16 Juni 2011

ABU JABIR, ABDULLAH BIN AMR BIN HARAM


Seorang yang Dinaungi Oleh Malaikat

Sewaktu orang-orang Anshar yang 70 orang banyaknya itu, mengangkat bai’at kepada Rasulullah saw. pada bai’at ‘Aqa­bah II, maka Abdullah bin Amr bin Haram, (Abu Jabir bin Abdullah) termasuk salah seorang di antara mereka.
Dan tatkala Rasulullah saw. memilih di antara perutusan itu beberapa orang wakil, juga Abdullah bin Amr terpilih sebagai salah seorang di antara wakil-wakil mereka, ia diangkat oleh Rasulullah sebagai wakil dari kaum Bani Salamah.
Dan setelah ia kembali ke Madinah, maka jiwa raga, harta benda dan keluarganya, dipersembahkannya sebagai baktinya terhadap Agama Islam. Apalagi setelah Rasulullah hijrah ke Madinah, maka Abu Jabir menemukan nasib bahagianya dengan selalu bertemankan Nabi, baik Siang maupun malam.
Di perang Badar, ia turut menjadi  pejuang dan bertempur sebagai layaknya kesatria. Dan di perang Uhud sebelum Kaum Muslimin berangkat perang, telah terbayang-bayang juga di ruang matanya bahwa ia akan jatuh sebagai korban. Suatu perasaan kuat meliputi dirinya bahwa ia takkan kembali, me­nyebabkannya bagaikan terbang karena suka cita. Maka dipanggil­nya putranya Jabir bin Abdullah, seorang shahabat Nabi yang mulia, lalu pesannya: “Ayahanda merasa yakin akan gugur dalam peperangan ini, bahkan mungkin menjadi syahid pertama di antara Kaum Muslimin. Dan demi Allah, ayahanda takkan rela mencintai seorang pun selain Rasulullah lebih besar dari ananda. Selain itu sebetulnya ayahanda ini mempunyai utang, maka bayarkanlah oleh anakanda, dan pesankanlah kepada saudara-saudara anakanda, agar mereka suka berbuat baik … !”

Pagi-pagi keesokan harinya Kaum Muslimin berangkat hendak menghadapi orang-orang Quraiay, yakni orang-orang Quraiay yang datang dengan pasukan besar, dengan tujuan hendak menyerang kota mereka yang aman tenteram.
Pertempuran sengit pun terjadilah. Pada mulanya Kaum Muslimin memperoleh kemenangan kilat, yang sedianya akan dapat meningkat menjadi kemenangan telak, seandainya pasukan panah yang diperintahkan Nabi agar tetap berada di tempat dan tidak meninggalkannya selama peperangan masih berlang­sung, terpedaya melihat kemenangan terhadap Quraiay ini, hingga mereka meninggalkan kedudukan mereka di atas bukit, lalu berlomba-lomba mengumpulkan harta rampasan dan me­rebutnya dari musuh yang kalah.
Tetapi demi dilihat musuh bahwa garia pertahanan Kaum Muslimin terbuka lebar, musuh yang mulanya mengalami ke­kalahan itu, segera menghimpun siaa-siaa kekuatan mereka, kemudian secara tidak terduga menyerang Kaum Muslimin dari belakang, hingga kemenangan mereka sebelumnya sekarang berubah menjadi kekalahan.
Dalam pertempuran yang amat dahsyat ini, Abdullah ber­tempur dengan gagah berani, ia menghabiskan segala kemam­puannya dalam membela Agama Allah. Pertempuran ini bagi Abdullah merupakan pertempuran terakhir dalam mencapai syahidnya. Tatkala perang telah usai dan Kaum Muslimin meninjau para syuhada, Jabir bin Abdullah pergi mencari ayah­nya, hingga ditemukannya di antara para syuhada itu. Dan sebagai dislami oleh pahlawan-pahlawan lain, mayatnya telah dicincang oleh orang-orang musyrik.
Jabir dan sebagian keluarganya berdiri menangisi syahid Islam Abdullah bin Amr bin Haram. Dan sementara mereka menangisinya itu lewatlah Rasulullah saw. maka sabdanya: Kalian tangisi ataupun tidak, para Malaikat akan tetap menaunginya dengan sayap-sayapnya.
Keimanan Abu Jabir merupakan keimanan yang teguh dan cemerlang. Kecintaan  bahkan kegemarannya terhadap mati di jalan Allah, adalah puncak keinginan dan cita-citanya.
Setelah Abu Jabir wafat, Rasulullah saw. pernah men­ceritakan suatu berita penting yang melukiskan kegemaran Abu Jabir untuk mati syahid ini. Kata Rasulullah pada suatu hari kepada putranya, bernama Jabir: “Hai Jabir! Tidak seorang pun yang dibawa berbicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir. Tapi Allah telah berbicara secara langsung dengan bapakmu.
“Firman-Nya kepadanya: “Hai hamba-Ku, mintalah kepada-Ku, pasti Kuberi . . . !”Maka ujarnya: “Ya Tuhan­ku! kumohon kepada-Mu agar aku dikembalikan ke dunia, agar aku dapat mati syahid sekali lagi … !” Firman Allah padanya: “Telah terdahulu ketentuan daripada-Ku, bahwa mereka tidak akan dikembalikan lagi” “Kalau begitu oh Tuhan” “mohon sampaikan kepada orang-orang di belakangku, ni’mat karunia yang Engkau limpahkah kepada kami”
Hadits Qudsi. Matra Allah Ta’ala pun menurunkan ayat:  “Dan janganlah halian mengira bahwa orang-orang yanggugur di jalan Allah itu mati, tetapi sesungguhnya mereka itu hidup dan diberi rizqi di sisi Tuhan mereka. Merekabersuka ria dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka dan menyampaikan berita gembira kepada orang­orang di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa mereka tidah merasa takut dan tidah pula berdukacita!” (Q.S. 3 Ali Imran: 169 — 170)
Tatkala Kaum Muslimin berusaha mengenali syuhada mereka yang budiman setelah usainya perang Uhud, dan tatkala keluarga Abdullah bin Amr telah mengenali mayatnya, maka isterinya menaikkannya ke atas untanya berikut dengan mayat saudaranya yang juga menemui syahid, dengan maksud akan membawanya ke Madinah untuk dimakamkan di sana. Demikian pula dilakukan oleh sebagian Kaum Muslimin terhadap keluarga­keluarga mereka yang tewas.
Tetapi seorang juru bicara Rasulullah saw. menghubungi mereka dan menyampaikan perintahnya: “ Makamkan oleh kalian para korban di tempat mereka tewas!”
Maka kembalilah mereka dengan membawa syahid masing­-masing, dan Nabi saw. pun berdiri mengawasi pemakaman para shahabatnya yang telah syahid, yang telah memenuhi apa yang mereka janjikan kepada Allah dan mengorbankan nyawa mereka yang berharga demi bakti mereka kepada Allah dan Rasul­Nya.
Dan tatkala datanglah giliran pemakaman Abdullah bin Haram, Rasulullah saw. pun menyerukan: “Kuburkan Abdullah bin Amir ibnul jarah di satu liang. Selagi di dunia mereka adalah dua orang sahabat yang saling sayang menyayangi.
Dan sekarang sementara orang menyiapkan makam keramat untuk menyambut kedua syuhadah yang mulia itu, marilah kita layangkan pandangan kepada syahid yang ke dua yaitu Amr Ibnul Jarah.

Tidak ada komentar: