7 Juni 2014

MELATIH SIMPANSE LIVERPOOL

Kesuksesan Liverpool dalam melakukan loncatan dari posisi ketujuh menjadi runner-up Premier League seringkali dialamatkan pada kemampuan Brendan Rodgers dalam meracik strategi mematikan. Tapi, ada satu tokoh intelektual lain yang sebenarnya jadi sumber kekuatan para pemain Liverpool dalam menghadapi kerasnya perburuan gelar juara Liga Inggris.


Dr. Steve Peters adalah tokoh itu. Ia adalah seorang psikolog yang bertanggung jawab untuk menjaga mental bertanding para pemain Liverpool.

Penampilan cemerlang pemain-pemain muda Liverpool pun disinyalir merupakan hasil kerja Peters. Misalnya saja dua pemain muda Liverpool, Jon Flannagan dan Raheem Sterling. Keduanya tampil sangat tenang dan percaya diri sepanjang musim layaknya pesepakbola yang lama mengarungi EPL.

Padahal, Flannagan pada musim sebelumnya hanyalah bek sayap pelapis yang baru diturunkan ketika Liverpool tidak mempunyai pilihan lain. Pada musim ini, bek lulusan akademi Liverpool itu mampu mencatatkan 23 pertandingan dan sempat membuat frustrasi beberapa pemain besar Liga Inggris.

Sementara itu Raheem Sterling bisa dibilang jadi pemain muda yang mengalami peningkatan paling baik. Dulu Sterling hanyalah pemain sayap yang bisa berlari cepat namun kurang cerdas dalam mengalirkan bola. Banyaknya permasalahan di luar lapangan juga membuat pemain muda ini diprediksi hanya mengkilap sebentar.

Tapi nyatanya ia telah mengalami perubahan drastis. Dengan tenang Sterling mampu memutuskan kapan harus melakukan dribbling, kapan harus mengoper, dan kapan harus menahan bola. Terlebih lagi, ia tak pernah ragu untuk melewati bek-bek lawan yang jauh lebih matang darinya.

"Apa yang dilakukan Peters sangat brilian. Ia sangat mengerti setiap pemain dan emosi yang ada di pertandingan. Setiap kata-katanya sangat membantu," ujar Sterling.

Pemain yang dibeli The Reds dari QPR ini menceritakan soal kejadian sebelum pertandingan melawan Manchester City di Anfield 13 April lalu. Sekitar 30 menit sebelum pertandingan, ia duduk berdua dengan Peters, dan mendengarkan beberapa perintah dari Peters yaitu untuk fokus pada bola dan tim.

Hasilnya Sterling berhasil menjalani pertandingan yang luar biasa. Dengan tenang ia mengecoh Joe Hart dan mencetak gol pembuka bagi Liverpool. Sterling juga yang kemudian menjadi man of the match pada pertandingan ini.

Tidak hanya pada pemain muda, para senior pun mengaku terbantu setelah menjalani treatment psikologis dari Peters. Sang kapten, Steven Gerrard, secara terang-terangan berkata bahwa ia tidak mungkin bisa menjalankan tugas baru sebagai defensive midfielder jika tidak ada Peters yang membuatnya bermain dengan kepala dingin.

"Steve Peters tidak membuat seorang pemain dapat berlari lebih cepat atau dapat melakukan putaran Cruyff atau dapat melakukan umpan panjang lebih akurat. Tapi saya dapat menjamin bahwa jika seorang pemain mau bekerja sama dengannya, ia dapat mempersiapkan mental sang pemain, terutama saat anda menghadapi tekanan," sang kapten menjelaskan bagaimana efek Peters untuk Liverpool.

Meski kerjanya seolah baru terlihat melalui Liverpool, ternyata Peters bukan orang baru di dunia olahraga Inggris. Sejak tahun 2000 Peters sudah menorehkan prestasinya dengan mendampingi tim olimpiade balap sepeda Great Britain. Hingga Olimpiade 2012 di London lalu tim balap sepeda Great Britain tidak pernah absen dalam menyumbangkan medali. Lagi-lagi hal ini juga disinyalir hasil ulah Peters yang dapat membuat para atlet bertanding dengan tenang.

Dengan prestasinya yang luar biasa ini, Manajer tim nasional Inggris Roy Hodgson pun lalu merekrutnya jadi staf timnas Inggris di Brasil nanti. Kutukan Inggris yang tidak pernah menang dalam adu penalti diharapkan dapat hilang dengan kehadiran Peters.

Mantan Manajer tim nasional Inggris Sven Goran Erikson, mengatakan bahwa kesalahan terbesarnya saat menangani The Three Lions adalah tidak membawa seorang psikiater. Para pemain Inggris disinyalir bermain kurang tenang sehingga melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Saat adu penalti pun para penendang Inggris tidak sekalem penendang dari negara lain.

Belajar dari Simpanse

Setelah melihat semua prestasi Peters, pertanyaannya kemudian adalah apa yang sebenarnya dilakukan Peters terhadap Liverpool dan tim olimpiade balap sepeda Great Britain?

Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat isi dari buku yang ditulis Peters. Semua penjelasan tentang apa-apa yang dilakukannya dituliska pada sebuah buku yang berjudul "Chimp Paradox: Mind Management". Teori simpanse (chimp) sering dikatakan Peters sebagai teori yang selalu diterapkannya kepada para atlet. Karena itulah orang sering mengatakan: "Steve Peters, from chimp to champ."

Di dalam bukunya Peters menjelaskan bahwa otak, sebagai pusat kendali tubuh manusia, memang memiliki struktur yang sangat kompleks. Namun, ia bisa membaginya menjadi 7 bagian. Dan dari ketujuh bagian itu, terdapat 3 bagian yang dihuni oleh komponen yang memengaruhi psikologis manusia dan menentukan sikap sehari-hari.


Komponen pertama adalah human (manusia). Dengan adanya komponen ini, Anda akan berperilaku layaknya sebagai manusia. Anda akan menggunakan logika Anda untuk menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Ketika komponen ini bekerja, semua tindakan Anda dapat dijelaskan dengan akal sehat.

Komponen kedua adalah teknologi. Ini merujuk pada tempat semua data yang pernah masuk ke kepala tersimpan. Ketika data itu sudah sering muncul, terkadang komponen ini akan bekerja secara otomatis dan mengambil kendali diri Anda.

Komponen inilah yang kemudian harus Anda latih untuk memunculkan bakat. Gerakan-gerakan otomatis atau teknik-teknik yang Anda miliki saat ini adalah hasil latihan yang diberikan pada komponen teknologi dalam otak. Karena itu, Peters mengatakan bahwa komponen ini adalah komponen yang paling kuat diantara komponen lainnya.

Dan komponen yang terakhir adalah tokoh utama yang dibicarakan Peters dalam bukunya, yaitu chimp atau simpanse. Ya, menurut Peters, setiap manusia memang menyimpan seekor simpanse di dalam otaknya. Komponen ini adalah komponen yang bertolak belakang dengan human (manusia). Ketika manusia bertindak sesuai logikanya, simpanse akan bertindak sesuai dengan emosi dan perasaan.

Ketika sang simpanse mengambil alih, sering kali tidak ada penjelasan akal sehat dari tindakan Anda. Sayangnya, komponen simpanse dalam otak jauh lebih kuat dari komponen manusia, meski tidak sekuat komponen teknologi. Ini dengan catatan bahwa simpanse dapat bekerja kapanpun sementara komponen teknologi hanya akan bekerja pada saat aktivitas tersebut sudah tersimpan di dalam bank data otak Anda.

Karena itulah Anda akan lebih mudah untuk bertindak dipengaruhi emosi ketimbang logika. Hal ini sejalan penjelasan Peters soal komponen simpanse yang lebih kuat ketimbang komponen manusia di otak.

Lalu apa maksud semua ini? Apa hubungannya simpanse di dalam otak dengan performa seorang atlet di lapangan?

Perlu dicatat bahwa Peters tidak mengatakan bahwa komponen simpanse adalah komponen yang negatif/jahat dan komponen manusia adalah positif/baik. Tidak ada yang baik atau buruk dari ketiga komponen tersebut. Ketiganya harus dibuat bekerja sinergis sehingga setiap tindakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Dan inilah bagian yang terpenting dari pekerjaan Peters. Treatment yang dilakukan Peters adalah dengan membuat ketiga komponen yang ada di dalam otak dapat bekerja pada saat yang tepat.

Tidak banyak yang dilakukan Peters pada komponen teknologi, karena itu adalah hasil latihan yang dilakukan sang atlet. Maka komponen manusia dan simpanse lah yang harus diutak atik oleh Peters.

Sekali lagi, kedua komponen ini tidak memiliki sifat jahat atau baik. Keduanya adalah komponen yang sama pentingnya. Maka dari itu, yang harus dilakukan adalah bukan mengurung simpanse ke dalam kandang, namun melatihnya.

Ini beberapa contohnya: saat Anda bertanding melawan musuh yang jauh lebih tangguh, komponen menusia akan mengatakan dengan logikanya bahwa Anda tidak akan bisa menang. Pada saat inilah Anda membutuhkan sang simpanse karena ia tidak pernah bergerak dengan logika, dan hanya berdasarkan emosi dan perasaan. Maka, tidak peduli sekuat apa musuh yang dihadapi, ia akan maju dengan gagah berani.

Namun membiarkan simpanse bergerak membabi buta juga bukan tindakan yang bijak. Di sinilah peran komponen manusia dimulai, yaitu untuk membuat tindakan simpanse tidak kelewat batas. Sesekali logika harus dimainkan untuk meluruskan tindakan simpanse jika mulai melenceng dari tujuan.

Seperti inilah kurang lebih teori yang diterapkan Steve Peters di Liverpool. Tentu dalam pelaksanaannya akan jauh lebih rumit.

Dengan mulai dikenalnya Steve Peters di kalangan klub-klub sepakbola, Brendan Rodgers sendiri mulai khawatir jika ada klub yang ingin merebut Peters. Bahkan Rodgers sudah mulai memasang peringatan bahwa psikolog kelahiran Middlesbrough itu akan tetap bersama Liverpool pada musim depan.

"Ia memiliki peluang untuk bekerja di klub lain, tapi ia sangat senang berada di sini dan merupakan bagian penting bagi Liverpool. Di klub mana pun aku bekerja sebelumnya, selalu ada seorang ahli syaraf dan psikolog di dalam tim. Maka, ketika aku datang ke Liverpool, aku ingin yang terbaik ada di sini," ujar Rodgers.

Kerja Peters sendiri bersama Liverpool belum usai. Gagal juaranya The Reds karena kalah dan imbang di tiga pertandingan akhir tentu jadi tanda bahwa ada pekerjaan yang belum selesai. Bahwa "sang simpanse" masih perlu untuk terus dan terus menjalani latihan.

Sumber: detiksport  

Tidak ada komentar: