29 April 2011

SETITIK JADIKAN LAUTAN



…Nan setitiak jadikan lawuik
Nan sekapa jadikan gunuang…
Yang setitik jadikan lautan
Yang sekepal jadikan gunung

Siang itu disebuah taman kanak-kanak. Ibu guru meminta anak-anak untuk menggambar bebas. Ada yang menggambar pemandangan. Ada gunung dan sawah. Ada sungai dan pantai. Ada hutan dan taman. Ada yang menggambar suasana. Bibi berbelanja ke pasar dengan bersepeda. Nenek menyulam dan kakek membaca Koran. Dan beberapa gambar lain yang ‘biasa-biasa’ saja.

Seorang anak lelaki dikelas itu agak lain. Dia penuhi kertas gambarnya yang berukuran A3 dengan sapuan crayon berwarna hitam. Hanya hitam. Hitam seluruhnya, sepenuhnya. Gurunya tercenung. Tapi Bu Guru tak sempat bertanya karena sebentar kemudian waktu pulang tiba. Sambil menepukan tangan didepan dada Bu Guru berkata, “Gambarnya diselesaikan di rumah ya anak-anak. Minggu depan dikumpulkan.”

Tak dinyana, dirumahnya pun anak ini meneruskan keanehannya. Berlembar-lembar kertas A3 dipenuhinya dengan sapuan warna hitam hingga berkali-kali sang ibu harus ke took alat tulis untuk membelikannya satu set crayon. Dan ia hanya memakai crayon berwarna hitam. Hari demi hari, setiap ada kesempatan dan waktu, anak ini selalu menambah karya gelapnya. Di rumah. Juga di sekolah. Tumpukan kertas gambar yang telah dikerjakannya membuat sang ayah geleng-geleng kepala. Sang Ibu cemas. Dan mereka pun mengontak sekolah, hingga menyepakati satu kata : Psikiater! Anak mereka akan ditangani sekelompok psikiater anak kenamaan.


Para psikiater itu berhasil membujuk sang anak untuk melanjutkan gambar hitamnya di laboratorium pengamatan mereka. Dan si anak terus bekerja seperti kerasukan tanpa mempedulikan tempat dan waktu. Pengamatan para ahli selama berjam-jam tak menghasilkan analisis dan diagnosis apapun. Sampai akhirnya si anak tersenyum dan berkata, “Aah …” dia telah menyelesaikan sejumlah 400 gambar diatas kertas A3. Dan ternyata, ada beberapa tak hitam seluruhnya.

Ia mulai member instruksi kepada para psikiater untuk menata ke-400 kertas itu dilantai. Oh, ternyata ini adalah puzzle. Ukurannya 20x20 kertas A3. Dan hasilnya? Menakjubkan!! Gambar seekor anak paus bongkok tepat sesuai ukuran hewan aslinya.

Si anak terkekeh bangga melihat hasil karyanya. Dan para psikiater kita takjub dan geleng-geleng kepala. Tak seperti yang lain, anak ini ingin agar gambar anak paus bongkoknya sesuai ukuran ‘aslinya’. Ia berpikir besar. Awalnya dia tak difahami, dianggap aneh, bahkan harus diserahkan kepada para psikiater. Tapi akhirnya, semua orang takjub padanya.

Mungkin begitulah resiko berpikir besar, disalahfahami. Lalu dikagumi.

1 komentar:

H. Andi Dermawan mengatakan...

brow.. banyak pop-upnya neyh blog antum, jadi gak enak buka2 artikel