31 Oktober 2012

Ulama dan Umaro, Layaknya Ibu dan Bapak



Ini hanya sepenggal cerita yang realistis selepas saya mengikuti pengajian yasinan setiap malam kamis di rumah salahsatu penduduk Sindang, Panawangan yang tengah melaksanakan ibadah haji. Setiap malam kamis jama’ah Masjid jami’ Nurul Huda diundang kerumahnya untuk mendo’akan keselamatan dan kesehatan shahibul haj di Mekkah.
Selepas itu, ada obrolan singkat tentang kehidupan yang terjadi. Dimulai kejadian-kejadian miris di lingkungan sekitar hingga merembet kepada keadaan logis yang menjadi telaah kritis bagi kami semua. Yaitu semakin maraknya  aksi demonstrai yang anarkis, tawuran dimana-mana dan sebagainya.

Ada yang menarik dari sang pencerita, yaitu Pak Satria Gumilar, beliau adalah seorang anggota Polisi yang berdinas di Polsek Jatinagara. Menurut penuturan beliau, salahsatu penyebab terjadinya carut marut di sekitar kita adalah adanya ketidak adailan yang dirasa oleh masyarakat, dan ketidak adilan itu semakin merata.

Saat ini menurut beliau, adanya kesenjangan social antara Ulama dan Umaro. Padahal, keduanya laksana Ayah dan Ibu dalam sebuah keluarga, dan umat ini adalah anak-anak yang dilahirkan dari mereka. Bayangkan, jika seorang ayah bekerja untuk mencari nafkah, kemudian uang hasil kerja tersebut tidak diberikan kepada istrinya untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Apa yang akan terjadi jika demikian, tentu sang istri tidak akan diam saja, ia akan berupaya untuk mendapatkannya dengan cara apapun, termasuk mencurinya.

Ya, saat ini para pejabat banyak sekali yang minta dido’akan untuk kesuksesannya, akan tetapi mereka jarang atau bahkan tidak pernah mendo’akan rakyat yang mendo’akan meraka, disinilah letak maslah itu, disinilah letak ketidak adilan itu. Barangkali kita sudah sangat sering melihat rakyat jelata dan kaum dhu’afa berkumpul untuk berdo’a, akan tetapi saya secara pribadi belum melihat para aparat dan pejabat tinggi berkumpul dalam suatu tempat untuk mendo’akan rakyatnya.

Saat kampanye mereka mengobrl janji, tetapi setelah ‘jadi’ mereka lupa terhadap ucapan yang telah terlontar. Tentunya, rakyat mengharapkan realisasi dari janji-janji yang mereka umbar saat kampanye. Setelah mereka menjabat sebagai birokrat, anggota legislative banyak sekali yang tidak merangkul ulama, banyak sekali yang melupakan ulama bahkan yang sudah mereka kenal pun enggan untuk sekedar bertanya kabar. Umaro adalah khalifah, pemimpin dalam sebuah Negara yang diamanahi upaya untuk menyejahterakan rakyatnya, bukan untuk kantong pribadi. Sedangkan Ulama adalah pemilik ummat yang mengayomi dan menyejahterkan bathinnya. Nah lho, disinilah letak ketidak sinkronan tersebut, jika ayah dan ibu sudah tidak rukun maka anak-anaknya entah menjadi apa.

Patut dijadikan renungan oleh kita bersama, bahwa bangsa ini akan akan mencapai cita-citanya jika ulama dan umaro hidup selaras. Para pejabat dan yang dilimpahi rizki berlebih membantu orang susah dan mendo’akan kaum dhu’afa. Sedangkan rakyat membantu menyukseskan setiap program yang telah dicanangkan untuk kehidupan yang lebih baik. Jika ulama, umaro dan rakyat saling percaya, saling menghormati secara tulus, saling menghargai tanpa pamrih, maka tidak mungkin kehidupan ini dalam keadaan carut marut.

Mari saling mendo’akan, mari saling berbagi dan mari lebih peduli terhadap bangsa ini. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan, yakinilah itu akan berbuah kebaikan. Biarlah kebaikan kita hanya sepercik, tapi percikan-percikan itu jika berkesinambungan akan menjadi lautan luas.

Wallahu A’lam …

Tidak ada komentar: