14 Februari 2012

UTBAH BIN GHAZWAN

“Esok Lusa Akan Kalian Lihat Pejabat-Pejabat Pemerintahan yang Lain Daripadaku”

Di antara Muslimin yang lebih dulu masuk Islam, dan di antara muhajirin pertama yang hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah, dan di antara pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya yang telah berjasa besar di jalan Allah, terdapat seorang laki-laki yang berperawakan tinggi dengan muka ber­cahaya dan rendah hati, namanya Utbah bin Ghazwan.
la adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh perintis yang bai’at berjanji setia, dengan menjabat tangan kanan Rasulullah dengan tangan kanan mereka, bersedia menghadapi orang-orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan dan kekuasaan serta gemar menuruti nafsu angkara.

Pada hari-hari pertama dimulainya da’wah dan pada hari-hari penderitaan dan kesukaran, Utbah bersama kawan­-kawannya telah memegang teguh suatu prinsip hidup yang mulia, yang kelak kemudian menjadi bekal dan makanan bagi hati nurani manusia dan akan berkembang menjadi luas melalui perkembangan masa.
Sewaktu Rasulullah, saw. menyuruh shahabat-shahabatnya berhijrah ke Habsyi, termasuklah Utbah di antara orang muha­jirin itu. Tetapi kerinduannya kepada Nabi saw. tidak membiarkannya menetap di sana, segeralah ia menjelajah daratan dan mengarungi lautan kembali ke Mekah, lalu tinggal di sana di samping Rasul hingga datang saatnya hijrah ‘ke Madinah, maka Utbah pun hijrahlah bersama Kau*m Muslimin lainnya.
Dan semenjak orang-orang Quraisy melakukan gangguannya dan melancarkan peperangan, Utbah selalu membawa panah dan tombaknya. Ia melemparkan tombaknya dengan ketepatan yang luar biasa, dan bersama-sama kawan-kawannya orang­orang Mu’minin lainnya digunakannya panah untuk menghancur­kan alam hidup dan berfikir usang dengan segala berhala dan kebohongannya.
Di waktu Rasul yang mulia wafat menemui Tuhannya Yang Maha Tinggi ia belum lagi hendak meletakkan senjatanya bahkan selalu berkelana berperang di muka bumi. Dan ketika berhadapan dengan tentara Persi ia melakukan perjuangan yang tak ada taranya.
Amirul Mu’minin Umar mengirimkannya ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu dan membersihkan buminya dari orang­orang Persi yang menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam yang sedang maju melintas wilayah-wilayah kerajaan Persi serta untuk membebaskan negeri Allah dan hamba-Nya dari cengkraman penjajahan mereka. Dan berkatalah Umar kepadanya sewaktu melepaskan bersama tentaranya:
“Berjalanlah anda bersama anak buah anda, hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab, dan batas terdekat negeri Persi.
Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya !
Serulah ke jalan Allah siapa yang mau dan bersedia !
Dan siapa yang menolak hendaklah ia membayar pajak
Dan bagi setiap penantang, maka pedang bagiannya, tanpa pilih bulu …
Tabahlah menghadapi musuh serta taqwalah kepada Allah Tuhanmu … !”
Pergilah Utbah memimpin pasukannya yang tidak seberapa besar itu hingga sampai ke Ubullah ! Ketika itu orang-orang Persi telah menyiapkan bala tentara mereka yang terkuat. Utbah pun menyusun kekuatannya dan berdiri di muka pasukannya sambil membawa tombak di tangannya yang belum pernah meleset dari sasarannya semenjak ia berkenalan dengan tombak. Ia berseru di tengah-tengah tentaranya: — “Allahu Akhbar, sha­daqa wadah “, artinya “Allah Maha Besar, la menepati janjiNya.
Dan seolah-olah ia dapat membaca apa yang akan terjadi, karena tak lama setelah terjadi pertempuran kecil-kecilan, Ubul­lah pun menyerahlah dan daerahnya dibersihkan dari tentara Persi, dan penduduknya terbebas dari kekejaman selama ini, yang mereka rasakan tak ubah dengan mereka … dan benarlah Allah yang Maha Besar itu telah menepati janji-Nya … !
Di tempat berdirinya Ubullah itu, Utbah membangun kota Basrah dengan dilengkapi sarana perkotaan termasuk sebuah mesjid besar. Dan sekarang ia bermaksud meninggalkan negeri itu dan kembali ke Madinah, menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, tapi Amirul Mu’minin Umar keberatan dan menyuruhnya tetap di sana.
Utbah pun memenuhi keinginan khalifah, membimbing rakyat melaksanakan shalat,’ memberi pengertian dalam soal Agama, menegakkan hukum dengan adil, serta memberi contoh teladan yang sangat mengagumkan tentang kezuhudan, wara dan kesederhanaan ….
Dengan tekun dikikisnya kemewahan dan sikap berlebih­-lebihan sekuat dayanya, sehingga menjengkelkan mereka yang dipengaruhi oleh ni’mat kesenangan dan hawa nafsu. Pada suatu hari Utbah pun berdiri berpidato di tengah-tengah mereka, katanya:  ”Demi Allah, sesungguhnya telah kalian lihat aku bersama Rasulullah saw. sebagai salah seorang kelom­pok tujuh, yang tak punya makanan kecuali daun-daun kayu, sehingga bagian dalam mulut kami pecah-pecah dan luka-luka! Di suatu hari aku beroleh rizqi sehelai baju burdah, lalu kubelah dua, yang sebelah kuberikan kepadaSa’ad bin Malik dan sebelah lagi kupakai untuk diriku.
Utbah sangat menakuti dunia yang akan merusak Agamanya. Dan dia menakuti hal yang serupa terhadap Kaum Muslimin. Karena itu ia selalu membimbing mereka atas kesederhanaan dan hidup bersahaja. Banyak orang yang mencoba hendak merubah pendiriannya dan membangkitkan dalam jiwanya kesadaran sebagai penguasa, Serta hak-haknya sebagai seorang penguasa, terutama di negeri-negeri yang raja-rajanya belum terbiasa dengan zuhud dan hidup sederhana sementara penduduknya menghargai tanda-tanda lahiriah yang berlebihan dan gemerlapan. Ter­hadap hal-hal ini Utbah menjawabnya dengan katanya:  ”Aku berlindung diri kepada Allah dari sanjungan orang terhadap diriku karena kemewahan dunia, tetapi kecil pada sisi Allah. .. !”
Dan tatkala dilihatnya rasa keberatan pada wajah-wajah orang banyak karena sikap kerasnya membawa mereka kepada kewajaran dan hidup sederhana, berkatalah ia kepada mereka:  ”Besok lusa akan kalian lihat pimpinan pemerintahan dipegang orang lain menggantikan daku … !”
Dan datanglah musim haji, diwakilkannya pemerintahan Basrah kepada salah seorang temannya, dan ia pun pergilah menunaikan ibadah haji. Sewaktu ia telah selesai menunaikan ibadahnya berangkatlah ia ke Madinah. Di sana ia memohon kepada Amirul Mu’minin agar diperkenankan mengundurkan diri dari pemerintahan.
Tetapi Umar tiada hendak menyia-nyiakan corak kepribadian dari orang-orang zuhud seperti ini yang menjauhkan diri dari barang yang amat didambakan dan menjadi incaran orang-orang lain. Pernah beliau berkata kepada mereka: “Apakah kalian hendak menaruh amanat di atas pundakku. Kemudian kalian tinggalkan aku memikulnya seorang diri ? Tidak, demi Allah tidak kuidzinkan untuk selama-lamanya.
Dan demikianlah pula yang diucapkannya kepada Utbah bin Ghazwan. Dan karenanya mau tak mau Utbah harus patuh dan taat, maka ia pergi menuju kendaraannya, hendak menungganginya kembali ke Basrah.
Tetapi sebelum naik ke atas kendaraan itu, ia menghadap ke arah kiblat, lalu mengangkat kedua telapak tangannya yang lemah lunglai itu ke langit sambil, memohon kepada Tuhannya azza wajalla, agar ia tidak dikembalikan-Nya ke Basrah dan tidak pula kepada pimpinan pemerintahan untuk selama-lamanya. Dan doanya pun diperkenankan Tuhannya. Selagi ia dalam perjalanan ke wilayah pernerintahannya, maut dating menjemputnya. Ruhnya naik ke pangkuan Penciptanya, bersukacita dengan pengurbanan dan darma baktinya, kezuhudan dan kesahajaannya. Begitupun karena nikmat yang telah di sempurnakan-Nya dan oleh karena pahala yang telah disediakan untuk dirinya.

Tidak ada komentar: