27 April 2010

WIBAWA DALAM PENDIDIKAN (SEORANG PENDIDIK)

BAB I
PENDAHULUAN

A. PENGANTAR

Dewasa ini sosok guru telah mengalami pergeseran. Yang semula derajatnya begitu tinggi, mulia, dan dihormati, kini telah merosot, turun derajatnya, bahkan pamornya telah tercemar. Betapa tidak, ke mana wibawa guru, jika siswa tidak lagi menghormati gurunya, jika siswa meremehkan guru-nya, serta jika siswanya berani menghina gurunya? Apa yang salah sehingga guru tidak memiliki kewibawaan lagi di mata siswanya. Padahal, profesi guru itu sung-guh berat.
Guru harus mengajar dan memberikan ilmunya dengan ikhlas, sabar menghadapi murid, dan mengem-ban tugas mulia untuk mengantar muridnya menjadi insan yang berguna bangsa. Tugas yang mahaberat. Oleh karena guru bertugas mencerdaskan muridnya, tetapi di lain pihak sang murid tidak menaruh hormat padanya. Sungguh makan hati.
Pada zaman dulu, profesi guru amat terhormat. Guru hidup sejahtera. Pada masa kolonial Belanda, gaji guru lebih tinggi daripada gaji pegawai pemerintahan. Profesi guru amat ber-gengsi. Kedudukan guru berderajat tinggi. Akan tetapi, apa yang terjadi pada era 2000-an sekarang ini. Profesi guru dianggap sebelah mata, remeh, bahkan telah dipinggirkan. Guru yang telah diberi kewajiban mengajar 24 jam bahkan 36 jam satu minggu, hanya diganjar dengan Rp. 900.000,00 per bulan? Beda tipis dengan UMR. Bagaimana dengan gaji guru honorer? Pastilah di bawah UMR.
Guru dituntut selain mengamalkan ilmunya, juga harus mam-pu menanamkan nilai-nilai budi pekerti kepada siswanya. Akan tetapi, sering dihambat oleh gangguan baik itu pengaruh budaya luar maupun pengaruh kemajuan teknologi. Siswa yang berkelahi, guru yang dipersalahkan. Siswa yang membuat onar, guru yang disalahkan. Siswa tidak lulus UAN, guru yang disalahkan. Guru telah menjadi kambing hitam. Sungguh ironis nasibmu guru!

B. HUBUNGAN PENDIDIKAN DENGAN MANUSIA

Berdasarkan uraian diatas jelaslah bahwa untuk merealisasikan tugas dan kedudukan manusia tersebut dapat ditempuh manusia lewat pendidikan. Dengan media ini, diharapkan manusia mampu mengembangkan potensi yang diberikan Allah SWT secara optimal, untuk merealisasikan kedudukan, tugas, dan fungsinya.
Namun tidak semua pendidikan dapat mengemban tugas dan fumgsi manusia tersebut. Oleh karena itu, diperlukan penataan ulang konsep pendidikan yang ditawarkan sehingga lebih berperanbagi pengembangan manusia yang berkualitas, tanpa menghilangkan nilai-nilai fitri yang dimilikinya.
Dan nampaknya satu-satunya konsep pendidikan yang dapat dikembangkan adalah konsep pendidikan Islam. Dengan pendidikan islam manusia sebagai khalifah tidak akan berbuat sesuatu yang mencerminkan kemungkinan kepada Allah, dan bahkan ia berusaha agar segala aktivitasnya sebagai khalifah harus dilaksanakan dalam rangka ‘ubudiyah kepada Allah Swt.

Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya. Maka dari itu ada bebrapa hal mengapa pendidikan sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu antara lain :

a Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.

b Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.

c Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN WIBAWA

Wibawa adalah sifat yang memperlihatkan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui sikap dan tingkah laku yang mengandung kepemimpinan dan daya tarik (KBBI, 2000). Guru yang berwibawa berarti guru yang dapat membuat siswanya terpengaruhi oleh tutur katanya, penga-jarannya, patuh kepada nasihatnya, dan mampu menjadi magnet bagi siswanya sehingga siswanya akan terkesima dan tekun menyimak pengajarannya.
Pada era 1960-an, wibawa guru masih kental dan terasa. Sosok guru selalu dipuja, dihormati, dan sikap serta pemikirannya senatiasa ditela-dani. Apa yang disampaikan gurunya selalu diang-gap sebagai amanat yang wajib dilaksanakan. Siswa menjunjung tinggi gurunya, bahkan melebihi orang tua kandungnya sendiri. Pada era itu, siswa tidak berani berbicara sambil menatap langsung mata gurunya, tetapi berbicara sambil menunduk dengan suara yang pelan. Begitu tingginya derajat guru kala itu, siswa akan gugup dan berkeringat dingin ketika diajak bicara oleh sang guru.
Perubahan dan pergeseran peri-laku generasi muda pada era 2000-an telah berimbas kepada merosotnya wibawa guru. Idiom guru ialah sosok yang digugu dan diguru tidak berlaku lagi. Siswa cenderung memandang enteng gurunya. Oleh karena merasa sudah membayar mahal uang sekolah-nya serta menganggap guru sebagai orang bayaran. Pada lain pihak, guru seperti memakan buah simalakama. Pada satu sisi, guru ingin menancapkan kewiba-waannya di mata siswanya, tetapi pada sisi lain ada perut yang harus diisi, ada dapur yang harus mengepul, uang kontrakan yang harus dibayar,dan ada anak yang harus dibiayai. Apa daya, guru terpaksa bekerja ekstra, terpaksa memberi les tambahan, terpaksa mengajar di berba-gai tempat, bahkan menyambi sebagai pengojek. Jadi, indikasi merosotnya wibawa guru adalah karena adanya impitan ekonomi. Di samping itu, masuknya budaya asing dan kemajuan teknologi dianggap sebagai pemicu perubahan perilaku anak sekolah. Adanya tawuran, geng motor, masuk-nya narkoba di lingkungan sekolah, dan rusaknya moral remaja adalah contoh yang konkret. Aura kewiba-waan guru mutlak harus terpancar dan merasuk ke dalam jiwa murid-muridnya.
Untuk menegakkan wibawa yang runtuh itu, diperlukan kebesaran hati guru itu sendiri dengan mau berjuang untuk memperbaiki kinerja dan meningkatkan kompetensi serta profe-sionalismenya. Guru yang smart dan berwawasan luas dapat menyihir siswa-nya serta membuat takjub dan terkesima sehingga si murid akan menaruh hormat kepadanya. Akan tetapi, apa daya, karena beban kerja yang tinggi untuk mengejar setoran, si guru tidak sempat mengasah diri dan membuat dirinya bernilai. Harga diri yang jatuh dan wibawa yang terhempas telah menimpa guru kita. Akankah keadaan ini dibiarkan? Tugas mulia guru harus diganjar dengan penghargaan dan apresiasi yang tinggi. Bukan sebaliknya, guru malah harus rela gajinya tidak dibayar dalam jangka waktu berbulan-bulan dan disunat oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

B. KAJIAN WIBAWA GURU

Dengan membaca beberapa kajian, kita dapat melihat sketsa kehidupan yang terjadi di sekitar kita. Nilai-nilai budi pekerti dapat dipetik dalam karya sastra. Sebaliknya, unsur negatif dan kerusakan moral yang terjadi di bumi ini pun dapat terekam dalam karya sastra. Karya sastra era 1960-an dan karya sastra era 2000-an memiliki perbedaan yang mencolok apabila dikontraskan.
Dalam kajian ini, ditemukan pertentangan wibawa guru antara sosok guru dalam era 1960-an dan era 2000-an. Terlihat dalam data dan analisis sebagai berikut.

Pada era 1960-an, wibawa guru masih terpancar. Murid masih mengagumi gurunya, menaruh hormat, dan menempatkan guru pada derajat yang tinggi. Murid berlomba-lomba menolong gurunya supaya mendapat pahala. Sosok guru dijadikan gantungan untuk bertanya, baik masalah pelajaran, keluarga, bahkan masalah persawahan. Dengan demikian, guru masih dianggap orang yang ahli, banyak ilmu, dan bijak. Di mata murid dan masyarakat, guru lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang tua bahkan pemuka masyarakat. Bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan sang guru merupakan suatu kebanggaan.
Jadi, dalam pada era 1960, citra guru sangat positif. Akan tetapi, pada era 2000-an, wibawa guru memudar. Guru malah diperolokolok-kan, dicemoohi, dan menjadi sosok yang dihindari. Murid tidak menempatkan guru sebagai mitra yang dapat diajak bekerja sama. Murid malahan menempatkan gurunya pada tempat yang negatif. Guru disimbolkan sebagai sosok yang menakutkan, jahat, dan mengerikan. Persepsi murid terhadap guru itu muncul karena ketiadaan wibawa yang melekat pada gurunya. Pelecehan murid kepada guru bukanlah sekedar isapan jempol. Pada kenyataan, ada fakta yang menyebutkan seorang murid tega memukuli gurunyan sampai babak belur karena merasa sakit hati ketika ditegur di kelas. Ada juga murid yang tega menggembosi ban sepeda motor gurunya karena mendapat nilai jelek. Ada pula murid yang berani mengancam gurunya dengan pisau supaya ia diluluskan. Perubahan perilaku di atas terjadi karena terjadinya kemunduran moral dan akhlak.

C. MACAM-MACAM KEWIBAWAAN

Ditinjau dari daya mempengaruhi seseorang, kewibawaan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
1. Kewibawaan lahir;
Kewibawaan lahir merupakan kewibawaan yang nampak dan terlihat pada diri seorang pendidik atau seorang guru. Kewibawaan lahir bisa nampak dari cara berpakaiannya, cara berbicaranya dan dari cara dia bertindak. Kewibawaan lahir ini bisa diraih dengan cara pembentukan fisik dan gerak yang kharismatik ketika berhadapan dengan peserta didik.
2. Kewibawaan Batin;
Kewibawaan bathin merupakan kewibawaan yang dimiliki oleh seorang guru atau pendidik yang tak nampak atau tidak terlihat, namun ketika ia hadir maka setiap siswa dapat merasakan bahwa ia adalah sosok yang mengagumkan dan sosok yang patut untuk dipatuhi perintahnya, harus didengarkan setiaap perkataanya dan harus senantias menaruh hormat kepadanya. Meskipun pendidik tak melakukan atau berbicara apapun, namun karena kewibawaan yang terpancar dari dalam dirinya maka ia akan senantiasa dihormati oleh peserta didik atau muridnya.
Kewibawaan bathin ini bisa didapatkan dengan senantiasa mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri kita atau dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Imam Al-Ghazali pernah berkata jika manusia ingin disebut sebagai manusia yang sesungguhnya maka ia harus senantiasa memperkuat ruhnya dengan amalan-amalan ukhrowi, karena ruh adalah sumber kebahagiaan, ruh adalah pemancar ketenangan dan harapan dan ruh ialah sumber dari kekuatan. Maka, untuk mengoptimalkan potensi ruhaniah yang ada pada diri kita hendaknya seorang pendidik haris senantiasa berdo’a dan mengingat Allah dalam setiap aktivitasnya, teruatama saat mendidik.

D. MEMBENTUK DAN MEMPERTAHANKAN KEWIBAWAAN

Wibawa adalah pengaruh yang baik secara abadi dari seseorang kepada orang lain yang tercermin pada pribadi dan perilaku kehidupannya. Wibawa menumbuhkan ketaatan dengan kesadaran, pengertian, dan persetujuan. Wibawa guru penting untuk memudahkan memberi pengaruh dalam penularan atau penyampaian pembelajaran. Selain itu, wibawa guru akan cenderung menyadari keberhasilan kerjanya. Wibawa guru menunjukkan pengakuan martabat dirinya yang tidak perlu dukungan dari orang lain. Seperti dengan cara intimidasi atau memberikan tekanan pada siswanya.
Oleh karena itu, guru yang berwibawa akan memberikan pendidikan dengan layanan prima dan tanpa pamrih. Siswa akan dididik dengan tulus agar dapat menjalani hidup yang sukses. Perilaku guru pun menunjukkan pribadi yang jujur, adil, taat asas, tulus, dan bijaksana. Sebaliknya, guru yang melakukan pendidikan dengan penekanan cenderung bersifat indoktrinasi yang dipandang bukan pendidikan lagi. Dengan demikian, siswa tidak dididik untuk memiliki kemandirian yang bebas, etis, dan bertanggung jawab sendiri.
Fungsi dan tanggung jawab mendidik dalam masyarakat merupakan kewajiban setap warga masyarakat. Setiap warga masyarakat sadar akan nilai dan peranan pendidikan bagi generasi muda, khususnya anak-anak dalam lingkungan keluarga sendiri. Secara kodrati, apa pun namanya, tiap orangtua merasa berkepentinagn dan berharap supaya anak-anaknya menjadi manusia yang mampu berdiri sendiri. Oleh karena itu, kewajiban mendidik ini merupakan panggilan sebagai moral tiap manusia.
Yang jelas, kaum professional ialah mereka yang telah menempuh pendidikan relative cukup lama dan mengalami latihan-latihan khusus. Oleh karena itulah, dalam pendidikan seorang guru harus mempunyai asas-asas umum yang universal yang dapat dipandang sebagai prinsip umum, seperti:
1. Melakukan kewajiban dasar good will atau itikad baik, dengan kesadaran pengabdian;
2. Memperlakukan siapapun, anak didik sebagai satu pribadi yang sama dengan pribadinya sendiri;
3. Menghormati perasaan setiap orang;
4. Selalu berusaha menyumbangkan ide-ide, konsepsi-konsepsi dan karya-karya (ilmiah) demi kemajuan bidang kewajibannya.
5. Akan menerima haknya semata-mata sebagai suatu kehormatan.
Dan untuk menjadi seorang pendidik (guru) yang professional dan berwibaawa setidaknya ada beberapa persyaratan yang harus dimilki oleh seorang pendidik, baik itu dilihat dari aspek pribadi serta menjalin hubungan (relationship) dengan peserta didiknya. Diantara syarat-syarat tersebut ialah :
1. Berkaitan dengan diri seorang pendidik (guru) :
a) Sehat jasmani dan rohani;
b) Bertaqwa dan memiliki kecerdasan social;
c) Memiliki kecerdasan interlektual dan berpengetahuan luas;
d) Ikhlas;
e) Mempunyai orientasi yang jelas; dan
f) Menguasai bidang yang ditekuni.
2. Berkaitan dengan Sikap guru terhadap peserta didik:
a) Berlaku adil, tidak pilih kasih;
b) Mampu menjadi suri tauladan;
c) Bijaksana terhadap murid;
d) Memiliki kesabaran;
e) Tidak mudah marah dan mampu mengontrol emosi;
f) Mampu memberikan motivasi;
g) Menegur dengan bijak;
h) Memerintah dengan cara yang menyenangkan; dan
i) Mampu merangsang murid berkreasi.
Seorang pendidik yang berwibawa harus banyak melakukan terobosan untuk merangsang dan membangkitkan kreativitas muridnya. Karena peserta didik ibarat kertas putih, ia harus dibiarkan tumbuh apa adanya. Seorang pendidik tidak boleh mengintervensi kesucian hidupnya, tugas pendidik adalah membimbing kejalan yang benar bila ia terlihat melenceng dari jalan kebenaran. Seperti tanaman yang tumbuh degnan subur apabila disirami dan diberi wahana yang cocok, kreativitaspun demikian adanya.

E. KEWIBAWAAN DAN ANAK DIDIK

Perkembangan dan kewibawaan anak didik ditandai dengan tumbuhnya kepercayaan. Dimana hal ini merupakan syarat tekhnik pergaulan yang juga merupakan ’prototype kewibawaan dalam berbagai lingkungan. Dalam lingkungan pendidikan, kepercayaan yang diberikan oleh pendidik kepda anak didik mempunyai dua arti, yaitu :
1. Bahwa keinginan pendidik untuk terus mengikat pribadi anak didik pada dirinya telah dapat diatasi oleh pendidik.
2. bahwa kepercayaan itu adalah suatu sumber bagi anak didik untuk tumbuh dan berkembang.
Kepercayaan itu memberikian dorongan kepada anak didik agar ia berani dan penuh keyakinan serta keinginan berusaha supaya menjadi dewasa. Kedewasaan dapat dikatakan akhir masa pendidikan, dalam arti apabila manusia itu telah dianggap menjalankan kewibawaan atas diri dan segala sesuatu yang dipercaya dan disamping itu tetap mengakui dan patuh pada kewibawaan yaang lebih tinggi.

BAB III
P E N U T U P

A. KESIMPULAN

Tak ada gading yang tak retak, itulah ungkapan yang cukup bijak untuk mengilustrasikan segala bentuk perbuatan manusia. Dimana manusia adalah makhluk yang sempurna dengan segala keterbatasan dan kekurangannya. Manusia dikategorikan sebagai makhluk yang mempunyai peradaban, dan sebuah peradaban tidak bisa dipisahkan dari apa yang diwariskan oleh nenek moyangnya, salahsatunya adalah warisan sejarah, ideology dan bahasa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mernghargai sejarah dan jasa para pahlawaannya, itulah peribahasa bangsa Indonesia yang hingga saat ini dan semoga pada masa yang akan datang akan tetap ada.
Untuk menegakkan wibawa guru, pada era ini diimbau untuk memberikan contoh berupa nilai-nilai budi pekerti dan moral dalam tulisannya agar pembaca, khususnya remaja dapat memperbaiki perilakunya yang menyimpang. Tempatkanlah guru pada kedudukan semestinya. Janganlah guru dijadikan bulan-bulanan dan objek penderita. Untuk menegakkan wibawa guru, setiap guru harus meningkatkan kinerja dan profesionalismenya. Guru dituntut untuk proaktif meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya agar dihargai murid. Guru yang pintar dan cerdas mampu membuat murid terkesima dan murid akan kembali memuja dan menjunjung tinggi guru.
Orang tua dan guru bertugas memfilter pengaruh budaya dan tekhnologi agar tidak membawa dampak negatif. Peran orang tua dan guru mutlak diperlukan. Orang tua harus peka menangkap kegelisahan dan kegalauan emosi remaja. Hubungan anak dan orang tua harus dekat dan harmonis. Anak tidak usah diberi aturan yang kaku dan memaksa, tetapi melalui pendekatan personal yang simpatik, mereka dapat diberi pengertian untuk menegaskan tujuan hidup agar mereka memperoleh masa depan yang cerah. Guru pun harus mengubah citra. Citra negatif, kaku, bahkan mengerikan pada figur guru harus dhilangkan. Caranya dengan memperlakukan murid sebagai subjek bukan objek. Memandang murid sebagai mitra yang harus diajak bekerja sama dalam proses belajar mengajar.
Kewibawaan, kebijakan, dan kebijaksanaan harus dimiliki sang guru. Mengumbar emosi di muka kelas bukanlah hal yang efektif. Akan tetapi, jika mengajak siswa berdiskusi dengan penuh keterbukaan niscaya semua masalah di kelas dapat teratasi. Wibawa guru adalah penentu dalam proses pendidikan. Guru yang tidak berwibawa akan sulit menciptakan suasana yang kondusif di ruang kelas. Guru yang tidak berwibawa derajatnya akan turun. Siswa akan menganggap guru sebagai orang bayaran. Ungkapan pahlawan tanpa tanda jasa akan menguap dari benak murid jika sang guru tidak memiliki kewibawaan.
Untuk menegakkan wibawa guru, pengarang padan era ini diimbau untuk memberikan contoh berupa nilai-nilai budi pekerti dan moral dalam tulisannya agar pembaca, khususnya remaja dapat memperbaiki perilakunya yang menyimpang. Tempatkanlah guru pada kedudukan semestinya. Janganlah guru dijadikan bulan-bulanan dan objek penderita.
Untuk menegakkan wibawa guru, setiap guru harus meningkatkan kinerja dan profesionalismenya. Guru dituntut untuk proaktif meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya agar dihargai murid. Guru yang pintar dan cerdas mampu membuat murid terkesima dan murid akan kembali memuja dan menjunjung tinggi guru.

B. EPILOG PERENUNGAN

Guru yang menunjukkan unsur-unsur wawasan pendidikan, komitmen, bertangung jawab dan kompeten biasanya akan berwibawa besar (Zantiarbi, S, 1988). Pertama, wawasan pendidikan berarti melakukan tindakan yang bijak berdasarkan keilmuan/teori dalam mendidik baik pada transfer ilmu, maupun pada perbuatan membina kepribadian siswa secara menyeluruh hingga mencapai gambaran identitas dirinya. Guru yang berwawasan pendidikan secara luas dan mendalam akan memahami tujuan pendidikan dan pembelajaran untuk memperbaiki perilaku kehidupan siswa, yaitu seolah menentukan "nasib" masa depan siswa. Selain itu, seyogianya menyadari efek samping perbuatan guru yang berakibat kesesatan hidup siswa.
Kedua, komitmen berarti menyatakan (to profess) terpanggil (vox) atau bertekad untuk memangku suatu jabatan dengan sesungguhnya. Yaitu pernyataan atau janji secara terbuka (ikrar) mengenai panggilan jiwa untuk mengabdikan diri kepada jabatan guru sehingga tumbuh perilaku sabar dan tekun melaksanakan tugas, terutama dengan tulus menyayangi dan menerima siswa yang bagaimanapun keadaannya.
Ketiga, tanggung jawab berarti memiliki kompetensi pendidikan keilmuan. Yaitu khusus mengenai pembelajaran siswa dan tanggung jawab terhadap kemaslahatannya. Selain itu, memberi kewenangan mengambil keputusan yang tepat bagi siswa dan dirinya untuk pengamanan terjadinya kesalahan yang merugikan dan mengakibatkan malapetaka.
Keempat, kompeten menggambarkan penguasaan kecakapan yang memberi kewenangan untuk memutuskan sesuatu perbuatan/tindakan. Kecakapannya itu akan menunjukkan percaya diri dalam melakukan tugas dan mengundang keseganan bagi siswanya. Sehingga pada gilirannya perasaan siswa yang menyegani guru akan tumbuh wibawa terhadapnya. Unsur kompetensi guru berkaitan dengan penguasaan kecakapan pedagogik, didaktik, metodik, penggunaan alat bantu/media, dan keterampilan mengajar.
Oleh karena itu, usaha meningkatkan wibawa guru dapat dilakukan melalui wahana lembaga pengawas/penilik guru dan lembaga pendidikan guru. Pengawas/penilik dapat menyiapkan program bantuan peningkatan wibawa guru, di antaranya melakukan reedukasi dan refleksi pada guru mengenai wawasan pendidikan, komitmen tugas, tanggung jawab profesional dan kompetensi guru.

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai, Dr., 2007. Reformulasi Pendidikan Islam, Ciputat: CRSD Press.
H. Gunawan, Ary. 2006. Sosiologi Pendidikan Suatu Analisis Sosiologi tentang Pelbagai Problem Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Jalaludin, Prof. Dr. H & Prof. Dr. Abdullah Idi, M.Ed. 2007. Filsafat Pendidikan: Manusia, Filsafat, dan Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruz Media.
Johnson, Lou Anne. 2009. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik: Cara Membangkitkan Minat Siswa melalui Pemikiran. Terj. Dani Dharyani. Jakarta: PT. Indeks.
Khalifah, Mahmud & Usamah Quthub., 2009. KAIFA TASHABAHA MU’ALLIMAN MUNAZIYAN (Menjadi Guru yang Dirindu, Bagaimana Menjadi Guru yang Memikat dan Profesional). Terj. Muhtadi Kadi & Kusrin Karyadi. Surakarta : Ziyad Visi Media.
Nurteti, Lilis., S.PdI, M.Pd. 2009. PEDAGOGIK Pengantar Teori Analisis, Untuk Kalangan Mahasiswa Institut Agama Islam Darussalam (IAID) Ciamis.
Ramayulius, Prof. Dr. H., 2007. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Ramly, Tengku Amir., 2008. MENJADI GURU IDOLA Mengajar dari Kedalaman Hati. Bekasi : Pustaka Inti.
Sumiati, Dra. & Asra, M.Ed. 2007. Metode Pembelajaran, Bandung : Wacana Prima.
Tafsir, Ahmad, Prof. Dr., 2006. Filsafat Pendidikan Islami (integrasi jasmani, rohani, dan kalbu memanusiakan manusia), Bandung : Remaja Rosdakarya.
Tholkhah, Imam, Dr., 2008. Profil Ideal Guru Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Titian Pena.
Widodo, Ardi, Dr., 2007. Kajian Filosofis Pendidikan Barat dan Islam, Jakarta: Nimas Multima.
Jalasutra Egleton Terry. ikbud. 2004. Kamus Besar Bahasa Baku. Jakarta: Balai Pusat.
Soetjipto. 2004. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta
http://menaraislam.com/content/view/75/40/
http://fdj-indrakurniawan.blogspot.com
http://lorongedukasi.wordpress.com/
http://newspaper.pikiran-rakyat.com
http://www.idonbiu.com/2009/04/upaya-meningkatkan-citra-guru.html

Tidak ada komentar: