28 Agustus 2013

Bulan Syawal; Momentum Penguatan Aqidah, Peningkatan Ibadah dan Peneguhan Istiqamah

Ketika Ramadhan berlalu sejatinya bumi dan langit menangis, karena ia ditinggalkan oleh tamu agung yang membawa beribu keberkahan, berlipat rahmat, berlapis ampunan da nada malam istimewa yang disebut dengan lailatul qadar. Namun, dari banyaknya keutamaan yang datang bersama Ramadhan sesungguhnya pula Allah menyuguhkan satu bulan istimewa, dimana pada bulan itu pun Allah memberikan keutamaan, yaitu Syawal. Ya, bulan ke-10 dalam urutan kalender Hijriyah ini Allah menjadikannya sebagai bulan yang disambut dengan lantunan takbir, tahmid dan tahlil, atau kita biasa menyebutnya dengan “lebaran”.

Beberapa keistimewaan bulan Syawal diantaranya adalah; Pertama, bulan kembali kepada kepada fitrah. Fitrah sebenar-benar fitrah yakni umat Islam suci layaknya kertas putih, ia tak ternoda oleh tinta dosa ketika dating bulan Syawal. Pada tanggal 1 Syawal kita saling bermaafan dan seperti halnya bayi yang baru dilahirkan, maka kefitrahan adalah salahsatu kasih sayang Allah yang diperuntukan bagi ummatnya yang tulus ikhlas berpuasa, membayar zakat fitrah dan merupakan puncak kemenangan setelah sebulan penuh menahan hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Dan hampir semua umat Islam di seluruh dunia merasakan kegembiraan yang sama saat datangnya ‘Idul fitri ini.
Kedua, Syawal adalah bulan Takbir. Di berbagai belahan dunia, umat Islam menyambut syawal dengan takbir, bahkan tak sedikit diantaranya yang berkeliling untuk melantunkan kegembiraan dan sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. “Dan agar kamu membesarkan Allah atas apa-apa yang telah Dia beri petunjuk kepadamu, dan agar kamu bersyukur atas nikmat-nikmat yang diberikan.” (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 185).
Ketiga, bulan silaturahim dan kegembiraan. Adalah menjadi lazim di Indonesia jika lebaran tiba berbondong-bondonglah sanak saudara dari kota untuk pulang ke kampong halamannya. Mereka dating untuk berkumpul bersama keluarga besar, saling mencurahkan kebahagiaan, berbagi keceriaan dan menyambung tali silaturahim yang telah lama terpisahkan dengan segudang aktivitas dan terbatas oleh ruang dan waktu. Subhanallah, dengan ‘Iedul fitri Allah menyempurnakan keberkahan Ramadhan dengan memberi kesempatan kepada kita untuk bertemu, berkumpul dan berbagi rizki bersama keluarga tercinta.
Keempat, bulan yang baik untuk menikah. “Rasulullah Saw. Menikahiku pada bulan Syawal, berkumpul (membina rumah tangga) bersamaku pada bulan Syawal. Maka, siapakah dari istri beliau yang lebih beruntung daripada aku?” Demikian ungkapan ‘Aisyah dalam sebuah riwayat. Bahkan dalam riwayat lain, selain ‘Aisyah, Rasulullah Saw. Juga menikahi Ummu Salamah pada bulan Syawal. Hal ini sebenarnya menjadi pembuktian bahwa tak ada aturan yang melarang bahwa bulan Syawal tak baik untuk menikah, bahkan ada diantara tradisi para orang tua kita yang harus di kritisi bahwa tidak diperbolehkan menikah diantara 2 hati raya. Hal ini hanya tradisi yang tak berdasar dan bertentangan dengan riwayat Nabi Saw. Yang disampaikan oleh ‘Aisyah yang dinikahi baginda Nabi Saw.
Kelima, ‘Puasa Satu Tahun’. Amalan yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. Pada bulan Syawal adalah puasa sunnah selama 6 hari sebagai kelanjutan dari puasa Ramadhan. Sebagaimana dalam sebuah haditsnya, “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan, lalu diiringi dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa selama setahun penuh.”  (H.R. Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’I dan Ibnu Majah).
Seluruh keistimewaan tersebut hanyalah sebagian kecil dari hakikat keutamaan bulan Syawal. Karena begitu banyak hikmah yang Allah berikan pada bulan Syawal yang belum atau bahkan tak mampu kita jangkau dengan pemahaman kita yang dangkal yang tak sebanding dengan lautan ilmu-Nya yang maha luas. Namun, setidaknya kita memahami bahwa Allah senantiasa menyediakan reward bagi hamba-Nya yang taat nan patuh dengan segala titah-Nya dan dengan tetap menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan-Nya.

Momentum Penguatan Aqidah
Aqidah dalam arti keyakinan kepada Allah Swt. atas segala qadla dan qadar-Nya. Jika selama bulan Ramadhan kita merasa yakin bahwa Allah Swt. pasti mengabulkan setiap do’a yang kita sampaikan, kita yakin bahwa setiap ibadah diterima, kita yakin bahwa kita selalu diberikan kemudahan rizki, maka di bulan Syawal penguatan terhadap keyakinan tersebut perlu menjadi bahan utama dalam mengarungi hidup pasca Ramadhan.
Karena, seringkali keyakinan kita berkurang akibat dari do’a yang tertunda, padahal Allah tengah menguji seberapa kuat keyakinan kita kepada Allah. Ditambah, seringkali kita merasa dalam kesulitan dalam mendapatkan rizki, semestinya bulan Syawal adalah bulan untuk mengokohkan aqidah yakni semakin kita mendekatkan diri kepada Allah maka semakin dekat pula Allah bersama kita, dan ketika Allah bertambah dekat dengan kita, maka fahamilah, segala bentuk aktivitas kita senantiasa ada dalam jalan-Nya. Apakah Allah akan mempersulit seseorang yang berjalan dijalan-Nya? Tidak, Allah selalu memberi kemudahan, Dia selalu membuka ruang dalam setiap kesempitan yang kita rasa, dan Allah selalu menunjukan ruang baru setiap kita bertemu dengan jalan buntu. Adapun coba dan uji yang menghadang adalah bagian dari kasih sayang Allah untuk mendewasakan diri dan memperbaharui kesabaran kita. Oleh karena itu, penguatan aqidah adalah pondasi dalam mencapai derajat taqwa sebagaiman tujuan yang ingin dicapai pasca Ramadhan itu.

Bulan Peningkatan
Secara harfiah syawal berarti ‘peningkatan’, jadi bulan Syawal adalah peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah kita kepada Allah Swt. dimana selama sebulan penuh kita di training dalam sebuah kawah bernama Ramadhan dengan berbagai aktivitas ibadah selain daripada puasa, seperi shalat tarawih, memperbanyak tilawah al-Qur’an, memperbanyak sedekah dan amalan lainnya. Ramadhan adalah bulan untuk menggodok jasad dan jiwa kita dengan amaliah tersebut, maka Syawal berfungsi sebagai bulan pembuktian atas latihan selama bulan Ramadhan tersebut.
Ramadhan diibaratkan sebagai madrasah, didalamnya terdapat berbagai kurikulum yang akan mentarbiyah setiap orang yang memasukinya. Dari madrasah inilah lahir sosok-sosok yang berbeda, dan setiap orang yang memasuki madrasah tersebut tentu ingin mendapat predikat ‘lulus’. Hanya saja, setelah lulus apakah proses tarbiyah yang telah dilakukan tersebut membawa dampak positif pada dirinya, dampak yang akan mampu meningkatkan produktivitas amaliahnya. Nah, inilah Syawal sebaai ajang pembuktian bahwa kita layak mendapat predikat lulus tersebut.
Hanya karena Ramadhan telah usai, maka tilawah Qur’an pun selesai. Karena Ramadhan telah berakhir, maka qiyamullail pun tak pernah dijalankan lagi. Ini adalah tanda bahwa ia belumlah cukup berada dalam madrasah Ramadhan. Aa Gym menggambarkan Ramadhan sebagai sebuah kepompong, dari kepompong tersebut diharapkan mampu melahirkan kupu-kupu indah, yang terbang mengangkasa dan setiap orang takjub memandangnya. Maka, semoga kita diberikan kekuatan untuk meningkatkan ibadah-ibadah yang telah dilaksanakan selama bulan Ramadhan. Baik peningkatan kuantitas ataupun kuantitas.

Keteguhan dalam Beribadah, Istiqamah !
Istiqamah dimaknai sebagai istimroriyah, kontinuitas, berkelanjutan atau terus menerus. Sabda Nabi Muhammad Saw. “Katakanlah; Aku beriman kepada Allah, dan beristiqamahlah !” setelahnya kita meyakini dengan seyakin-yakinnya ke-Maha Besaran Allah Swt. maka tugas kita selanjutnya adalah beristiqamah.
Istiqamah dalam setiap aktivitas kebaikan kita akan membangkitkan amalan-malan kecil menjadi amalan dahsyat yang membanggakan. Tak salah jika seorang ahli hikmah mengatakan bahwa tak ada kebaikan kecil jika ia dilakukan secara terus menerus, dan taka da amalan besar jika ia hanya dilakukan sekali saja. Ketika sebuah amal kecil dilakukan secara terus menerus maka amalan itu akan membentuk karakter kita, dan ketika telah terbentuk sebuah karakter, maka keutamaan serta pahala yang berlipat ganda akan teraih secara tidak langsung.
Berbahagialah bagi orang-orang yang meneguhkan diri untuk tetap beristiqamah dalam beribadah dijalan-Nya. Istiqamah yang dinamis, yakni istiqamah yang senantiasa memperbaharui amalnya dengan sebaik-baik niat, sekuat-kuat usaha dan sebanyak mungkin memberikan manfaat bagi orang lain. Inilah Syawal, bulan yang harus kita pertegas dengan keistiqamahan. Istiqamah dalam taat, istiqamah dalam shabar dan istiqamah dalam ikhlas.

Epilog
Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, ialah orang yang beruntung. Jika hari ini sama dengan hari kemarin, ialah orang yang merugi. Dan jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin, maka yakinlah ia termasuk golongan orang yang celaka”. Demikian ungkapan Sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali. Dengan berbagai keistimewaan yang Allah karuniakan pada bulan Syawal ini, semoga Allah menganugerahkan kita kekuatan agar semakin teguh keyakinan kita akan ke-Agungan Allah Swt. dengan menyadari bahwa setiap usaha kita ada dalam genggaman-Nya, dengan meningkatkan ibadah serta dengan mengistiqamahkan diri dalam ibadaha tersebut.
Sungguh kebahagiaan itu telah menjadi janji Allah Swt. kepada kita semua, tugas kita adalah menjemputnya agar kebahagiaan itu kita raih, kita rasakan dan kita bagi kepada sesama, karena salahsatu jalan kebahagiaan adalah membahagiakan orang lain. Dan sebagaimana ungkapan setiap ‘Iedul Fitri, minal’aidin walfaizin, semoga kita semua kembali untuk berjumpa dengan-Nya dalam keadaan fitrah dan termaktub sebagai hamba-Nya yang memperoleh keberuntungan dan kebahagiaan dengan sebaik-baik derajat, Al-Muttaqin. Wallahu A’lam.

2 komentar:

mursalin al-panji mengatakan...

ngopi bro materinya . . . thankz

mursalin al-panji mengatakan...

ngopi bro materinya . . . thankz