6 Juni 2010

OBSESI KAMMI MEREBUT MASA DEPAN (Sebuah Refleksi Untuk Aksi)

Oleh: Syamsudin Kadir

Seberkas cahaya merah menyemburat di ufuk timur tatkala negeri ini telah melewati masa-masa kelamnya. Dari nadir reformasi yang telah merubah wajah negeri ini selapis demi selapis, kita diharuskan untuk terus berbenah atas nama diktum sejarah. Satu demi satu kembali ditata dalam upaya pemenuhan keadilan dan pemerataan kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Ya, kita sedang berjuang menakar waktu atas nama keadilan atau keserakahan, kemakmuran atau kehancuran.
Kompleksitas problematika bangsa ini telah berhadapan dengan kita secara langsung. Kita bahkan nyaris mengurungkan diri untuk terlibat menjadi bagian dari solusi, pada saat di mana seharusnya kita terlibat. Pertanyaan tajampun menabrak keangkuhan kita; di manakah posisi dan apa peran kita?
Aktivis pergerakan mahasiswa, utamanya yang berafiliasi dengan pergerakan dakwah pemuda Islam sebagai bagian dari arus utama dalam menggelindingkan kobaran reformasi memiliki tugas sejarah yang mesti ditunaikan. Pilihan itupun mengarah kepada langkah dengan sebuah proyek jangka panjang dengan kekhasan dakwah mahasiswa, menempa pribadi menjadi muslim sejati agar mampu bergerak karena tanggungjawab yang diemban dengan menggengam erat semangat kontribusi. Ya, bangsa ini butuh kader-kader KAMMI.
Agenda hari ini telah menemukan monumen kecil yang tertanam antara tahan-tahun masa transisi, baik sebagai bagian bangsa ini maupun sebagai bagian dari gugusan peradaban yang sudah terseok-seok. Sebelas tahun usia reformasi sudah berlalu, kini bangsa Indonesia memasuki sepuluh tahun kedua. Tantangan yang dihadapinya pun semakin kompleks, dan karena itu tidak lagi bisa dijawab secara oposisi binner. Gerakan mahasiswa harus turut terjun menyelesaikan problem bangsa dengan narasi besar yang dibawa sejak kelahirannya.
KAMMI yang dilahirkan sejak awal reformasi telah mengukir sejarah dalam posisinya yang tegas. Kini mengawali kisah sejarah dekade kedua usianya, KAMMI harus terus menyempurnakan diri dengan narasi yang radikal tetapi mudah dicerna. Karena faktanya, bangsa ini tidak saja kehilangan orang-orang besar, tetapi juga pikiran besar. Mungkin itu maksudnya, ide KAMMI Ciamis-Tasik mengadakan acara ini. Titik pesannya, KAMMI dan bahkan bangsa ini mesti menata kembali formulasi kebangkitannya. Tentu kita yang hadir di tempat ini mengharapkan forum ini bisa menjadi pustaka ide formulasi baru bagi gerakan mahasiswa untuk (posisi dan peran) Indonesia di masa depan. Karena itu, agenda seperti ini layak diikuti oleh mereka yang memiliki firasat yang kuat untuk merebut masa depan.
Realitas Indonesia menjelaskan bahwa jumlah muslim adalah mayoritas. Sebagai generasi muda Islam, memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa ini adalah keniscayaan. Masa lalu yang kelam mengenai posisi umat Islam yang terus dimarginalkan mesti dibalik ke arus aslinya; ranah kontribusi atau kerja nyata. Adalah tindakan atau perlakuan marginalisasi seperti memperlakukan umat Islam ibarat “kucing kurap” sebagaimana yang sempat disinggung oleh M. Natsir dalam sebuah ungkapannya mesti kita akhiri. Maka menempa diri agar memiliki kompetensi seorang muslim secara matang adalah garansi KAMMI dalam menata masa depan umat dan bangsa ini.
Umat dan bangsa ini sudah sejak lama digerogoti oleh berbagai problematika yang sangat pelik. Berbagai macam teori dan gagasan dilontarkan tapi nyaris hanya berhenti pada ujung pena dan lisan dengan segudang kata-kata berbisa dan berbusa. Karena kata-kata itu tak berujung pada realitas atau agenda nyata. Padahal mengelola negeri ini tidak sekedar mengobral ide dan janji di atas kontrak politik atau berbagai peraturan dan Undang-undang layaknya penjual kacang atau orator kampanye yang tak sabaran. Menawarkan untuk kemudian segera pergi. Padahal negeri ini membutuhkan ide yang bergerak mengikuti dan bahkan mengantarkan kepiluan dan kegelisahan rakyat ke depan altar optimisme dan perubahan. Walaupun kini slogan perubahan sudah berkonotasi masa lalu atau telah lewat dan usang.
Penjualan aset-aset berharga yang dimiliki negeri ini secara tidak bijak, kebijakan-kebijakan yang tidak memihak pada perlindungan seluruh potensi baik yang dimiliki masyarakat, dan mendahulukan kepentingan individu atau kelompok daripada kepentingan bangsa atau publik merupakan salah satu indikasi dari kurangnya mentalitas Pahlawan. Korupsi dan menjual informasi berharga yang dimiliki bangsa ini dengan murah pada bangsa lain menunjukkan hilangnya jiwa kenegarawanan sebagian anak bangsa. Dalam pandangan sederhana, krisis kepemimpinan di tingkat manapun adalah minimnya sosok manusia Indonesia yang memiliki mentalitas dan sikap sebagai Negarawan. Atas dasar itulah figur Negarawan mesti menjadi identitas lain yang mesti dipilih. Negarawan adalah manusia yang mampu mengkrangkakan masalah dalam sudut pandang yang luas, yang mampu membaca arti keragaman dengan cerdas, sekaligus kemampuan mengurai berbagai masalah selapis demi selapis. Dalam konteks perjalanan sejarah, kepemimpinan Rasulullah SAW. dan Umar bin Abdul Azis ra. sangat layak dijadikan sebagai figur keteladanan.
Karena itu, orientasi kaderisasi gerakan dakwah pemuda Islam baik yang bergerak dalam ranah intra kampus maupun ekstra kampus, harus dirangkai atas dasar filosofi bahwa institusinya adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia (bahkan dunia) yang Islami. Artinya, semua elemen mesti berupaya untuk bersikap bijak bahwa ketimpangan bangsa ini harus diselesaikan dengan upaya perbaikan dan tawaran-tawaran solusi yang terbaik. Bahwa pasca bergulirnya reformasi gerakan mahsiswa tidak sekedar menampilkan sosok kepemudaannya sebagai anak bangsa yang kritis, lebih dari itu pemuda adalah pewaris yang sah atas masa depan negeri ini, maka ia ikut bertanggung jawab untuk membangun.
Sebab faktanya, di satu sisi kita memiliki potensi yang sangat luar biasa, namun kita pun belum mampu mengelolanya menjadi kekuatan kolektif yang efektif untuk membangun sebuah peradaban baru. Kita terkadang (untuk tidak dikatakan sering) kehilangan kebanggaan akan peradaban kita, bahkan serta merta kita mengikuti Barat sebagai sebuah peradaban, tanpa koreksi. Bangsa Barat sendiri saat ini sedang mengalami kebimbangan akan peradabannya. Hal ini terwakili oleh berbagai pendapat, di antaranya, John Poustar Dallas, mantan menteri Luar Negeri Amerika Serikat, dalam tulisannya War of Peace (Perang atau Damai) menceritakan tentang kebangkrutan Barat.
Kebangkrutan ini mendorong dan menambah timbulnya krisis keyakinan, kebingungan yang menyerang pikiran manusia, dan erosi kejiwaan yang melanda Barat secara besar-besaran. Penyebabnya menurut ilmuwan Perancis, Alexis Karel dalam bukunya Manusia itu Misterius adalah karena Barat dibangun tanpa mengindahkan tabiat atau karakter manusia. Padahal peradaban itu, menurut Muhamad Quthb dalam buku Tafsir Islam Atas Realitas, ”dibangun untuk manusia”. Dr. Kasis Karl, seorang filosof dan peraih nobel, dalam bukunya Manusia, Itulah Kebodohannya, mengatakan, peradaban Barat hanya berorientasi pada benda-benda mati dan tidak memberikan manusia haknya. Peradaban Barat telah memperbodoh manusia, anugrah hidup, kemampuan-kemampuan serta kebutuhannya.
Sayangnya kita sebagai umat Islam asyik dan terjebak candu dengan peradaban Barat, bahkan sering menjadikan budaya rendahan Barat sebagai tontonan untuk kemudian jadi tuntunan tanpa seleski. Pada saat yang sama kita sering lupa untuk mengambil hikmah peradaban Barat dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologinya. Masih dalam konteks yang sama, kita bahkan sering menutup mata atas fenomenalnya peradaban dunia di masa lalu ketika Islam mengelola dunia. Salah satu fenomena peradaban Islam yang diceritakan oleh sejarah adalah Islam hadir menyelamatkan dunia pada abad pertengahan ketika bangsa Eropa mengalami masa krisis atau The Dark Middle Age. 

Meretas Trend Baru untuk Masa Depan Indonesia
Sejarah pada hakikatnya adalah sebuah panggung pertanggungjawaban terhadap misi otentik penciptaan manusia itu sendiri. Hari ini kita hadir di sini untuk menyambung keterputusan sejarah bangsa kita dari momentum besar: kebangkitan. Narasi kita hadir di sini adalah ide tentang kebangkitan. Hal ini sepertinya mesti menjadi titik tumpu kita dalam menalar kembali posisi dan peran kita dalam menumbuhkan benih-benih kebangkitan gerakan pemuda dan mahasiswa untuk ketercerahan umat dan bangsa ini di masa depan. Karena itu, prinsip-prinsip mengenai pentingnya hubungan yang saling menyatu antara nilai-nilai Islam dalam formasi negara modern, dan landasan Islam dalam pembentukan landasan negara menjadi prinsip dan cita-cita dari berbagai kalangan gerakan Islam di Indonesia- yang selanjutnya terwujud menjadi pandangan politik dan aspirasi umat Islam Indonesia– sangat signifikan. Dalam konteks kekinian, gagasan tentang politik Islam dalam tradisi pemikiran islamisme di Indonesia bisa kita telaah secara mendalam fenomena berbagai Ormas dan Partai Politik berbasis muslim di Indonesia saat ini.
Momentum historis kebangkitan islamisme di Indonesia memang memiliki catatan tersendiri. Kalangan Islam yang berbasis politik ketika kondisi sosial politik menjelang Presiden Soeharto diturunkan, mengambil jalan memutar dengan membuka jalur kultural baru, kemudian mencoba untuk menjajaki formulasi struktural. Yang jelas, perkembangan gerakan Islam global sangat mempengaruhi pandangan dan cita gerakan islamisme di Indonesia. Fenomena muncul dan bangkitnya berbagai gerakan Islam tentu bukan tanpa urusan. Sebab realitanya sebagian masyarakat menganggap fenomena ini sebagai sebuah pelarian ‘komunitas muslim’ tertentu yang secara ‘pelan-pelan’ ingin menjadikan Islam sebagai dasar negara, sekaligus sebagai upaya pelarian dari ‘kekecewaan’ atas kegagalan kekuatan politik umat Islam dalam penentuan islam sebagai dasar negara pada tahun 1945. Sehingga di sebagian kalangan masih menaruh ’curiga’ dan ’khawatir’ dengan fenomena munculnya berbagai gerakan Islam dengan keragaman formulasi-formulasinya dalam mewarnai dinamika politik nasional.
Dari realita seperti ini, kita bisa mengatakan bahwa peluang terbuka untuk melakukan transformasi Islam secara menyeluruh, terutama di ruang publik (struktural), yang dilakukan oleh berbagai elemen gerakan Islam memang tidak selalu dianggap sebagai anugrah tanpa tantangan. Artinya, gerakan politik Islam perlu menggunakan banyak formulasi. Termasuk melakukan upaya rasionalisasi cita-citanya ke ruang publik secara terbuka. Karena kebimbangan publik untuk menerima upaya tranformasi nilai-nilai Islam dalam ruang kekuasaan misalnya, tidak seluruhnya karena kurang memahami Islam, tapi karena memang keterbatasan pengetahuan mereka mengenai visi dan cita-cita gerakan politik Islam. Untuk itu, sekali lagi yang mesti dilakukan adalah masifikasi rasionalisasi dan perluasaan opini publik. Komunitas gerakan Islam mesti meneriakkan secara terbuka kepada penghuni negeri ini bahwa ’kita’ hadir untuk sebuah visi besar yang disederhanakan dalam sebuah ungkapan: Bangkitkan Indonesia!
Jika ditelaah, maka adanya dua kecendrungan kuat di kalangan gerakan-gerakan Islam kontemporer. Pertama, kecendrungan ingin melahirkan arus penegasan kembali identitas dan ideologi (berbasis nilai-nilai) Islam. Kedua, gerakan-gerakan itu secara konkret tengah berupaya mewujudkan cita-cita politiknya ke pentas kehidupan. Dapat dikatakan kedua fenomena tersebut telah menjadi semacam trend baru gerakan-gerakan Islam yang berkembang dewasa ini, sekaligus menjadi indikator keberlangsungan misi peradaban yang diemban para pendukung dakwah dan kaum pergerakan Islam sepanjang masa. Pada kenyataannya kecendrungan yang telah menjadi fenomena itu tidak hanya berskala nasional di skala negeri atau di wilayah tertentu, juga tidak hanya berskala regional. Fenomena ini telah menjadi semacam gerakan masa yang siap memastikan Islam, meminjam istilah Imaduddin Khalil, ”tegak pada skup kemanusiaan, skup negara dan skup peradaban”. Kebangkitan yang sedang dibangun kalangan pergerakan Islam bukanlah terbatas pada tataran konsep yang hanya memproyeksikan sisi tertentu sebagaimana umumnya dipahami sebagian orang. Cakupan kebangkitan bagi gerakan Islam jauh melampaui pranata-pranata politis. Sebab dari sisi filosofis, dilihat dari akar-akar intelektual gerakan dakwah Islam, ada beberapa pemahaman yang dijadikan sebagai pusat rujukan yaitu: pemahaman mengenai ranah Islam sebagai ad-din (keyakinan), Islam sebagai ad-dunya (jalan hidup) dan Islam sebagai ad daulah (tatanan politik). Berpijak atas pemahaman ini maka muncullah pernyataan bahwa politik adalah bagian dari agama, bahwa Islam mengatur baik sektor publik maupun privat, penguasa maupun rakyat, urusan dalam negeri maupun luar negeri dan seterusnya. Maka kebangkitan Islam merujuk dan menuju kepada Islam itu sendiri, yang mencakup keseluruhan jalan kehidupan umat manusia dan peradabannya.
Jika kita mau memahami fenomena munculnya gerakan Islam dalam ruang-ruang publik, terutama study mengenai perkembangan politik Islam di Indonesia, maka kita akan menemukan banyak pesan strategis bagi realisasi nilai-nilai universal Islam dalam ranah-ranah publik. Dalam hal ini, ada banyak hal yang menjadi dasar utamanya. Dalam konteks sosial Indonesia, kita sudah memaklumi bahwa hingga saat ini umat Islam tidak saja telah menyebar luas ke seluruh kepulauan Indonesia, tapi juga telah muncul menjadi agen perubahan sejarah yang sangat penting di negeri ini. Negeri ini terbebas dari cengkraman penjajah Belanda dan sekutu-sekutunya tidak luput dari peran aktif rakyat, di mana umat Islam menjadi komunitas yang berkontribusi paling banyak. Ketika zaman penjajahan, banyak para pejuang dan pahlawan muslim yang mengorbankan jiwa dan raganya. Cita-cita mereka adalah demi berdiri, kokoh dan merdekanya negeri ini dari berbagai bentuk ancaman dan jajahan. Mereka berkorban dan terlibat untuk mewujudkan tujuan berdirinya negeri tercinta ini.
Menurut Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, pada masa perkembangan Islam di Nusantara Indonesia, dari pasar dan pesantren melahirkan kekuasaan politik Islam atau kesultanan, pada abad 9-15. Pertanyaannya, apakah hal ini dapat dipastikan, ‘siapa yang menguasai pasar dan pendidikan atau pesantren, berarti menguasai kekuasaan politik’? Dalam konteks masa depan, sejarah sebagai salah satu cabang Ilmu Sosial perlu mendapatkan perhatian serius dari setiap kalangan, terutama umat Islam negeri ini. Hal ini kita lakukan agar karya Sejarah yang bererdar di sekitar kita atau bahkan yang masuk dalam ruang pikiran kita, tidak bertentangan dengan keaslian sejarah kita. Apalagi jika kemudian –dalam hal tertentu- sejarah adalah cermin kita dalam membangun sebuah perjuangan. Fakta lain misalnya, dalam penulisan sejarah Indonesia, pada umumnya menuturkan adanya kekuasaan politik Islam atau kesultanan di Indonesia, terjadi sesudah kerajaan Hindu Majapahit runtuh. Tidak dimengerti bahwa kerajaan Hindu Majapahit didirikan pada 1294 M atau abad 13 M. Padahal 19 tahun sebelumnya di Sumatera telah berdiri kesultanan Samudra Pasai pada tahun 1274 M. Tidak pula dimengerti bahwa di Aceh telah berdiri kekuasaan politik Islam Aceh pada abad ke-19 M. Tidak dijelaskan pula bahwa di Leran Gersik, Jawa Timur sendiri telah terdapat nisan Sultanah Fatimah Binti Maimun Hibatullah yang wafat pada abad ke-11 M.
Pada umumnya, menurut Prof. Ahmad Mansur Suryanegara (2009:120), keruntuhan kerajaan Hindu Majapahit sering didongengkan akibat serangan dari kerajaan Islam Demak. Padahal reaitas sejarahnya -yang benar- kerajaan Hindu Majapahit runtuh akibat serangan Raja Girindrawardhana dari kerajaan Hindu Kediri pada tahun 1478 M. Keduanya adalah sama-sama kerajaan Hindu. Di Nusantara Indonesia bangkit kekuasaan politik Islam atau kesultanan. Untuk pulau Sumatera diawali dari wilayah Aceh, kemudian menyusul di Jawa Barat, muncul pula di wilayah Sulawesi dan kepulauan Maluku. Kemudian diikuti oleh pulau-pulau lainnya. Proses percepatan pengembangan Islam –selanjutnya- dikuti oleh kalangan bangsawan bahkan raja beralih agama memeluk Islam. Dan semuanya dilalui tanpa perang bahkan darah.
Yang jelas, dari beberapa fakta historis tersebut, kita dapat memahami bahwa Islam tidak merintangi kekhasan bangsa ini. Islam hadir dengan kekhasannya: damai dan menyelamatkan. Dalam konteks politik masa kini, munculnya tokoh-tokoh umat Islam dalam ruang publik negeri ini justru merupakan sebuah keniscayaan sejarah dan hal ini merupakan fakta yang tak terbantahkan. Fakta itu merupakan saksi bahwa umat Islam adalah komunitas yang terlibat secara total untuk bangsa ini. Air mata, gagasan dan darah yang mereka korbankan adalah sebuah bukti sejarah bahwa umat islam merupakan komunitas yang tak bisa dipisahkan dari darah daging bangsa ini. Bahkan sungguh tepat jika kita mengatakan, “jika tidak karena sikap dan semangat perjuangan umat Islam, sudah lama patriotisme di kalangan bangsa ini mengalami kepunahan”.
Sebagai upaya pewarisan, amanah besar yang mesti ditunaikan oleh generasi masa kini adalah melanjutkan peran-peran para pejuang itu; mengisi kemerdekaan yang diperoleh dengan mengelola negeri ini secara maksimal, yang hasilnya diperuntukkan bagi kesejahteraan seluruh warga bumi pertiwi jua. Apa yang kita tunaikan bukan sekedar untuk umat Islam tapi juga untuk semua manusia yang menghuni negeri berpenduduk mayoritas muslim ini. Hal ini kita lakukan untuk menegaskan bahwa sebagai bagian dari warga negara, umat Islam mesti memberikan kontribusi positif atas keberlangsungan dan cita idealis masa depan negeri ini dan peradaban dunia, dengan tidak membeda-bedakn objeknya.
Islam memberikan pemahaman sekaligus keyakinan kepada umatnya bahwa Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan as-Sunnah menyediakan kerangka-kerangka konsepsional maupun teknis mengenai pengaturan seluruh aspek kehidupan umat manusia. Seperti aspek ekonomi, aspek sosial, aspek budaya, termasuk aspek kekuasaan. Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna dalam mengatur perjalanan kehidupan manusia dan peradabannya. Artinya, Islam adalah agama kemanusiaan sekaligus agama peradaban.
Oleh sebagian orang, mungkin pernyataan-pernyataan tersebut masih asing dan mungkin juga cukup berat. Perlu diketahui bahwa ini adalah sebuah penegasan atas banyak ayat yang memang sudah menjelaskan itu semua sejak awal. Kita sudah memaklumi bahwa Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah din yang memberikan rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil’aalamiin. Dalam konteks peradaban, misi ini dikenal dengan misi peradaban Islam. Dalam teori politik Islam, berkuasa atau berperan dalam mengelola kepentingan publik adalah amanah besar yang sudah diatur dan diperintahkan oleh Allah SWT. Dalam Islam, berkuasa atau mengatur urusan publik merupakan sebuah kemestian sejarah bagi umat Islam. Artinya, berkuasa bukan sebuah takdir yang ditunggu tapi sebuah keniscayaan yang mesti dijemput. Islam adalah sebuah risalah peradaban umat manusia. Sasarannya adalah seluruh umat manusia yang mendiami bumi ini. Karena itu jugalah, maka Islam tidak sekedar untuk mengatur dan mengarahkan kehidupan umat Islam semata, tapi juga untuk semua umat manusia.
Selain itu, dalam dunia dan sistem demokrasi yang terbuka ini, mayoritas menjadi star point segala keputusan dan kebijakan. Fakta sosial, budaya dan politik memperlihatkan bahwa umat Islam adalah penduduk mayoritas di negeri ini. Bahkan dalam konteks global Indonesia merupakan negeri berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. Artinya, cukup beralasan bagi umat Islam di negeri ini untuk mengatakan ‘umat Islam adalah sebagian anak bangsa yang memiliki peran sah untuk mengelola dan menata ulang negeri ini bahkan peradaban dunia’. Ini juga dipahami dari sebuah tesis bahwa ‘dialektika antara cita-cita kolektif umat atau anak bangsa dan pesan historisnya melahirkan kondisi pertanggungjawaban yang akan menjadi latar historis masa depan sebuah negeri atau sebuah peradaban’.
Karena itu juga maka proses sejarah yang melahirkan pengaruh Islam di kepulauan nusantara ini mesti dipahami secara jernih. Artinya, pemahaman terhadap sejarah Islam Indonesia mesti dipahami sebagai sejarah Indonesia itu sendiri. Adalah saatnya bagi kita untuk menempatkan sejarah Islam sebagai patokan sejarah bangsa ini. Islam adalah faktor yang paling dominan dalam menopang identitas bangsa ini. Memarjinalkan peran umat Islam atau umat Islam memarjinalkan dirinya sama seperti membonsai kebesaran bangsa Indonesia itu sendiri. Untuk itu, maju-mundurnya pembangunan negeri ini sangat ditentukan oleh peran-peran umat Islam. Energi bangsa ini ada di dalam tubuh umat Islam. Sebagai mayoritas, umat Islam mesti bertanggugjawab penuh terhadap kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata.
Islam yang dijadikan sebagai basis pijakan dalam mengelola urusan publik, termasuk negara, bukanlah kekuatan penentang disintegratif atau sebagai ideologi alternatif. Karena Islam adalah kekuatan integratif bangsa dan negari ini. Format perjuangan umat Islam dalam menata ulang bangsa ini adalah partisipasi penuh, dan bukan sekedar simpatisan. Bahkan menurut Kuntowijoyo, objektifikasi nilai-nilai Islam dalam ruang publik adalah sebuah kemestian sejarah bangsa ini. Menurut beliau, objektifikasi nilai-nilai Islam bisa dilakukan dengan proses tarnsformasi konsep atau ideologi dari wilayah personal-sobjektif ke ranah publik-objektif, dari ranah internal ke ranah eksternal, agar Islam bisa diterima secara luas oleh publik, oleh semua manusia yang menghuni bangsa ini.
Dengan mengajukan beberapa pandangan mengenai nilai-nilai senteral Islam dan unsur-unsur permanen dalam epistemologinya, sesungguhnya kita tak punya alasan untuk cemas pada pemikiran dan kajian-kajian ilmu pengetahuan jika kita percaya bahwa Islam mengintegrasikan antara ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pokok agama. Kita telah melihat dalam sejarah Islam bahwa ilmu pengetahuan justru sangat berkembang karena dimotivasi oleh semangat religius untuk mencari kebenaran. Inilah bukti terbesar bahwa Islam mampu mengadopsi ilmu pengetahuan tanpa harus mengalami kontradiksi, suatu prestasi yang gagal dilakukan oleh agama-agama lain. Persoalannya adalah bagaimana kita dapat melakukan transformasi nilai-nilai Islam pada zaman sekarang, yang menurut Kuntowijoyo, masyarakatnya sering disebut masyarakat industrial atau masyarakat informasi. Strategi apakah yang harus kita lakukan untuk melakukan transformasi dalam masyarakat seperti itu. Untuk menjawab tantangan ini, pertimbangan berikutnya agaknya perlu dikaji.
Pada dasarnya seluruh kandungan nilai Islam bersifat normatif. Ada dua cara bagaimana nilai-nilai normatif itu menjadi operasional dalam kehidupan kita sehari-hari. Pertama, nilai-nilai normatif itu diaktualkan langsung menjadi perilaku. Untuk jenis aktualisasi semacam ini, contohnya adalah seruan moral praktis Al-Qur’an, misalnya, menghormati orangtua. Seruan ini langsung dapat diterjemahkan ke dalam praktik, ke dalam perilaku. Pendekatan semacam ini menunjukkan secara langsung, bagaimana secara legal perilaku harus sesuai dengan sistem normatif.
Cara yang kedua, mentransformasikan nilai-nilai normatif itu menjadi teori ilmu sebelum diaktualisasikan ke dalam perilaku. Agaknya cara yang kedua ini lebih relevan pada saat sekarang ini jika ingin melakukan restorasi terhadap masyarakat Islam dalam konteks masyarakat industrial –suatu restorasi yang membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh daripada sekedar pendekatan legal. Metode untuk transformasi nilai melalui teori ilmu untuk kemudian diaktualisasikan dalam praksis, memang membutuhkan beberapa fase formulasi seperti memahami Islam sebagai teologi, filsafat sosial, teori menuju perubahan sosial.
Mengenai hal ini sebetulnya kita bisa pahami dari pendekatan Rasulullah SAW. dalam dakwah di masa lalu. Piagam Madinah adalah salah satu bukti pendekatan ini. Bila arah ini yang ingin ditempuh oleh umat Islam, maka itu merupakan pilihan cerdas yang berakar pada sejarah. Dari sini jugalah maka muncul pemahaman bahwa diskursus mengenani Islam dan negara, terutama dalam konteks umat Islam mengelola urusan publik (negara), adalah tepat. Karena itu, menanamkan wawasan pertanggungjawaban untuk terlibat secara total dalam mengelola negara kepada umat Islam adalah sebuah kemestian. Ini adalah bagian dari upaya agar kita sebagai umat Islam tidak merasa minder atau merasa menjadi komunitas kelas dua di negerinya sendiri.

Inspirasi Untuk Masa Depan
Kerisauan kita, kerisauan bangsa ini, saat ini adalah bahwa ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri ini, kita justru mengalami kelangkaan generasi handal, semacam pahlawan yang membawa kita alam ruang perubahan. Dengan demikian, ini merupaka isyarat kematian kita sebagai sebuah bangsa. Pahlawan yang kita nantikan tentu bukan sekedar yang mampu membawa kita keluar dari krisis besar atau pahlawan di medan gawat, tapi jauh lebih luas lagi bentangnya – pahlawan dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, kebudayaan dan peradaban.
Sejarah bangsa ini adalah gerita tentang kontribusi dan karya yang tak mengenal jedah. Karena itu juga kita perlu mendefenisikan sejarah sebagai industri para pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang memberi segalanya tanpa menanti penghargaan, bahkan mereka sudah tidak membutuhkan penghargaan. Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Yang membedakan mereka dengan pahlawan gadungan terletak pada satu titik tumpu: keikhlasan. Itu saja. Selain itu semuanya rata-rata sama. Sama-sama mengorbankan harta, waktu bahkan nyawa. Yang satu menikmati surga, yang keduanya mati dalam keadaan kedurjanaan. Tentu yang paling penting adalah bahwasannya –meminjam ungkapan Anis Matta – “pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaa-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis”. Masih menurut Anis Matta, “mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk meberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung. Karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama”.
Generasi masa lalu, generasi tua bahkan realitas sosial memberi kita pelajaran, memberi kita kenyataan bahwa bangsa ini tidak dibangun di atas dasar keterpecahan komunitas bangsa ini, karena justru bangsa ini dibangun atas dasar persatuan setiap generasi, setiap komunitas anak bangsa. Adalah saat ini merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk mengatakan bahwa keragaman gerakan adalah keniscayaan, bahwa keragaman adalah khazanah sekaligus anugrah. Bahkan, bangsa ini dibangun di atas rahim keragaman. Karenanya kita mesti menyuarakan ide mengenai persatuan, ide mengenai kontribusi, ide mengenai integrasinya potensi-potensi anak bangsa ini, agar semuanya menjadi potensi kolektif yang kuat, untuk kemudian memproklamirkan diri secara terbuka di ruang publik: kami siap menata ulang taman indah Indonesia!
Bangsa ini terlalu lama hidup dalam kesengsaraan politik, budaya dan kefakuman kebangkitan. Hari ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk duduk bersama dalam ruang lebar dan mengepakkan sayap-sayap perubahan dalam ruang yang lebih luas: Indonesia. Negeri ini adalah rumah kita sendiri dan bukan milik orang lain. Perasaan memiliki negeri ini mestinya kita tunaikan seperti kita merasa memiliki tangan, mata, telinga bahan semua apa yang kita miliki. Itulah cara terbaik dalam menempatkan bangsa ini dalam ruang perasaan kita. Karena kita hadir di negeri ini bukan kebetulan atau bahkan dipaksa sejarah, karena sesungguhnya kita hadir di negeri ini atas dasar izin Allah, di mana nantinya kita menjadi batu-bata sekaligus air yang menjadi fondasi sekaligus penyejuk keberagaman bangsa ini. Kita semua adalah anugrah bagi negeri ini untuk masa depannya yang gemilang, sekaligus untuk peran strategisnya di pentas peradaban dunia sebagai juru bicara terbaik Asia dan Dunia Islam.
Ide dan sikap-sikap kerdil adalah tembok penghalang yang mesti kita hancurkan. Ia mesti dijauhkan dari pikiran dan sikap-sikap kita. Bangsa ini tidak dilahirkan untuk menghidupi orang-orang yang suka berkerumun, menggibah saudara sebangsa dan setanah air. Apalagi saudara seiman atau seislam. Jika saat ini, ide-dan sikap-sikap tersebut masih terbesit dalam pikiran dan terlihat dalam tingkah kita, maka saat ini juga, saat ini juga: lenyapkan. Jika saat ini kita melihat kader KAMMI atau organisasi apapun masih menyimpan pikiran atau sikap-sikap picik seperti itu, maka saat ini juga kita sampaikan kepada mereka: “kalian adalah manusia kerdil dan sampah yang tidak memiliki apa-apa di mata Allah dan bangsa ini bahkan pada saat kalian merasa memiliki apa-apa di mata manusia atau bahkan di mata kalian sendiri. Sesungguhnya kalian telah mati sebelum fisik kalian mati!”
Sesungguhnya bangsa ini dibangun dan didirikan di atas ide besar, tekad dan semangat, sikap dan akhlak terpuji. Karena itu, sekarang mesti kita bangun kembali dengan dan untuk mereka-mereka yang memiliki ide besar, memiliki tekad dan semangat, memiliki sikap dan akhlak terpuji, bukan untuk mereka yang sombong dan angkuh di balik ketulusan wajah dan fisik mereka. Sebab, negeri ini adalah jembatan bagi kita semua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan bukan untuk menduakan-Nya. Untuk selanjutnya biarlah kita berikrar: kami adalah generasi petualang yang akan terus berkorban memberikan yang terbaik bagi kejayaan bangsa ini dan bahkan untuk peradaban dunia, untuk saat ini dan di masa depan.
Rakyat negeri ini bahkan dunia global sedang menanti kontribusi, menunggu keikhlasan kaki kita untuk melangkah. Karena sesungguhnya negeri ini adalah juru bicara terbaik bangsa-bangsa yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan bangsa-bangsa. Gedung Merdeka Jalan Asia-Afrika di alun-alun Kota Bandung masih menjadi saksi dan akan terus menjadi saksi, bahwa di masa lalu kita pernah menjadi ‘lidah’ sekaligus ‘macan’ tunggal yang memproklamirkan kemerdekaan sekaligus kebangkitan bagi bangsa-bangsa terjajah. Bahwa semua negera, semua bangsa dan setiap komunitas kemanusiaan memiliki hak yang sama untuk hidup dan menata dirinya menjadi sebuah raksasa kebaikan untuk bangsanya sendiri bahkan untuk kebangkitan dunia. Artinya, hari ini kita juga mesti memproklamirkan, mendeklarasikan dan mengatraktifkan hal yang sama: menjadi kontributir terbaik bagi kejayaan bangsa-bangsa dan peradaban dunia.
Untuk itu kita mesti membangun sebuah kepercayaan kolektif, bahwa kita adalah potret masa depan bangsa ini. Kita adalah wajah masa depan umat Islam. Kita bahkan wajah masa depan peradaban dunia. Negeri ini adalah salah satu negara terbesar di dunia, negeri ini adalah negara bermayoritas muslim terbesar di dunia. Karena itu, sekali lagi, kita, negeri ini adalah wajah masa depan peradaban dunia. Kalau dulu negeri ini pernah menjadi juru bicara kebaikan Asia-Afrika di pentas politik global, maka saat ini juga, kita mesti mengulangi peran itu. Maka saat ini, adalah giliran bagi kita semua untuk: tidak sekedar menjayakan bangsa ini saja tapi juga untuk peradaban dunia yang mulai terseok-seok oleh keangkuhan negera-negara adi daya.
Perubahan negeri ini, bahkan kebangkitan sebuah peradaban adalah akumulasi dari kerja-kerja antara generasi. Karena itu, kita sebagai generasi muda mesti berpikir bahwa kita adalah generasi baru, kita adalah tim impian yang akan menata kembali bangsa ini bahkan peradaban dunia. Saat ini yang kita bicarakan adalah persamaan, bahwa kita memiliki sejarah yang sama: pernah dijajah dan merdeka karena soliditas yang kuat. Hari ini kita bicara mengenai persamaan, ide, narasi, kinerja, karya, kemampuan, kekompakan, dan tim besar. Jadi, yang diperlukan bangsa ini saat ini dan ke depan adalah generasi muda yang memiliki keunggulan tekad dan semangat. Dalam konteks ini organisasi-organisasi gerakan pemuda yang ada (terutama KAMMI) idealnya memandang dirinya (hanyalah) organisasi yang tidak lebih besar dari yang lain, karena dalam konteks keragaman KAMMI hanyalah setetes air di lautan Indonesia, hanyalah sedikit darah dari banyak darah yang pernah tumpah di negeri ini, hanyalah sedikit air mata yang pernah mengalir di negeri ini, hanyalah sedikit ide yang pernah berkecamuk hampir 11 tahun di negeri ini. Jadi, sekali lagi, yang dibutuhkan oleh negeri ini sekarang dan ke depan adalah bukan organisasi kacangan yang mudah goyah orientasinya karena uang dan kekuasaan sesaat, tapi yang komitmen dan konsisten dengan nilai-nilai kebaikan dan keluhuran cita-citanya, di mana Islam sebagai basis pijaknya.
Kita mesti menyadari dengan jujur bahwa negeri ini tidak bisa ditata oleh KAMMI sendiri. Karena di samping KAMMI masih ada organisasi lain yang memiliki ide besar untuk bangsa ini. Karena itu, saat ini KAMMI mengajak semuanya untuk keluar dari kandang kita masing-masing dan bertemu pada sebuah lapangan yang lebih luas, untuk meneriakan suatu kalimat: Masa Depan Indonesia. Dan biarlah di lapangan yang luas itu kita menggunakan baju kita masing-masing, dengan warna yang berbeda-beda, dengan keunikan kita masing-masing, tapi dengan satu semangat yang sama, karena hanya satu kata: Indonesia.
Jangan pernah mengatakan atau terbesit untuk mengatakan bahwa kita adalah generasi lemah titisan generasi tua yang mendahului kita. Karena sesungguhnya kita adalah generasi baru yang hidup dalam fase baru bangsa ini, fase keberdayaan. Jangan bungkus tekad kita dalam kamar tidur lelap kemalasan dan keloyoan. Jangan pupus semangat perjuangan kita dalam keletihan dan kelelahan yang kita alami. Karena di dalam tekad dan semangat ada keberdayaan sebagai syarat umat dan negeri ini bangkit menemui takdir kejayaannya. Walaupun berdasarkan hukum ‘Langit’ sebenarnya ia datang dengan atau tanpa kita. Ya, kejayaan akan datang dengan atau tanpa kita.
Kebangkitan umat, bangsa ini bahkan dunia di masa depan adalah sebuah kenyataan yang segera kita peroleh. Kerja kita saat ini adalah menunaikan syarat-syaratnya, agar ia menjadi kenyataan. Saya percaya bahkan mungkin kita semua yang hadir di sini percaya bahwa itulah ide besar KAMMI, mengapa kemudian KAMMI ada atau dilahirkan di atas bumi tercinta Indonesia ini. Ya, KAMMI ada tidak sekedar untuk urusan Indonesia, tapi juga dunia global, bukan saja untuk urusan dunia tapi juga untuk urusan akhirat, insya Allah. Sebagaimana KAMMI ada bukan untuk menegasikan keberadaan gerakan lain yang sudah ada sejak lama. Karena KAMMI ada sebagai generasi baru yang akan menunaikan kewajibannya sebagai perekat dan pemersatu keragaman potensi kebaikan dari berbagai generasi bangsa ini, yang hanya akan KAMMI persembahkan untuk Allah dengan cara: menata ulang (posisi dan peran) Indonesia.
Semangat itu akan terus berkobar, potensi-potensi itu akan terus difungsikan, sehingga ia –yang menurut Prof. Ahmad Mansur Suryanegara- menjadi “api sejarah” yang akan terus menggelora di atas bara kebangkitan Indonesia. Yang jelas, jika bangsa ini terhimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya, yang dapat membuatnya bertahan adalah harapan kita. Sebaliknya, yang akan membuat bangsa ini kalah atau bahkan mematikan daya dan energinya adalah saat di mana kita sebagai sebuah bangsa atau bahkan umat kehilangan harapan. Maka, ketika kita berdo’a kepada Allah, sesungguhnya kita sedang mendekati sumber dari semua kekuatan. Dan apa yang segera terbangun dalam jiwa kita adalah harapan. Harapan itulah kelak yang akan membangun kemauan. Jika kemauan kita menguat menjadi azam (tekad), itulah saatnya kita melihat gelombang tenaga jiwa yang dahsyat. Gelombang yang akan memberi kita daya dan energi kehidupan serta menggerakan segenap raga kita untuk bertindak. Dan apa yang kita butuhkan saat itu hanyalah mempertemukan kehendak kita dengan kehendak Allah melalui do’a dan tawakal.
Akhirnya, gagasan ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu hati yang mulai tergerak dan mulai bekerja, saya mengajak kita semua untuk berdo’a kepada Allah: “Ya Allah, jadikalah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju ridho dan surga-Mu!”

Tidak ada komentar: