25 Februari 2014

New Home New Hope

Tempat tinggal baru, harapan baru. Inilah yang saya maksud dengan judul diatas. Tak henti saya mengucap syukur kepada Allah yang Maha Pengasih atas segala nikmat yang diberikan, meski mungkin syukur ini hanya setetes di lautan rahmat-Nya. Ya, hari ahad tanggal 2 Februari 2013 tepatnya, saya dan istri hijrah dari rumah dinas Yayasan Multazam Panawangan menuju sebuah tempat tinggal baru di Gang Tangga, Rajadesa dan mendapat predikat baru sebagai ‘kontraktor’ alias kami tinggal di kontrakan. Seperti namanya, Gang Tangga. Lokasi menuju tempat tinggal saya baru ini memasuki sebuah gang dan menanjak layaknya sebuah tangga.
Kontrakan yang sederhana, namun segalanya terasa mewah karena hari-hari yang akan dilalui akan diliputi dengan bahagia dan cinta. Saat ini mungkin kami berdua, tapi bulan depan kami akan kedatangan penghuni baru. Calon buah hari kami, insyaAllah.

Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa kami pindah, tapi pada dasarnya kami ingin belajar mandiri. Membangun rumah tangga sendiri. Tanpa ada campur tangan orang lain. Karena di Rumah Dinas Yayasan Panawangan kami tinggal bersama 2 lainnya yaitu adik saya dan Bang Ohim, sang penjaga sekolah.

Di tempat tinggal baru ini sejatinya kami benar-benar belajar bagaimana membangun rumah tangga. Disinilah kami tinggal dan mengisi hari-hari yang akan dilewati dengan penuh harapan. Harapan akan rizki yang baik, harapan akan diri yang senantasa bersunggh-sungguh dan point terpenting adalah harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Susah atau senang, suka maupun duka biarlah kami berdua yang merasai dan menjalani.

Alasan lainnya pun adalah karena tempat tinggal baru kami dekat dengan kantor istri saya, hanya dengan berjalan kaki sekitar 5 menit saja menuju tempat kerja. Sehingga setiap pekan tak perlu pulang pergi Rajadesa-Ciamis menggunakan ojeg atau motor. Adapun saya harus mengalah karena tetap harus mengajar dan latihan Pramuka di MTs Multazam Panawangan setiap hari Kamis sampai dengan Sabtu.

Sungguh, disini kemandirian itu sangat terasa. Kami selalu berbagi tugas untuk menjalani aktivitas harian rumah tangga, dari mulai memasak, mencuci pakaian, membersihkan peralatan kotor dan lainnya. Maka, kami belajar bahwa setiap pasangan tidak boleh saling mengandalkan. Tak ada dalam kamus manapun bahwa mencuci pakaian kotor adalah tugas istri, ini hanyalah kelaziman yang dianggap menjadi kwajiban seorang istri. Tidak, rumah tangga yang dibangun adalah untuk berdua, untuk kebaikan keluarga, maka mari para suami untuk tak terlalu menuntut istri, dan kepada para istri selalulah fahami keinginan suami. Jika saling mengerti dan memahami, insyaAllah konflik rumah tangga dapat diminimalisir.

Selamat datang untuk ku, untukmu wahai istriku, untuk kita berdua. Disinilah untuk sementara kita akan mengayuh biduh rumah tangga ini berdua dan bersiap menyambut kedatangan sahabat kecil kita, buah hati yang akan menjadi pelipur lara dan penghibur duka dalam keseharian kita. Dan esok, semoga kita temukan rumah impian itu.

Disinilah, kami munajatkan setiap harapan pada-Mu dalam gelap dan terang. Saat ramai dan sepi. Waktu pagi dan senja, juga siang dan malam-malamnya.
Disinilah, kami tahbiskan pada-Mu sebagai manusia baru yang ingin terus menerus berharap raih ridlo dengan bimbingan-Mu.
Disinilah, kami haturkan sembah sujud syukur pada-Mu kala duka menganga pun saat bahagia menyapa.
Berkahilah tempat tinggal kami. Hanya Engkaulah yang Maha Menggenggam setiap keadaan. Karena, setiap perlindungan-Mu adalah tempat teraman bagi kami dan penjagaan-Mu adalah rumah ternyaman untuk kami.

Tempat baru, menyuguhkan harapan baru,
Harapan untuk kehidupan yang lebih baik,
Harapan akan duka yang terhapus bahagia,
Atas nama-Nya dan dalam balutan kasih-Nya,

Kita akan merayakan hari-harinya dengan sabar dan syukur.

Tidak ada komentar: