16 Februari 2012

UBADAH BIN SHAMIT

‘Tokoh yang Gigih Menentang Penyelewengan’

Ubadah bin Shamit termasuk salah seorang tokoh Anshar. Mengenai Kaum Anshar, Rasulullah saw. pernah bersabda:
“Sekiranya orang-orang Anshar menuruni lembah atau celah bukit pasti aku akan mendatangi lembah dan celahbukit orang-orang Anshar, dan kalau bukanlah karena hijrah, tentulah aku akan menjadi salah seorang warga Anshar.
Dan di samping ia seorang warga Kaum Anshar, Ubadah bin Shamit merupakan salah seorang pemimpin mereka yang dipilih Nabi saw. sebagai utusan yang mewakili keluarga dan kaum kerabat mereka.

Ubadah r.a. termasuk perutusan Anshar yang pertama datang ke Mekah untuk mengangkat bai’at kepada Rasulullah saw, untuk masuk Islam, yakni bai’at yang terkenal sebagai “baiatul ‘Aqabah pertama”. la termasuk salah seorang dari 12 orang beriman yang segera menyatakan keislaman dan meng­angkat bai’at, serta menjabat tangannya, menyatakan sokongan dan kesetiaan kepada Rasulullah saw.
Dan ketika datang musim haji tahun berikutnya, yakni saat terjadinya “Bai’atul ‘Aqabah kedua” yang dilakukan oleh per­utusan Anshar Anshar terdiri dari 70 orang beriman -pria dan wanita-  maka ‘Ubadah menjadi tokoh perutusan dan wakil orang-orang Anshar itu.
Kemudian, ketika peristiwa berturut-turut silih berganti, saat-saat perjuangan, kebaktian dan pengorbanan susul-menyusul tiada henti, maka ‘Ubadah tak pernah absen dari setiap peristiwa, dan tak ketinggalan dalam memberikan sahamnya.
Semenjak ia menyatakan, Allah dan Rasul sebagai pilihan.. nya, maka dipikulnya segala tanggung jawab akibat pilihannya itu dengan sebaik-baiknya.
Segala cinta kasih dan kethaatannya hanya tertumpah kepada Allah, dan segala hubungan baik dengan kaum kerabat, dengan sekutu-sekutu maupun dengan musuh-musuhnya, hanya sesuai dan menuruti pola yang dibentuk oleh keimanan dan norma-norma yang dikehendaki oleh keimanan ini.
Semenjak dulu, keluarga ‘Ubadah telah terikat dalam suatu perjanjian dengan orang-orang yahudi suku qainuqa’di Madinah. Ketika Rasulullah saw. bersama para shahabatnya hijrah ke kota ini, orang-orang yahudi memperlihatkan sikap damai dan persahabatan terhadapnya.
Tetapi pada hari-hari yang mengiringi perang Badar dan mendahului perang Uhud, orang-orang yahudi di Madinah mulai menampakkan belangnya. Salah satu qabilah mereka yaitu Bani Qainuqa’ membuat ulah untuk menimbulkan fitnah dan keribut­an di kalangan Kaum Muslimin.
Demi dilihat oleh ‘Ubadah sikap dan pendirian mereka ini, secepatnya ia melakukan tindakan yang setimpal dengan jalan membatalkan perjanjian dengan mereka, katanya:
“Saya hanya akan mengikuti pimpinan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman
Dan tidak lama antaranya turunlah ayat al-Quran memuji sikap, dan kesetiaannya ini; firman Allah swt.: “Dan barangsiapa yang menjadikan Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sungguh, partai atau golongan Allahlah yang beroleh kemenangan ...” (Q.S. al-Maidah [5]:56)
Ayat Quran yang mulia telah mema’lumkan berdirinya partai Allah. Dan partai itu ialah golongan orang-orang beriman yang berdiri sekeliling Rasulullah saw. Mereka membawa bendera kebenaran dan petunjuk, merupakan lanjutan yang penuh barkah dari orang-orang beriman yang telah mendahului mereka dalam gelanggang sejarah. Mereka sigap berdiri sekeliling Nabi-nabi dan Rasul-rasul siap mengemban tugas yang sama, yakni menyampaikan di masa dan di zaman mereka masing-­masing Kalimat Allah yang Maha Hidup lagi Maha Pengatur.
Dan kali ini hizbullah atau partai Allah itu tidak hanya terbatas pada para shahabat Muhammad saw. belaka. Tugas ini akan berkelanjutan sampai generasi-generasi dan masa-masa mendatang, hingga bumi dan tiap penduduknya diwarisi oleh orang-orang yang iman kepada Allah dan Rasul-Nya serta ter­gabung di dalam barisan-Nya.
Demikianlah, tokoh di mana ayat yang mulia sengaja diturun­kan untuk menyambut baik pendiriannya serta memuji kesetiaan dan keimanannya, bukan hanya menjadi juru bicara tokoh-tokoh Anshar di Madinah semata, tetapi tampil sebagai seorang juru bicara para tokoh Agama yang akan meliputi seluruh pelosok dunia.
Sungguh, ‘Ubadah bin Shamit yang mulanya hanya menjadi wakil kaum keluarganya dari suku Khazraj, sekarang meningkat menjadi salah seorang pelopor Islam, dan salah seorang pemimpin Kaum Muslimin. Namanya tak ubah bagai bendera yang berkibar di sebagian besar penjuru bumi, bukan hanya untuk satu atau dua generasi belaka, tetapi akan berkepanjangan bagi setiap generasi dan seluruh masa yang dikehendaki Allah Ta’ala.
Pada suatu hari Rasulullah saw. menjelaskan tanggung jawab seorang amir atau wali. Didengarnya Rasulullah menyatakan nasib yang akan menimpa orang-orang yang melalaikan kewajiban di antara mereka atau memperkaya dirinya dengan harta, maka tubuhnya gemetar dan hatinya berguncang. la bersumpah kepada Allah tidak akan menjadi kepada walau atas dua orang sekalipun.
Dan sumpahnya ini dipenuhi sebaik-baiknya dan tak pernah dilanggarnya.
Di masa pemerintahan Amirul Mu’minin Umar r.a., tokoh yang bergelar al-Faruq ini pun tidak berhasil mendorongnya untuk menerima suatu jabatan, kecuali dalam mengajar ummat dan memperdalam pengetahuan mereka dalam soal Agama.
Memang, inilah satu-satunya usaha yang lebih diutamakan ‘Ubadah dari lainnya, menjauhkan dirinya dari usaha-usaha lain yang ada sangkut-pautnya dengan harta benda dan kemewahan serta kekuasaan, begitu pun dari segala marabahaya yang di­khawatirkan akan merusak Agama dan karir dirinya.
Oleh sebab itu ia berangkat ke Syria dan merupakan salah seorang dari tiga sekawan: ia sendiri, Mu’adz bin Jabal dan Abu Darda, menyebarluaskan ilmu, pengertian dan cahaya bimbingan di negeri itu.
‘Ubadah juga pernah berada di Palestina untuk beberapa waktu dalam melaksanakan tugas sucinya, sedang yang men­jalankan pemerintahan ketika itu atas nama khalifah adalah Mu’awiyah.
Sementara ‘Ubadah bermukim di Syria, walaupun badannya terkurung di sana, tapi pandangan matanya bebas lepas dan merenung jauh, nun ke sana melewati tapal betas, yaitu ke Madinah al-Munawwarah. Di saat itu Madinah sebagai ibu kota Islam dan tempat kedudukan khalifah, yakni Umar bin Khatthab, seorang tokoh yang tak ada duanya dan tamsil bandingan.
Kemudian pandangannya kembali ke bawah pelupuk mata­nya, yakni ke Palestine tempat ia bermukim. Tampaklah olehnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan, seorang pecinta dunia dan haws kekuasaan.
Sedangkan ‘Ubadah sebagai kita ma’lumi termasuk rombongan perintis yang telah menjalani sebagian besar dari hari-hari terbaiknya, saat terpenting dan paling berkesan bersama Rasul mulia. Rombongan pelopor yang bergelimang dalam kancah perjuangan dan ditempa oleh pengurbanan. La menganut Islam karena kemauan pribadi dan bukan karena menjaga ke­selamatan diri, pendeknya yang telah menjual harta benda dan dirinya kepada Ilahi Rabbi.
‘Ubadah termasuk rombongan perintis yang telah dididik oleh Muhammad saw, dengan tangannya sendiri, yang telah beroleh limpahan mental, cahaya dan kebesarannya.
Dan seandainya di kalangan orang-orang yang masih hidup ada yang dapat ditonjolkan untuk percontohan luhur sebagai kepada pemerintahan yang dikagumi oleh ‘Ubadah dan diper­cayainya, maka orang itu tidak lain tokoh terkemuka yang sedang berkuasa di Madinah, ialah Umar bin Khatthab.
Maka sekiranya ‘Ubadah melanjutkan renungannya dan  membanding-bandingkan tindak-tanduk Mu’awiyah dengan apa yang dilakukan oleh khalifah, jurang pemisah di antara keduanya menganga lebar, dan sebagai akibatnya akan terjadilah bentrok­an dan memang telah terjadi.
Berkata ‘Ubadah bin Shamit r.a.:
“Kami telah bai’at kepada Rasulullah saw. tidak takut akan ancaman siapa pun dalam mentaati Allah” Dan ‘Ubadah adalah seorang yang paling teguh memenuhi bai’at. Dan jika demikian, maka ia tidak akan takut kepada Mu’awiyah ,dengan segala kekuasaannya, dan ia akan tegak mengawasi segala kesalahannya. Sungguh, waktu itu penduduk Palestine menyaksikan peris­tiwa luar biasa, dan tersiarlah berita ke sebagian besar negeri Islam perlawanan berani yang dilancarkan ‘Ubadah erhadap Mu’awiyah, hingga menjadi contoh teladan bagi mereka.
Dan bagaimana pun juga terkenalnya Mu’awiyah sebagai orang yang gigih dan ulet, tetapi sikap dan pendirian ‘Ubadah  tidak urung menyebabkannya sesak nafas. Hal itu dipandang­nya sebagai ancaman langsung terhadap wibawa dan kekuasaan­nya.
Dan di pihak ‘Ubadah, dilihatnya jarak pemisah di antaranya dengan Mu’awiyah kian sertambah lebar, akhirnya berkata kepada Mu’awiyah: “Demi Allah, saya tak hendak tinggal sekediaman denganmu untuk selama-lamanya!” Lalu ditinggalkannya Palestine dan berangkat ke Madinah.
Amirul Mu’minin Umar adalah seorang yang memiliki ke­cerdasan tinggi dan pandangan jauh. Ia selalu menginginkan kepala-kepala daerah tidak hanya mengandalkan kecerdasannya semata dan menggunakannya tanpa reserve. Maka terhadap orang seperti Mu’awiyah dan kawan-kawannya, tidak dibiarkan begitu saja tanpa didampingi sejumlah shahabat yang zuhud dan shalih, Serta penasihat yang tulus ikhlas. Mereka bertugas membendung keinginan-keinginan yang tidak terbatas, dan selalu mengingatkan mereka akan hari-hari dan masa Rasulullah saw.
Oleh sebab itu demi dilihat oleh Amirul Mu’minin bahwa ‘Ubadah telah berada di kota Madinah, ditanyalah: “Apa yang menyebabkan anda ke sini, wahai ‘Ubadah ?” Dan tatkala diceritakan ‘Ubadah peristiwa yang terjadi antaranya dengan Mu’awiyah, maka kata Umar: “Kembalilah segera ke tempat anda! Amat jelek sekali jadinya suatu negeri yang tidak punya orang seperti anda”. Lalu kepada Mu’awiyah dikirim pula Surat yang di antara isinya terdapat kalimat:
“Tak ada wewenangmu sebagai amir terhadap ‘Ubadah”.
Memang, ‘Ubadah menjadi amir bagi dirinya. Dan jika Umar al-Faruq sendiri telah memberikan penghormatan kepada seseorang setinggi ini, tak dapat tiada tentulah dia seorang besar      ! Dan sungguh, ‘Ubadah adalah seorang besar, baik karena keimanan, maupun karena keteguhan hati dan lurus jalan hidupnya!
Dan pada tahun 34 Hijriah, wafatlah is di Ramla di bumi Palestine; wakil ulung di antara wakil-wakil Anshar khususnya dan Agama Islam pada umumnya, dengan meninggalkan teladan yang tinggi dalam arena kehidupan.
Semoga Allah memberi kita kemampuan mencontoh amal bakti para Assabiqunal-awwalun dan dapat melaksanakannya dalam diri pribadi sendiri sehingga kita menjadi syuhada’a ‘alan naas.

Tidak ada komentar: