21 Juni 2011

TENTANG KONFRENSI RAJAB HIZBUT TAHRIR INDONESIA



“ … Karena itu, mengadakan banyak seminar tentang Khilafah bukan jalan untuk mendirikan Daulah Islam. Upaya keras untuk menyatukan negara-negara yang memerintah bangsa-bangsa Islam bukan menjadi sarana menuju terbentuknya Daulah Islam. Demikian pula kesepakatan berbagai konfrensi untuk bangsa-bangsa Islam bukanlah jalan yang dapat merealisir upaya melanjutkan kehidupan Islam. Tegasnya hal tersebut dan yang sejenisnya bukan  merupakan metode, melainkan sekedar hiburan sesaat yang sedikit menyegarkan jiwa kaum Muslim. Kemudian semangat dari berbagai  aktivitas tersebut lambat laun menjadi padam dan akhirnya berdiam diri tidak lagi melakukan aksi apa pun. Lebih dari itu, semuanya adalah jalan yang bertentangan dengan thariqah Islam.”

Kutipan diatas saya ambil dari sebuah buku dengan judul Ad-Daulah Islamiah pada Bab “Bagaimana Mendirikan Daulah Islamiah” halaman 319 yang ditulis oleh Ust. Taqiyudin Al-Nabhani, dimana kita ketahui bersama bahwa beliau adalah tokoh pendiri Hizbut Tahrir yang berkembang ke berbagai Negara bahkan di Indonesia.


Tepatnya hari rabu tanggal 27 Rajab 1431 H bersamaan dengan tanggal 29 Juni 2011 insyaallah akan diselenggarakan konfrensi Rajab yang digagas oleh HTI (hizbut Tahrir Indionesia) yang bertempat di Kota Bandung, dan hingga saat ini berita mengenai acara tersebut telah tersebar ke berbagai pelosok negeri ini bahkan ke beberapa Negara yang terdapat gerakan Hizbut Tahrir di Negara tersebut. Kita mungkin tidak asing lagi tentang jargon yang sering dikumandangkan oleh HTI ini, yakni mengenai ‘Khilafah Islamiah’ yang bisa didefinisikan pula sebagai Negara Islam atau Daulah Islamiah.

Konfrensi ini banyak mendapat sorotan dan cukup menyita perhatian, khususnya para aktivis gerakan dakwah Islam yang ada di Indonesia. Apakah itu pandangan yang positif ataupun selain daripada itu tergantung orang yang memandangnya. Hanya saja, ketika saya membaca buku yang ditulis oleh pendiri harakah ini pada bab ‘Bagaimana Mendirikan Islam’ ada satu paragraph yang cukup menarik dan menimbulkan pertanyaan dibenak saya tentang penafsiran secara terperinci apa yang beliau tuliskan. Mengapa, karena dalam tulisan tersebut secara lahir (pandangan subjektif saya) hal tersebut bertentangan dengan Konfrensi yang akan dilaksanakan oleh HTI pada akhir Juni mendatang.

Pada intinya adalah, tulisan ini bukan sebagai opini atas setuju atau tidak setujunya terhadap penyelenggaraan Konfrensi Rajab, bukan pula sebagai sikap apatis terhadap ‘khilafah Islamiah’ yang menjadi jargon utama syabab di HTI, saya hanya hendak menanyakan atau meminta penjelasan tentang paragraph yang ditulis oleh Ust. Taqiyudin Al-Nabhani dalam bukunya.

So, apakah diantara kawan-kawan sekalian ada yang bisa membantu saya untuk menjelaskan atau ada yang sudah faham tentang buku itu dan kutipan paragraph diatas ??


Wallahu A’lam …

Tidak ada komentar: