuhi” kita.
Dalam mengelola urusan publik—seperti pemerintahan Negera dari pusat hingga daerah—juga begitu. Dalam bukunya Managing The Next Society, Peter R. Gardner, mengungkap secara serius mengenai peran dan fungsi Negara. Bagi Gardner, Negara bangsa itu, dalam era globalisasi, sejauh mana akan survive—baik karena pengaruh perkembangan teknologi maupun karena pengaruh rasionalitas ekonomi—maka sejauh itu pulalah peran dan fungsinya di masa mendatang.
Jadi, kita membutuhkan instrumen besar (Negara) itu, kalau kita ingin memimpin. Sampai di sini kita tidak punya perdebatan. Perdebatan kita adalah tentang kapasitas apa yang diperlukan untuk mengelola itu semua. Itulah kepemimpinan. Oleh karena itu persoalan fundamental ini harus kita pisahkan dulu dari persoalan yang teknis, tentang bagaimana memenangkan perhelatan  opini publik terhadap Islam, misalnya.
Image semangat pada generasi muda adalah modal terbesar. Di image ini terserap dan memberikan ruang yang besar kepada generasi muda di tengah masyarakat. Namun, jika generasi muda tiba-tiba masuk dalam pemerintahan, itu terlalu cepat.
Jadi strategy to win itu adalah persoalan how to send, tetapi persoalan leverage to win itu adalah persoalan how to deliver bagaimana men-delivery ide-ide itu menjadi suatu kenyataan. Dan itu membutuhkan kualitas tertentu dari generasi muda. Tidak sesederhana yang kita bayangkan.
Sekarang tentang reference to lead, apa yang kita perlukan untuk memimpin? Reference apa yang kita perlukan? Sekarang perlu diceritakan dulu sedikit mengenai realitas generasi muda.
Kita perlu menyadari bahwa di antara kelemahan kita adalah kurang memiliki kapasitas atau pengetahuan teritori yang kuat. Padahal ia adalah unsure penting dalam bernegara juga dalam mendakwahkan Islam. Karena itu, satu hal penting yang mesti kita miliki adalah Kesadaran Geografis. Tentang Indonesia, atau tentang wilayah kekuasaan Islam di masa lalu. Dalam konteks ini, sepertinya, generasi muda perlu membaca salah satu buku bagus yang ditulis oleh Malik bin Nabi, judulnya “Miladul Mujtama”, Kelahiran sebuah Masyarakat dan yang kedua “Wijhatul ‘Alam Islami”, Dunia Baru Islam. Di situ Malik bin Nabi menjelaskan mengenai unsur hardware dari sebuah peradaban, yaitu : al-ard/at turab, wazzaman, wal insan, (tanah, waktu dan manusia).
Konteks Indonesia, waktu imperialis datang ke Indonesia, perjuangan itu sifatnya kedaerahan. Itu zamannya Imam Bonjol, Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Cut Nya Dien, Pattimura dan seterusnya. Tapi kemudian muncul yang namanya kegelisahan politik, bahwa perlu ada pola baru dalam perjuangan.  Dari situ timbul kesadaran universal yang menggabungkan kesadaran geografis dan kesadaran politik, sehingga lahirlah Budi Utomo dengan Syarekat Islam. Tetapi ini kemudian menjadi kesadaran yang konteknya lebih kuat lagi, setelah era Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda: Satu Bangsa, Bahasa Pemersatu dan Satu Tanah Air. Itu adalah gabungan antara kesadaran geografis, kesadaran teritorial, kesadaran sosiologis dan kesadaran budaya (bahasa). Terkait tema ini, ada buku bagus yang boleh dibaca judulnya Collaps, di situ ada sedikit kisah tentang Polenesia “How China become Chinese.  Di situ, pada pembahasan akhirnya ditulis tentang Polenesia.
Jadi, Sumpah Pemuda itu menggerakkan, menyatakan diri sebagai satu kesatuan yang utuh tetapi isinya juga dibuat; ada geografisnya, ada teritorinya, ada bahasanya, dan juga isi politiknya yang namanya bangsa. Jadi, karena bobotnya itulah Sumpah Pemuda menjadi satu momentum yang sangat historis dalam sejarah Indonesia.
Sejarah pembentukan Negara kita pada momentum proklamasi kemerdekaan RI 1945, juga dibangun di atas kesadaran yang beragam seperti itu. Soekarno hadir di atas situasi yang sangat menguntungkan, karena dia melanjutkan proses itu. Ia memiliki kesadaran yang mendalam tentang teritori Indonesia. Dan juga punya kesadaran tentang struktur sosiologis tentang masyarakat Indonesia. Kalau kita baca buku “Bung Karno Menyambung Lidah Rakyat”, maka akan dipahami bahwa kesadaran-kesadaran di atas itulah yang menyebabkan Negeri ini ada.   Seharusnya kita berfikir seperti begitu, sebagai wujud kapasitas wawasan teritori yang matang.
Generasi muda mempunyai kelebihan dalam berbagai hal, misalnya dalam hal pemikiran, semangat, logika, dan lain sebagainya. Generasi muda adalah motor penggerak utama perubahan. Begitulah sejarah bangsa Indonesia memberi kita pengalaman dan pengetahuan. Dari situ kita dapat memahami bahwa dalam konteks Indonesia, pemuda adalah penentu perjalanan Indonesia di masa yang akan datang. Dan kita sangat percaya itu.
Aktivis ‘98 yang juga Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia (Lima), Ahmad Fauzi Ray Rangkuti, sangat percaya dan optimis dengan modal yang dimiliki generasi muda, yaitu memiliki jiwa visioner, kesejarahan pemuda, serta kapasitas yang dimiliki akan bisa melakukan perubahan. Kata tokoh muda yang satu ini, “Saya optimistis dengan modal yang dimiliki kaum muda, maka sangat terbuka melakukan perubahan”.[1]
Semangat berkontribusi merupakan semangat, sikap dan tingkah laku yang merujuk pada loyalitas dan pengabdian. Patriotisme hendaknya dijadikan budaya dan kebiasaan yang dapat diterapkan dalam segala sendi kehidupan. Pemuda perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam membangkitkan kembali semangat patriotisme dan kontribusi.
Pemuda harus menyadari bahwa semangat tersebut tidak terlepas dari situasi global. Generasi muda Islam harus mencermati secara kritis realitas kepentingan global terhadap Indonesia. Generasi muda dituntut agar memahami dan terlibat dalam menyelesaikan masalah Indonesia dan umat Islam.
Secara sederhana dapat disampaikan bahwa untuk memupuk semangat tersebut, pemuda Islam diharapkan dapat meningkatkan partisipasinya dalam meningkatkan pengetahuan dan kualitas ilmu, keterlibatan diri dalam berbagai lembaga sosial kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan, terlibat dalam kewirausahawan muda, menciptakan karya generasi muda dan apresiasi pemuda di berbagai bidang pembangunan, ikut serta dalam gerakan pencegahan dan penanggulangan narkoba, dan lain sebagainya.
Sifat idealisme yang terkandung dalam jiwa dan pikiran generasi muda harus dapat dimanfaatkan untuk memainkan peranan penting dalam kelangsungan hidup dan perubahan Indonesia dan umat Islam. Pemuda adalah kelompok yang potensial untuk mendukung pembangunan. Dengan demikian, pemuda perlu dilibatkan dalam setiap perencanaan pembangunan, sehingga pelayanan dapat lebih disesuaikan dengan sasaran yang ingin dicapai. Namun demikian, progresifitas generasi muda tidak hanya penting dalam kerangka pemberdayaan generasi muda, tapi juga memberikan kontribusi bagi penyiapan generasi selanjutnya, serta regenerasi kepemimpinan umat dan bangsa di masa mendatang.

[1] Pernyataan Ahmad Fauzi Ray Rangkuti kepada INILAH.COM, Senin (27/10/2008) di Jakarta.

Tidak ada komentar: