9 November 2012

KETIKA VIRUS SUNYI MENYAPA



Hati-hati dengan kesepian. Inilah salah satu penyakit yang mampu menggerogoti semangat berkarya, beramal dan berdakwah. Dulu banyak kaum berilmu yang menyepikan diri dengan pergaulan bersama umat karena ingin berkonsentrasi dalam beribadah kepada Allah SWT. Mereka berkonsentrasi menjual dirinya pada Allah semata. Tidak mau disibukkan dengan aktivitas lain yang akan mengganggu konsentrasi ibadahnya.

Benarkah pendapat seperti di atas? Saya hanya ingin memberikan penegasan bahwa berpendapat seperti di atas sebenarnya sangat tidak salah saat umat semuanya sadar menjalankan syariat agama? Namun sekarang masih banyak kita dapati umat yang antipati menjalankan ajaran agamanya. Masih banyak orang mengaku Islam tapi tak pernah patuh menjalankan ajarannya. Lalu kalau banyak orang shalih yang tergoda untuk menyepi dan meninggalkan kebisingan dunia, siapa yang akan menyadarkan orang-orang yang mengaku beragama tapi tak mau menjalankan syariat agamanya itu? Siapa yang memberikan pencerahan bagi umat yang semangat beribadahnya memburam? Siapa yang bangkit melawan tontonan kemaksiatan yang memerihkan mata? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Saudaraku, mari hentikan aktivitas menyepi kita. Menyepi dari urusan umat. Menyepi dari aktivitas dakwah. Sesungguhnya dakwah adalah urusan kita yang sudah tersinari dengan cahaya hidayah. Mengapa kita berhenti dari aktivitas mulia ini. Biarlah yang lain berhenti dari aktivitasnya karena godaan-godaan dunia yang tak mampu dilawannya. Tapi pastikan kau bukan di barisan orang-orang yang tergoda itu. Biarlah yang lain menyepi karena virus merah jambu yang membuat nyali berjuangnya mati. Tapi pastikan itu bukan engkau. Biarlah yang lain pergi asalkan kau tetap berada di barisan ini.

Kita amat tahu godaan-godaan untuk menyepi itu sangat banyak menyapa. Memanggil kita dengan sangat kerasnya untuk menghampirinya. Tapi jangan pernah tergoda. Keindahan surga dan kenikmatan bersaudara terlalu sayang untuk kita tinggalkan.

Saudaraku, kenapa panggilan untuk menyepi itu semakin kuat godaannya? Jawabannya karena kita telah kehilangan kenikmatan beribadah kepada Allah. Coba periksa tilawah Qur’an kita. Apakah tilawah itu mampu meresap dalam sanubari kita? Coba cek shalat kita, apakah sudah kita kerjakan dengan khusyuk? Coba amati shalat Dhuha dan tahajud kita, sudahkah mampu kita kerjakan dengan rutin? Coba cek kedekatan kita dengan saudara-saudara seperjuangan, semakin renggang atau semakin erat?

Ketika shalat tak mampu lagi khusyuk, ketika tilawah Qur’an tak lagi menenangkan jiwa. Ketika Dhuha dan Qiyamullail sudah semakin sering ditinggalkan. Ketika kita semakin jauh dari saudara-saudara seperjuangan. Waspadalah, itulah yang menyebabkan virus untuk menyepi dari jalan dakwah berkembang biak. Ketika virus-virus keinginan menyepi itu tak segera dibasmi maka dia akan menjadi penyakit dakwah yang mematikan. Hampir dapat dipastikan pengidapnya akan meninggalkan jalan menuju surga yang pernah dilaluinya. Ketika pengidapnya telah berjamaah maka akan dipastikan kapal jamaah dakwah itu akan hancur berkeping-keping. Selanjutnya kehancuran kapal jamaah dakwah akan menghancurkan jati diri umat terbaik. Dan hancurnya jati diri umat terbaik akan menghancurkan kehidupan.

Sesungguhnya dunia ini belum berakhir karena masih banyak orang beriman yang menjalani aktivitas dakwahnya dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Regenerasi orang beriman hanya tercipta dari kemauan para pendakwah mengorbankan waktunya, hartanya dan bahkan hidupnya dalam mengajarkan syariat-syariat Allah. Mari waqafkan kehidupan kita untuk menghadirkan generasi-generasi orang beriman yang patuh pada perintah Allah SWT. Jangan tergoda untuk menyepi karena bagi kita dakwah adalah nafas kehidupan yang membuat usia hidup kita masih bertahan lama


Sumber:
 dakwatuna 

Tidak ada komentar: