10 November 2011

Makalah: Subjek Pendidikan (Tafsir QS. Ar-Rahman: 5-6 dan QS. An-Nahl: 43-44)



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek pendidikan.
Al-Quran sebagai pedoman hidup manusia di dalamnya menyimpan berbagai mutiara yang mahal harganya yang jika dianalisis secara mendalam sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Diantara mutiara tersebut adalah beberapa konsep pendidikan yang terkandung dalam Al-Quran, diantara konsep tersebut adalah konsep awal pendidikan, kewajiban belajar, tujuan pendidikan dan subjek pendidikan.

Keluasan Al-Quran dalam konsep pendidikan tersebut telah mendorong penulis untuk menggali salah satu dari konsep tersebut, untuk itu dalam makalah ini penulis akan mencoba memaparkan sedikit tentang salah satu konsep tersebut, yaitu yang berhubungan dengan subjek pendidikan dengan harapan dapat lebih memahami bagaimana subjek pendidikan menurut Al-Quran.

B.     Tujuan Penulisan
Makalah ini ditulis dengan berdasarkan kepada tujuan-tujuan di bawah ini :
1.      Untuk mengetahui bagaimana konsep subjek pendidikan.
2.      Untuk mengetahui bagaimana tafsir QS. Ar-Rahman ayat 5-6 dan QS. An-Nahl ayat 43-44.
3.      Untuk mengetahui bagaimana konsep subjek pendidikan menurut QS. Ar-Rahman ayat 5-6 dan QS. An-Nahl ayat 43-44.
  

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Subjek pendidikan
Subjek pendidikan sangat berpengaruh sekali terhadap keberhasilan atau gagalnya pendidikan (Langgulung, 1992), disebabkan banyak hal yang melatarbelakangi sipendidik.
Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.
Subjek pendidikan yang dipahami kebanyakan para ahli pendidikan adalah orang tua, guru-guru di institusi formal (disekolah) maupun non formal dan lingkungan masyarakat, sedangkan pendidikan pertama (tarbiyatul awwal) yang kita pahami selama ini adalah rumah tangga (orang tua). Sebagai seorang muslim kita harus menyatakan bahwa pendidik pertama manusia adalah Allah dan yang kedua adalah Rasulullah. Sebagaimana dapat kita lihat dalam surat al-‘Alaq (96) 4-5 (Shihab, 2004 : 65).
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dalam surat al-Baqarah (2): 31
Artinya: Dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"
Dalam Surat al-Rahman, ayat 1-4
Artinya: (Tuhan) yang Maha pemurah, Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.
Untuk mendapatkan keterangan yang jelas tentang subjek pendidikan kita harus melihatnya dari definisi yang ada.
1.      Pengertian pendidik
Secara etimologi pendidik adalah orang yang memberikan bimbingan. Pengertian ini memberi kesan bahwa pendidik adalah orang yang melakukan kegiatan dalam bidang pendidikan. Kata tersebut seperti “teacher” artinya guru yang mengajar dirumah.
Sementara itu bila kita merujuk kepada hasil konferensi internasional Islam I di Mekah tahun 1977, pengertian pendidikan mencakup tiga pengertian sekali gus yakni tarbiyah, ta’lim, ta’dib. Dapat kita ambil pemahaman, pengertian pendidik dalam islam adalah Murabbi, Mu’allim dan Mu’addib.
Pengertian mu’allim mengandung arti konsekuensi bahwa pendidik harus mu’allimun yakni menguasai ilmu, memiliki kreatifitas dan komitmen yang tinggi dalam mengembangkan ilmu.Sedangkan konsep ta’dib mencakup pengertian integrasi antara ilmu dengan amal sekaligus, karena apabila dimensi amal hilang dalam kehidupan seorang pendidik, maka citra dan esensi pendidikan Islam itu akan hilang.
Selanjutnya dalam bahasa Arab dijumpai kata ustaz, Mudarris, Mu’allim, dan mu’addib. Secara keseluruhan kata-kata tersebut terhimpun dalam satu kata pendidik karena semua kata tersebut mengacu kepada seorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman kepada orang lain.
Secara terminologi terdapat beberapa pendapat pakar pendidikan tentang pengertian pendidik, antara lain:
1.      Ahmad D. Marimba mengartikan pendidik sebagai orang yang memikul tanggung jawab untuk mendidik.
2.      Ahmad Tafsir menyatakan bahwa pendidik dalam Islam sama dengan teori di barat yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap peserta didik.
3.      Muri Yusuf, mengemukakan bahwa pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
2.      Pendidik
Orang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua:

a.      orang tua
orang tua disebut pendidik kodrati, karena mereka mempunyai hubungan darah dengan anak. Disebut juga orang yang menjadi pendidik pertama. Sebab secarea alami anak padan masa awal kehidupannya berada ditengah-tengah orang tuanya. Kalau orang tua sudah meninggal maka tugas ini digantikan oleh orang yang bertanggung jawab mendidik anak dalam keluarga, dikenal juga dengan istilah wali.
b.      orang lain seperti Guru, Dosen, Pelatih, Pembimbing, juga masyarakat.
Dalam alQur’an Allah mencontohkan bagaimana nabi9 Isa belajar kepada khaidir. Sebagimana terdapat dalam surat al-Kahfi(18) ayat 66
Artinya: Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?"
Sejalan dengan tuntunan perkembangan manusia, orang tua dalam situasi tertentu atau sehubungan dengan bidang kajian tertentu tidak dapat memenuhi semua kebutuhan pendidikan anaknya. Untuk itu mereka melimpahkan tanggung jawab mereka kepada orang lain yang mereka anggap pantas dan professional. Pelimpahan itu bukan berarti tanggung jawab orang tua dalam pendidikan tidak ada lagi, justru disini orang tua benar-benar harus punya kemampuan dalam menyikapi perkembangan sianak. Dikarenakan banyaknya mereka temui yang akan mempengaruhi perkembangan moral, emosiona, dan kematangan berfikir mereka (anak).
3.      Syarat pendidik
a.       Syarat fisik
Seorang pendidik harus berbadan sehat, tidak memiliki penyakit yang mungkin akan mengganggu pekerjaannya. Seperti penyakit menular.
b.      syarat psikis
seorang pendidik harus sehat jiwanya (rohani)nya, tidak mengalami gangguan jiwa, stabil emosi, sabar, ramah , penyayang, berani atas kebenaran, mempunyai jiwa pengabdian, bertanggung jawab dan memiliki sifat-sifat positif yang lainnya.
c.       syarat keagamaan
seorang pendidik harus seorang yang beragama dan mengamalkan agamanya. Disamping itu dia menjadi figur dalam segala aspek kepribadiannya. Sebagaimana firman Allah dalam surat an-Nahal (16): 43-44
Artinya: Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[Yakni: orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang Nabi dan kitab-kitab] jika kamu tidak mengetahui. Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka[Yakni: perintah-perintah, larangan-larangan, aturan dan lain-lain yang terdapat dalam Al Quran] dan supaya mereka memikirkan.
d.      Syarat teknis
Seorang pendidik harus memiliki ijazah sebagai bukti kelayakan pendidik menjadi seorang guru.
e.       Syarat Pedagogis
Seorang pendidik harus menguasai metode pengajaran, menguasai materi yang akan diajarkan, dan ilmu lain yang mendukung ilmu yang dia ajarkan.
f.       syarat administrative
syarat pendidik harus diangkat oleh pemerintah, yayasan atau lembaga lain yang berwenang mengangkat guru. Sehingga ia diberi tugas untuk mendidik dan mengajar. Dan dia benar-benar mengabdikan dirinya sepenuh hati dalam provesinya sebagai gurun.
Semua ketentuan tentang pendidik di atas, itu hanya terbatas pada kriteria pendidik dalam dunia pendidikan, karena itu cakupannya lebih sempit dan terbatas. Untuk melengkapi kriteria subjek pendidikan dalam arti yang luas, berikut akan kami paparkan Tafsir surat Ar-Rohman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44.

B.     Tafsir Surat Ar-Rahman ayat 5-6 dan An-Nahl 43-44
1.      Tafsir Ar-Rahman ayat 5-6
الشَّمْسُوَالْقَمَرُبِحُسْبَانٍ (5)وَالنَّجْمُوَالشَّجَرُيَسْجُدَانِ (6)
5.      Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan
6.      Dan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan, kedua-duanya tunduk kepada-Nya.
Ayat ini memiliki korelasi yang kuat dengan ayat sebelumnya (1-4).
Artinya: (Tuhan) yang Maha pemurah, Yang telah mengajarkan Al Quran. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara.
Ar-Rahman ayat 1-4 ini menjelaskan tentang bagaimana Allah dalam sifatnya Yang Maha Kasih Sayang telah mengajarkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw. untuk kemudian dijadikan landasan utama bagi kaum muslimin dalam mengarungi kehidupan di dunia. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab Muwaththa :
تَرَكْتُفِيكُمْأَمْرَيْنِلَنْتَضِلُّوامَاتَمَسَّكْتُمْبِهِمَاكِتَابَاللَّهِوَسُنَّةَنَبِيِّهِ
Aku telah meninggalkan 2 perkara untuk kalian, kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yakni kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Nabi-Nya.
Kemudian Allah menciptakan manusia dan mengajarkan bayan kepadanya.  Para ulama beda pendapat dalam menafsirkan kata bayan. Menurut Qotadah, bayan adalah kebaikan dan keburukan, tafsir wajiz menafsirkannya dengan Al-Quran yang di dalamnya mengandung penjelasan tentang segala sesuatu, atau mengajarkan tentang berbicara kepada Adam. menurut Hasan, bayan adalah berbicara. Pendapat ini dianggap kuat oleh Ibnu Katsir dengan alasan bahwa konteks kalimat adalah Allah mengajarkan Al-Quran, maka untuk mempermudah dalam pembelajaran Al-Quran tersebut kemudian Allah mengajarkan berbicara kepada manusia.
Pada ayat kelima, Allah menjelaskan bagaimana matahari dan bulan bisa berjalan dalam porosnya tanpa bertabrakan, semua itu adalah karena adanya perhitungan yang matang, yang didesain oleh Allah swt. Matahari dan bulan ini berjalan sesuai dengan perhitungan yang telah ditentukan, tidak berbeda dan tidak kacau. Melalui perhitungan yang tepat ini, setiap makhluk Allah mengambil manfaat dari matahari dan bulan untuk kepentingan kehidupannya, seperti penentuan tanggal, melakukan fotosintesis, dan lain-lain.
Pada ayat keenam, Allah menjelaskan bahwa tumbuhan dan pepohonan semuanya tunduk dan bersujud kepada Allah swt. semuanya atas petunjuk dan pengaturan dari Allah swt.
2.      Tafsir An-Nahl ayat 43-44
a.         Ayat 43
وَمَاأَرْسَلْنَامِنْقَبْلِكَإِلَّارِجَالًانُوحِيإِلَيْهِمْفَاسْأَلُواأَهْلَالذِّكْرِإِنْكُنْتُمْلَاتَعْلَمُونَ
Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalahkepada orang yang memiliki pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
Ayat ini diturunkan oleh Allah sebagai jawaban kepada orang-orang musyrik Mekah yang mengingkari kepada kenabian Muhammad saw. Mereka berkata : “Allah Maha Agung dari hanya mengutus rasul-Nya seorang manusia, kenapa Allah tidak mengutus kepada kami seorang malaikat ?” Maka Allah menurunkan ayat ini sebagai jawabannya. Ayat ini menegaskan bahwa rasul-rasul sebelum nabi Muhammad pun adalah manusia biasa yang diberi wahyu, jika kalian tidak percaya maka tanyakanlah kepada orang yang memiliki pengetahuan (ahludzikri) apakah rasul mereka manusia atau malaikat ?, jika rasul mereka malaikat maka silahkan kalian untuk inkar, sedang jika rasul mereka adalah manusia maka kalian tidak boleh mengingkari Kerasulan Muhammad saw.
Yang dimaksud dengan ahludzikri pada ayat ini adalah  Ahli kitab-kitab terdahulu, yaitu yahudi dan nasrani.


b.        Ayat 44
بِالْبَيِّنَاتِوَالزُّبُرِوَأَنْزَلْنَاإِلَيْكَالذِّكْرَلِتُبَيِّنَلِلنَّاسِمَانُزِّلَإِلَيْهِمْوَلَعَلَّهُمْيَتَفَكَّرُونَ
(Disertai) Keterangan-keterangan (mu’jizat) dan kitab-kitab. Dan kami turunkan kepadamu Al Quran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah swt. telah mengutus rasul-rasul terdahulu dibarengi dengan dalil-dalil yang jelas atas kenabiannya dan kitab samawi, sedang Allah telah menurunkan kepada Nabi Muhammad saw. Al-Quran agar Nabi Muhammad bisa menjelaskan kepada manusia tentang makna-makna dan hukum-hukum yang masih samar. Selain itu agar manusia bisa mentafakkuri maknanya sehingga mendapat hidayah melalui Al-Quran.

C.    Subjek Pendidikan Menurut QS. Ar-Rahman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa subjek pendidikan adalah yang memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan proses pendidikan. Pada surat Ar-Rahman ayat 1-6 telah jelas dikatakan bahwa yang melakukan proses pengajaran Al-Quran dan bayan adalah Allah swt. maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi subjek pendidikan paling utama adalah Allah swt. Allahlah yang telah mengajarkan kepada manusia bagaimana menangis, berjalan, berbicara sampai manusia bisa menggunakan panca inderanya. Kemudian manusia tumbuh dewasa dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, pada saat itulah secara tidak langsung Allah pun mengajarkan kepada mereka tentang bagaimana cara menggunakan akalnya, begitulah seterusnya sehingga manusia bisa memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.
Pada surat Ar-Rahman ayat 5, secara eksplisit Allah mengajarkan manusia tentang Astronomi. Dimana manusia bisa menggunakan matahari dan bulan sebagai acuan dalam perhitungan tanggal. Penentuan tanggal ini dilandasi oleh adanya peredaran matahari dan bulan yang beredar sesuai perhitungan yang dikehendaki oleh Allah. Peredaran ini sangat teratur dan memungkinkan adanya kehidupan di dunia.
Adapun pada surat Ar-Rahman ayat 6, Allah menjelaskan tentang bagaimana taatnya tumbuh-tumbuhan dan pepohonan kepada perintah Allah swt. Ketaatan mereka kepada Allah merupakan kehendak Allah yang tak bisa ditawar oleh siapapun.
Pada surat An-Nahl ayat 43, Allah menjelaskan bahwa semua rasul Allah itu adalah manusia yang diberi wahyu bukan malaikat. Tugas utama rasul adalah tabligh (menyampaikan) wahyu dari Allah swt. tak peduli apakah tabligh itu diterima oleh kaumnya atau tidak, tugas rasul hanyalah tabligh. Isi dari tabligh adalah menyampaikan berita gembira (basyiiran) dan berita menakutkan (nadziran). Tentu saja dalam proses penyampaian ini ada proses pembelajaran, yaitu suatu proses yang merubah tingkah laku suatu kaum, dari musyrik menjadi tauhid, dari kufur menjadi iman walaupun tidak semuanya berubah. Dengan demikian maka rasul adalah subjek belajar kedua setelah Allah swt.
Masih dalam ayat 43, Allah menegaskan kepada orang-orang kafir jika kalian tidak percaya bahwa rasul adalah manusia, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan (ahladzdzikri) tentang hal tersebut. Melalui ayat ini kita bisa mengetahui bahwa ketika kita tidak menguasai suatu bidang ilmu, maka hendaknya kita bertanya kepada orang yang ahli dalam bidang ilmu tersebut, dengan demikian maka kita akan mendapatkan jawaban yang meyakinkan karena dijawab oleh Ahlinya.
Jika kita tarik ke dalam teori pendidikan, maka proses pembelajaran yang disampaikan oleh Allah ini adalah proses pembelajaran inquiry. Yaitu suatu proses pembelajaran dimana anak didik menemukan masalah dan secara aktif siswa tersebut mencari jawabannya. Dalam ayat ini musyrikin Quraisy merasa tidak yakin akan kerasulan Nabi Muhammad, karena Nabi Muhammad adalah seorang manusia, maka Allah memerintahkan kepada musyrikin Quraisy tersebut untuk mencari jawabannya sendiri kepada orang-orang Ahli Kitab, tentang rasul mereka sebelum Nabi Muhammad, apakah berbentuk manusia atau malaikat. Dengan demikian maka subjek pendidikan pada lanjutan ayat 43 ini adalah musyrikin Quraisy atau dalam konteks pendidikan adalah peserta didik. Adapun ahludzdzikri hanyalah sebagai fasilitator atau sumber belajar saja.
Pada ayat 44, Allah menegaskan bahwa kedatangan para rasul terdahulu itu disertai dengan mukjizat dan kitab-kitab sebagai bukti bahwa mereka adalah orang pilihan yang diutus oleh Allah swt. Dalam konteks pendidikan peristiwa yang terjadi dilingkungan sekitar kita merupakan sumber belajar yang tak ternilai harganya. Jika umat terdahulu dengan melihat langsung terhadap mukjizat para rasul maka mereka semakin yakin akan kerasulannya serta semakin kuat keimanannya kepada Allah, maka untuk umat akhir zaman, dengan memperhatikan alam semesta yang terus berkembang dan mengalami perubahan maka manusia bisa memetik pelajaran dari peristiwa alam tersebut yang jika sumbernya dirunut terus menerus maka pada akhirnya akan kembali kepada sang pencipta Allah swt. Jika pengetahuan ini telah ditemukan maka kemudian didokumentasikan dalam bentuk buku yang bisa dibaca kapan saja oleh generasi selanjutnya. Awal dari ayat ini menegaskan secara tidak langsung bahwa sumber belajar itu adalah bayyinat (mukjizat, peristiwa alam) dan zubur (kitab-kitab, buku).
Pada lanjutan ayat 44, ayat ini menegaskan bahwa Allah swt. menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad sebagai media penjelasan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka. Lanjutan ayat ini sesuai dengan awal ayat, bahwa buku adalah salah satu sumber belajar, hanya saja buku/kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad adalah Al-Quran. Lanjutan ayat ini juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad sebagai rasul merupakan salah satu subjek pendidikan bagi kaumnya, sebagaimana disebutkan di atas bahwa tugas rasul adalah tabligh.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa diantara subjek pendidikan yang terkandung dalam surat Ar-Rahman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44 adalah :
1.      Allah swt. sebagai peletak dasar pendidikan bagi manusia, melalui penciptaan kehendak, panca indera dan akal.
2.      Para Rasul, mereka merupakan subjek belajar kedua setelah Allah swt. Setelah Allah memberikan bekal yang cukup bagi manusia untuk belajar, maka kemudian Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan ajarannya.
3.      Subjek pendidikan ketiga adalah umat manusia itu sendiri, dalam arti atas petunjuk dari Allah dan Rasulnya maka hendaknya manusia bisa menemukan sendiri pengetahuan yang dibutuhkannya.
Jika ditarik ke dalam dunia pendidikan maka rasul adalah sebagai guru yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik umatnya (peserta didik). Pada saat yang sama peserta didik juga sebagai subjek pendidikan yang secara aktif menggali berbagai pengetahuan di bawah bimbingan guru. Ini sangat sesuai dengan teori pendidikan modern yang menjadikan siswa sebagai subjek pendidikan bukan sebagai objek pendidikan.
  
BAB III
KESIMPULAN

Subjek pendidikan adalah orang ataupun kelompok yang bertanggung jawab dalam memberikan pendidikan, sehingga materi yang diajarkan atau yang disampaikan dapat dipahami oleh objek pendidikan.
pendidik adalah individu yang mampu melaksanakan tindakan mendidik dalam situasi pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan.
QS. Ar-Rahman ayat 5-6 merupakan penjelasan Allah tentang hikmah dari penciptaan matahari dan bulan dimana manusia bisa menentukan penanggalan berdasarkan peredaran matahari dan bulan tersebut. Ini merupakan pembelajaran langsung dari Allah untuk manusia melalui alam semesta. Begitu juga tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohon tunduk kepada Allah sebagai bukti akan kekuasaan Allah swt.
QS. An-Nahl ayat 43-44 menjelaskan tentang pembuktian bahwa semua rasul itu manusia, tidak ada alasan tidak menerima kerasulan karena rasulnya manusia. Sebagai bukit kerasulan seseorang Allah memberikan mukjizat dan kitab, begitu juga kepada Nabi Muhammad Allah menurunkan Al-Quran sebagai pegangan hidup manusia.
Subjek pendidikan yang terkandung dalam surat Ar-Rahman ayat 5-6 dan An-Nahl ayat 43-44 adalah :
1.      Allah swt. sebagai peletak dasar pendidikan bagi manusia, melalui penciptaan kehendak, panca indera, akal dan alam semesta sebagai wahana berfikir manusia.
2.      Para Rasul, mereka merupakan sumber belajar kedua setelah Allah swt. Setelah Allah memberikan bekal yang cukup bagi manusia untuk belajar, maka kemudian Allah mengutus para rasul untuk menyampaikan ajarannya.
3.      Subjek pendidikan ketiga adalah umat manusia itu sendiri, dalam arti atas petunjuk dari Allah dan Rasulnya maka hendaknya manusia bisa menemukan sendiri pengetahuan yang dibutuhkannya.
  
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an Terjemah
Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir al-MAraghi. Terj., Semarang: toha Putra
Beberapa guru tafsir dibawah bimbingan Dr. Abdullah bin Muhsin At-Turki, Tafsir Al Muyassir, Percetakan Raja Fahd.
Fida, Abu, Ismail bin Umar bin Katsir Ad Dimisqi, Tafsir Al-Quranil Al Adzim Juz 8, Daru Thoyyibah, 1999 M/ 1420 H
Hamka, Tafsir Al-Azhar, 2006
Hasan Langgulung, Asas-Asas Pendidikan Aslam,Jakarta: Pustaka al-Husna, 1992
Quraish shihab, Tafsir Al-Misbah. Jakarta: Lentera Hati, 2004

Tidak ada komentar: