16 Desember 2011

Makalah: Tafsir Ayat Qur an Menjaga Shalat dan Shalat Sebagai Penghapus Dosa


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Al Qur’an, kitab umat Islam di seluruh dunia. Bukan hanya sekedar kumpulan lembaran-lembaran yang di baca dan mendapatkan pahala dengan membacanya. Namun lebih dari itu,  AlQur’an merupakan mukjizat yang abadi sampai akhir nanti, bahkanAl Qur’an memberikan hujjah dan sebagai penolong di hari perhitungan amal kelak. Didalam Al Qur’an terdapat kandungan pengetahuan yang tiada tara. Baik yang tersurat ataupun yang masih tersirat.

Untuk mengetahui makna-makna dan hikmah-hikmah yang terdapat dalam Al Qur’an, perlu adanya penafsiran-penafsiran tentang ayat-ayatnya dan semua itu terdapat di dalam ilmu tafsir. Diantara ilmu-ilmu Al Qur’an, tafsir merupakan ilmu yang mencakup berbagai disiplin ilmu. Di dalamnya terhimpun tafsir dari sudut balaghoh, nahwu, sorof, asbab nuzul, munasabah, hadist, tarikh, dan lain sebagainya.
Begitu vitalnya ibadah shalat bagi orang Islam, hingga dalam tafsir an Nasafi Juz 1 halaman 39 disebutkan bahwa RasuluLlah menyebut shalat sebagai tiang agama dan menjadikannya pemisah bagi orang Islam dan kafir.
Ajaran Islam menempatkan shalat lima waktu sebagai sebuah ibadah mahdhoh (ritual) yang memiliki keistimewaan. Rasulullah Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah shalatlima waktu dari Allah subhaanahu wa ta’aala dengan cara yang juga sangat istimewa. Allah ta’aala memperjalankan hambaNya dalam suatu malam menempuh horizontal journey from earh to earth dari masjid Al-Haram di Makkah ke Masjid Al-Aqsho di Baitul Maqdis (Jerusalem). Selanjutnya Allah ta’aala perjalankan hamba-Nya dalam suatu vertical journey from earth to the heavens in the sky dari Masjid Al-Aqsho di Baitul Maqdis bertemu langsung dengan Allah ta’aala di langit tertinggi. Lalu pada saat beraudiensi langsung dengan Allah ’Azza wa Jalla itulah Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menerima perintah menegakkan shalatlima waktu setiap hari.
Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الصَّلاَةُ وَعَمُودُهُ الإِسْلاَمُ الأَمْرِ رَأْسُ
“Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat.” (HR. Tirmidzi no. 2825. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan At Tirmidzi). Dalam hadits ini, dikatakan bahwa shalat dalam agama Islam ini adalah seperti penopang (tiang) yang menegakkan kemah. Kemah tersebut bisa roboh (ambruk) dengan patahnya tiangnya. Begitu juga dengan islam, bisa ambruk dengan hilangnya shalat.
Dalam menafsirkan ayat-ayat Al Qur’an diperlukan ilmu yang luas. Maka dalam makalah ini akan di coba menguraikan tafsir tentang ayat-ayat yang berhubungan dengan perintah menjaga/memelihara shalat serta shalat sebagai penghapus dosa yaitu pada: Q.S. Al-Baqarah [2] : 238-239 dan Q.S. Al Maa’un [107] : 4-5.

B.   Tujuan Pembuatan Makalah
1.    Agar mahasiswa tahu tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan perintah Allah untuk menjaga shalat.
2.    Agar para mahasiswa dapat memahami tentang betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seharai-hari guna menumbuhkan disiplin dan kesadaran diri untuk meriah cinta-Nya.
3.    Agar mahasiswa dapat memahami tentang urgensi shalat sebagai tiang agama. sebagai pengahpus dosa-dosa kecil.
4.    Agar mahasiswa dapat mengetahui bahwa shalat dapat menghapus dosa-dosa kecil sebagaimana gugurnya daun-daun kering yang tertiup angin.

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Qur’an Surat Al-Baqarah [2] : 238-239
1.     Teks Ayat dan Terjemah
(#qÝàÏÿ»ym n?tã ÏNºuqn=¢Á9$# Ío4qn=¢Á9$#ur 4sÜóâqø9$# (#qãBqè%ur ¬! tûüÏFÏY»s% ÇËÌÑÈ   ÷bÎ*sù óOçFøÿÅz »w$y_̍sù ÷rr& $ZR$t7ø.â ( !#sŒÎ*sù ÷LäêYÏBr& (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $yJx. Nà6yJ¯=tæ $¨B öNs9 (#qçRqä3s? šcqãKn=÷ès? ÇËÌÒÈ
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. Jika kamu dalam Keadaan takut (bahaya), Maka Shalatlah sambil berjalan atau berkendaraan. kemudian apabila kamu telah aman, Maka sebutlah Allah (shalatlah), sebagaimana Allah telah mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”

2.     Asbabun Nuzul
Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim bahwa sebab turunnya ayat diatas adalah:
Dari Abu ‘Amr Asy-Syaibani ia berkata: telah berkata kepadaku Zaid bin Arqam, “Sesungguhnya kami pernah berbicara dalam shalat pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, salah seorang di antara kami berbicara kepada temannya untuk kebutuhannya sehingga turunlah ayat, {Peliharalah segala shalat(mu)…..}, maka kami diperintahkan untuk diam (ketika dalam shalat).” (Bukhari, no: 1200, dan Muslim, no: 1203).

3.     Tafsir Ayat
Pada ayat 238 Allah Ta’ala memerintahkan untuk memelihara, { الصَّلَوَاتِ عَلَى } “shalat” secara umum dan, { الْوُسْطَى الصَّلاَةِ } “Shalat wustha” yaitu shalat ashar pada khususnya. Memelihara shalat adalah menunaikannya pada waktunya, dengan syarat-syaratnya, rukun-rukunnya, khusyu’ padanya, dan seluruh hal yang wajib maupun yang sunnah. Dengan memelihara shalat kita akan mampu memelihara seluruh ibadah dan juga berguna untuk melarang dari hal yang keji dan mungkar, khususnya jika disempurnakan pemeliharaannya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya, { قَانِتِينَ للهِ وَقُومُوا } “Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’. “yaitu dengan rasa rendah yang tulus ikhlas dan khusyu’, karena patuh itu adalah ketaatan yang langgeng yang dibarengi dengan kekhusyu’an.
Pada ayat 239 firman-Nya, { خِفْتُمْ فَإِنْ } “Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya)”; hal yang ditakuti tidak disebutkan agar ketakutan tersebut adalah rasa takut dari perkara yang lebih umum seperti dari musuh, binatang buas, dan kehilangan suatu hal yang dikhawatirkan oleh manusia. Maka shalatlah kalian, { رِجَالاً } “sambil berjalan”, berjalan di atas kaki kalian, { رُكْبَانًا أَوْ } “atau berkendaraan” di atas kuda, unta atau segala macam kendaraan. Dan dalam kondisi seperti ini tidaklah harus menghadap kiblat.
Inilah sifat shalat orang-orang yang berhalangan karena ketakutan, lalu apabila telah berada pada kondisi yang aman, maka ia harus shalat dengan sempurna, dan termasuk dalam firmanNya, {فَإِذَآ أَمِنتُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ } “Kemudian apabila kamu telah aman, maka sebutlah Allah (shalatlah)” dengan menyempurnakan shalat, dan termasuk didalamnya juga adalah memperbanyak dzikir kepada Allah sebagai rasa syukur kepadaNya atas nikmat keamanan dan nikmat pendidikan yang merupakan kebahagiaan seorang hamba.
Ayat ini juga menunjukkan keutamaan ilmu dan bahwa orang yang diberikan ilmu oleh Allah tentang perkara yang sebelumnya dia tidak ketahui, maka wajiblah atasnya memperbanyak dzikir kepadaNya, dan ayat ini juga merupakan tanda bahwa memperbanyak dzikir kepadaNya menjadi faktor penyebab diberikannya ilmu-ilmu yang lain, karena kesyukuran itu diiringi dengan penambahan.

4.     Penjelasan Ayat
Pada ayat 238-239 ini Allah Ta’ala menjelaskan tentang larangan berbicara di dalam shalat dan wajibnya khusyu’ di dalam menunaikan ibadah yang agung ini serta ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) di dalam menjalankannya setelah pada ayat-ayat sebelumnya dijelaskan tentang hukum terhadap hal-hal yang terkait dengan masalah talak (perceraian).
Sebagian ulama tafsir menjelaskan tentang hikmah atau hubungan dari ayat ini dengan ayat sebelumnya bahwa disebutkannya perintah shalat secara khusus pada ayat yang disebutkan setelah perkara-perkara yang berkaitan dengan talak, karena talak mejadikan seseorang disibukkan dengan urusan-urusan keluarga, wanita dan anak-anak, sehingga hal tersebut merupakan tempat yang diperkirakan menjadi sebab ditinggalkannya shalat dan amal ibadah lain secara umum, sehingga Allah Ta’ala perintahkan agar senantiasa menjaga shalat dan jangan disibukkan dengan urusan-urusan wanita. Demikian sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Biqaa’I dalam ‘Nazhmu Ad-Durar’ dan juga oleh Al-Alusi dalam kitab tafsirnya (Ruhul Ma’ani).
Dalam hal ini Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya, bahwa urutan ayat adalah bersifat ‘tauqifi’ yang tidak ada tempat bagi aqal didalamnya untuk berijtihad dalam menentukannya, dan Allah lebih tahu dengan maksud yang Dia kehendaki; dan sebagian ulama tafsir telah mencari dan mencoba menyebutkan hikmah tentang hal ini; akan tetapi ketika apa yang mereka sebutkan tidak dapat dipastikan (sebagai hikmah dari hal ini) kami menahan diri untuk menyebutkan hikmah-hikmah tersebut; dan kami serahkan ilmunya kepada Yang menurunkan kitab yang mulia ini (al-Qur’an), kami mengetahui bahwa tidak boleh tidak bahwa di sana pasti terdapat hikmah, karena Allah Ta’ala Maha Hakim dan Maha Mengetahui.
Tepat sekali dalam ayat ini Allah menerangkan keutamaan melakukan salat, dan selalu memeliharanya. Kita dapat melihat bahwa keluarga merupakan bagian dari masyarakat dalam memenuhi segala kebutuhan dan persoalan hidupnya banyak sekali menemui kesulitan yang kadang-kadang dapat menjerumuskannya kepada hal-hal yang dilarang agama. Karena itu Allah memberikan suatu cara yang baik untuk dilakukan manusia agar selalu terjamin hubungan keduniaannya dengan ketakwaan kepada Allah yaitu dengan selalu memelihara salat. Mulai dari bangun tidur sebelum melakukan kontak dengan manusia lainnya ia ingat dan bermunajat lebih dahulu dengan Allah (waktu subuh). Kemudian setelah ia berhubungan dengan masyarakat, dan mungkin sekali terjadi perbuatan yang tidak diridai Allah maka untuk mengingatkan dan menyelamatkannya, ia dipanggil untuk berhubungan lagi dengan Allah di waktu tengah hari (salat zuhur). Begitulah seterusnya selama 24 jam. Dengan demikian selalu terjalin antara kesibukan manusia (untuk memenuhi hajat hidupnya) dengan ingat kepada Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. 
Hal ini mempunyai pengaruh dan membekas kepada jiwa dan peri kehidupan manusia itu sendiri sebagaimana ditegaskan Allah bahwa dengan salat itu manusia dapat terhindar dari perbuatan jahat dan mungkar. Selain dari itu memelihara salat adalah merupakan bukti iman kepada Allah dan menjadi syarat mutlak bagi kehidupan seorang muslim, menguatkan tali persaudaraan dan dapat menjamin hak-hak manusia. Karena Shalat merupakan parameter baik buruknya segala macam amal ibadah seseorang, sebagaimana sabda Rasulullah :
ورواه الطبراني بسند جيد عن عبد بن قرط بلفظ أول ما يحاسب به العبد الصلاة ينظر الله في صلاته فإن صلحت صلح سائر عمله وإن فسدت فسدت سائر عمله. كشف الخفاء. حرف الهمزة
“Meriwayatkan Hadits ini, Imam Tabrani dengan sanad yang baik dari Abd Ibn Qurd dengan kalimat; Amal seorang hamba yang pertama yang dihisab (dihitung amalnya oleh Allah) adalah Shalat, Allah melihat shalat seorang hamba, apabila shalatnya baik, maka baiklah amal-amal yang lain, apabila shalatnya tidak baik/cela, maka tidak baiklah amal yang lainnya. Kitab Kasful Khofa’. Huruf Hamzah.”

B.   Qur’an Surat Al-Ma’un [107] : 4-5
1.     Teks Ayat dan Terjemah
×@÷ƒuqsù šú,Íj#|ÁßJù=Ïj9 ÇÍÈ   tûïÏ%©!$# öNèd `tã öNÍkÍEŸx|¹ tbqèd$y ÇÎÈ  
“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.”

2.     Tafsir dan Penjelasan Ayat
Shalat merupakan bentuk formal dzikrullah atau mengingat Allah ta’aala. Bagi seorang muslim betapapun banyaknya lisannya berzikir dalam pengertian ber-wirid setiap harinya, namun bila ia tidak menegakkan shalatberarti ia meninggalkan secara sengaja kewajiban mengingat Allah ta’aala secara resmi sebagaimana diperintahkan Allah ta’aala dan sesuai contoh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam. Shalatadalah bukti kepatuhan dan loyalitas hamba kepada Rabbnya. Shalatlima waktu merupakan indikator seorang hamba masih connect dengan Pencipta, Pemilik, Pemelihara alam semesta. Bila seorang manusia tidak shalatlima waktu secara disiplin setiap hari berarti ia merupakan hamba yang disconnected (terputus) dari rahmat Allah ta’aala. Itulah sebabnya di dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa seseorang bakal celaka walaupun ia shalat. Sebab ia lalai menjalankan shalatnya sehingga tidak selalu disiplin lima waktu setiap harinya.
Di antara alasan utama seorang muslim lalai menegakkan shalatlima waktu setiap hari -apalagi berjama’ah di masjid- adalah karena dihinggapi penyakit malas beribadah. Padahal kemalasan beribadah -khususnya shalatlima waktu- langsung mengindikasikan kelemahan komitmen dan kepatuhan muslim kepada Allah ta’aala. Bahkan sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu mengatakan bahwa di zaman para sahabat radhiyallahu ’anhum hidup bersama Nabi shollallahu ’alaih wa sallam jika ada muslm yang tidak shalatberjama’ah di masjid berarti ia diasumsikan sebagai seorang munafik yang sudah jelas kemunafikannya.
Maka dalam rangka mengikis penyakit malas beribadah seorang Muslim perlu juga memahami apa manfaat shalatlima waktu setiap hari. Di antaranya ialah dihapuskannya dosa-dosa oleh Allah ta’aala. Bayangkan, setiap seorang muslim selesai mengerjakan shalatyang lima waktu berarti ia baru saja membersihkan dirinya dari tumpukan dosa yang sadar tidak sadar telah dikerjakannya antara shalatyang baru ia kerjakan dengan shalatterakhir yang ia ia kerjakan sebelumnya.
Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Shalatlima waktu dan (shalat) Jum’at ke (shalat) Jum’at serta dari Ramadhan ke Ramadhan semua itu menjadi penghabus (dosanya) antara keduanya selama ia tidak terlibat dosa besar.” (HR Muslim 2/23)
Bila seorang muslim memahami dan meyakini kebenaran hadits di atas, niscaya ia tidak akan membiarkan satu kalipun shalatlima waktunya terlewatkan. Bahkan dalam hadits yang lain dikatakan bahwa bila seorang muslim khusyu dalam shalatnya, maka ia akan diampuni segenap dosanya di masa lalu.
Tidak seorangpun yang bilamana tiba waktu shalat fardhu lalu ia membaguskan wudhunya, khusyu’nya, rukuknya, melainkan shalatnya menjadi penebus dosa-dosanya yang telah lampau, selagi ia tidak mengerjakan dosa yang besar. Dan yang demikian itu berlaku untuk seterusnya. (HR Muslim 2/13)
Syaratnya asalkan ia tidak terlibat dalam dosa besar, maka dosa-dosa masa lalunya pasti bakal diampuni Allah ta’aala. Adapun di antara dosa-dosa besar ialah sebagaimana disebutkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam, yakni:
Ketika ditanya mengenai dosa-dosa besar Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: Mempersekutukan Allah ta’aala, membunuh jiwa serta durhaka kepada kedua orang-tua. Dan maukah kalian kuberitakan mengenai dosa besar yang paling besar? Yaitu kesaksian palsu. (HR. Muslim 1/243)
Untuk menghapus dosa-dosa besar tersebut tidak cukup dengan seseorang menegakkan shalatlima waktu. Ia harus menempuh prosedur taubatan nasuha yang khusus. Maka hindarilah sedapat mungkin terlibat dalam mengerjakan dosa-dosa besar. Dalam bahasa berbeda Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengingatkan kita agar menjauhi tujuh penyebab bencana, yaitu:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa sesungguhnya Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Jauhilah tujuh penyebab bencana.” Para sahabat radhiyallahu ’anhum bertanya: “Apa itu ya Rasulullah?” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah ta’aala, sihir, membunuh jiwa yang Allah ta’aala haramkan membunuhnya kecuali dengan alasan yang benar, memakan harta anak yatim, memakan riba, desersi dari medan jihad serta menuduh wanita mu’minah yang memelihara diri sebagai melakukan perbuatan keji.” (HR Muslim 1/244)

3.     Cara Shalat untuk Menghapus Dosa
Bagaimanakah cara shalat mengahaus dosa ata benarkah shalat dapat menghpus dosa, mari kita simak dulu kisah berikut ini.
Abu Utsman mengatakan, "Aku bersama Salman berada di bawah pohon. Dia mengambil ranting kering dan menggerak-gerakkannya sampai daun-daunnya berguguran. Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya seorang Muslim apabila ia berwudhu dan memperbaiki (menyempurnakan wudhunya), lalu ia shalat lima waktu maka kesalahanya berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran' (HR. Ahmad, Nasa'i dan Thabrani)"
Shalat adalah fasilitas tanpa batas, asal kita mampu menggali energi yang terpendam.
ü  Shalat menghapuskan dosa kecil, apabila dosa besar telah ditinggalkan. Kebersihan adalah ciri orang beriman. Noda dan dosa adalah beban. Kita merasa ringan melangkah bila melepas beban. Otak dan jiwa kita itu ibarat komputer raksasa. Bila ia bersih dari virus, tidak overload, ia akan lincah bergerak, cepat bertindak, akurat bersikap, tidak eror, hang dantrouble. Wadah yang bersih itu lebih bermanfaat. Seperti air suci yang mensucikan. Seperti tubuh yang bersih, wangi tentu lebih percaya diri, penuh motivasi, dan siap melangkahkan kaki. Adapun kalau wadah kotor akan bikin kesal. Kalau rusak? Dibuang di tempat sampah.
ü  Shalat lima waktu seperti sungai jernih di depan pintu, lima kali sehari kita mandi, lima waktu.
ü  Shalat menghapus dosa laksana gugurnya daun kering di musim kemarau dan ranting yang meranggas. Sebaigaimana kesaksian Salman, cara Nabi adalah inspirasi pembelajaran "Quantum Tarbiyah".
ü  Shalat menghapus dosa seperti lepasnya beban dari pundak saat rukuk dan sujud. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya seorang hamba ketika berdiri untuk shalat, maka didatngkan semua dosa-dosanya kemudian diletakkan di atas pundaknya. Setiap kali dia rukuk dan sujud, maka dosa-dosa itu berjatuhan darinya" (HR. Thabrani, Baihaqi dan Abu Na'im).
Dalam kondisi yang bersih, suci, bebas dari dosa terasa gamblang dalam memandang, solusi pun datang. Asal shalatnya khusyu', konsentrasi memadukan otak kiri (gerakan ritual) dan otak kanan (memaknai bacaan) serta rasakan sebagai shalat terakhirmu. "Jika kamu berdiri untuk menunaikan shalat, maka shalatlah seprti shalatnya orang yang akan berpisah (meninggal)" (HR. Ibnu Majah)




BAB III
P E N U T U P
A.   KESIMPULAN
Sudah sepatutnya kita menjaga shalat lima waktu. Barangsiapa yang selalu menjaganya, berarti telah menjaga agamanya. Barangsiapa yang sering menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi.
Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga shalat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan shalat.”
Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara shalat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap shalat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan shalat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar shalat dalam hatimu.” (Lihat Ash Sholah, hal. 12)
Oleh karena itu, seseorang bukanlah hanya meyakini (membenarkan) bahwa shalat lima waktu itu wajib. Namun haruslah disertai dengan melaksanakannya (inqiyad). Karena iman bukanlah hanya dengan tashdiq (membenarkan), namun harus pula disertai dengan inqiyad (melaksanakannya dengan anggota badan).
Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).
Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.” (Lihat Ash Sholah, 35-36)
Semoga tulisan yang singkat ini bermanfaat bagi kaum muslimin. Semoga kita dapat mengingatkan kerabat, saudara dan sahabat kita mengenai bahaya meninggalkan shalat lima waktu. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

B.   SARAN
Kewajiban dan syi’ar yang paling utama adalah shalat, ia merupakan tiang Islam dan ibadah harian yang berulang kali. Ia merupakan ibadah yang pertama kali dihisab atas setiap mukmin pada hari kiamat. Shalat merupakan garis pemisah antara iman dan kufur, antara orang-orang beriman dan orang-orang kafir, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah dalam hadist-hadistnya sebagai berikut:
Batas antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)
“Perjanjian antara kita dengan mereka adalah shalat, maka barangsiapa yang meninggalkan berarti ia kafir.” (HR- Nasa’i, Tirmidzi dan Ahmad)
Makna hadits ini sangat jelas di kalangan para sahabat r.a. Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili berkata, “Para sahabat Nabi SAW. tidak melihat sesuatu dari amal ibadah yang meninggalkannya adalah kufur selain shalat.” (HR. Tirmidzi)
Tidak heran jika Al-Qur’an telah menjadikan shalat itu sebagai pembukaan sifat-sifat orang yang beriman yang akan memperoleh kebahagiaan dan sekaligus menjadi penutup.
Sholat sebagai suatu tarbiyyah yang begiu luar biasa yang mengajarkan kebaikan dalam segala aspek kehidupan, sebagai pencegah kemungkaran dan kemaksiatan, sebagai pembeda antara orang yang beriman dan orang yang kafir, sholat sebagai syariat dari Allah dalam kehidupan,semoga dapat difahami, diamalkan dan diaplkasikan dengan benar dalam kehidupan kita.
Kebenaran datang dari Allah semata dan kesalahan-kesalahan takkan lepas dari kami sebagai manusia yang menmiliki banyak kekurangan.
Wallahu A’lam Bisshawab ...

Daftar Pustaka

Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, dar As-Salam, Riyadh, cetakan pertama Tahun 2000 masehi
Al-Minhaj syarh Sohih Muslim, Imam Nawawi, Dar Al-Ma’rifah
Jami Al-‘Ulum wa Al-Hikam, Ibnu Rojab, tahqiq Al-Arnauth
Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar, Syaikh Abdul Malik Romadhoni, maktabah Al-Asholah
Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Al-Banna, dar Ibnu Hazm, cetakan pertama
Fawaid Al-Fawaid, Ibnul Qoyyim, tahqiq Syaikh Ali Hasan, Dar Ibnul Jauzi
Al-Ikhlash, Sulaiman Al-Asyqor, dar An-Nafais
Silsilah Al-Ahadits As-Sohihah, Syaikh Al-Albani
Aina Nahnu min Akhlak As-Salaf, Abdul Aziz bin Nasir Al-Jalil, Dar Toibah
Waqofaat ma’a kalimaat li Ibni Mas’ud, transkrip dari ceramah Syaikh Sholeh Alu Syaikh
Tazkiyatun Nufus, Ahmad Farid
Materi Hadits Tentang Islam, Hukum, Ekonomi, Sosial dan Lingkungan., Dra. Oneng Nurul Badriyah M.Ag




Tidak ada komentar: